[Pikir]  Pandemi Covid-19 dan Makna Kemerdekaan

[Pikir] Pandemi Covid-19 dan Makna Kemerdekaan

Any Sulistyowati & David Ardes Setiady

 

Pandemi dan Hari Kemerdekaan

Pada bulan Juni sampai Agustus 2021, Indonesia mengalami lonjakan kasus Covid-19 yang cukup tinggi. Hingga akhir Agustus 2021, telah lebih dari 4 juta orang terinfeksi dan lebih dari seratus tiga puluh ribu orang meninggal dunia. Beberapa di antara mereka mungkin kenalan Anda, kerabat Anda, dan mungkin Anda sendiri. Di dalam penderitaan karena terinfeksi Covid-19, ataupun karena kehilangan orang-orang yang dicintai, atau bahkan kombinasi keduanya, kami mengharapkan semoga Anda sekalian tetap dapat bersyukur atas rahmat kehidupan ini. Semoga yang terinfeksi diberi kesembuhan dan mereka yang telah berpulang kepada Yang Maha Kuasa beristirahat dalam damai menyatu bersama Sang Sumber Kehidupan.

 

Di bulan Agustus ini, Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan yang ke 76. Biasanya hari tersebut dirayakan dengan meriah dengan berbagai upacara, pawai, perlombaan untuk anak-anak dan berbagai kegiatan menarik dan meriah sesuai dengan kreativitas masing-masing. Pada tahun 2021 ini, hari kemerdekaan tersebut dirayakan dengan jauh lebih sederhana dari biasanya dan disesuaikan dengan protokol kesehatan. Upacara bendera kita ikuti secara online (lagi). Meskipun diperingati secara berbeda, semoga tidak mengurangi makna dari kemerdekaan tersebut.

 

Peristiwa pandemi Covid-19 dan dampaknya bagi masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan yang sejati belumlah sepenuhnya dapat dicapai. Pandemi Covid-19 merupakan “gunung es” dari persoalan-persoalan yang membelenggu kita sebagai pribadi, masyarakat, bangsa dan sebagai bagian dari umat manusia. Berikut ini adalah deskripsi singkat dari belenggu-belenggu tersebut dan apa saja pilihan-pilihan kita dalam menyikapinya.

 

Belenggu 1: Pola hidup eksploitatif terhadap alam

Sejak revolusi industri, umat manusia mengalami lompatan kemajuan dalam sistem produksi dan konsumsi. Banyak barang yang sebelumnya tidak ada diciptakan untuk membuat kehidupan kita menjadi lebih mudah dan nyaman. Masalahnya kemudahan dan kenyamanan tersebut dibuat dengan cara mengeksploitasi alam. Sumber-sumber alam diambil dari perut bumi menghasilkan beberapa dampak yang tidak diinginkan seperti perubahan bentang alam, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi udara, air dan tanah, emisi karbon yang berujung pada pemanasan global dan marjinalisasi kelompok-kelompok masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, perkebunan, tambang, pabrik-pabrik yang dibangun. Untuk meningkatkan produksi pangan, kita juga memasukkan bahan-bahan kimia ke dalam tanah dan menyemprotkan racun kepada makhluk-makhluk yang kita sebut sebagai hama dan gulma. Singkat kata, untuk mengejar kenikmatan hidup manusia, manusia telah melakukan perubahan-perubahan besar di alam.

 

Yang tidak disadari oleh manusia adalah bahwa alam bekerja dengan hukum-hukumnya sendiri. Salah satu kenyataan mendasar yang mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, adalah bahwa manusia bagian dari alam. Di dalam alam, manusia hanyalah satu elemen yang sangat kecil di dalam semesta alam yang luas tak terbatas. Di dalam sistem alam tersebut terdapat hubungan-hubungan yang kompleks dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk berbagai siklus kehidupan, seperti siklus materi dan energi. Disadari maupun tidak, manusia merupakan bagian dari siklus-siklus kehidupan tersebut. Di dalam hubungan yang kompleks tersebut, apapun yang dilakukan oleh dan terhadap satu elemennya, akan mempengaruhi yang lain.

 

Demikianlah, apa yang dilakukan manusia menghasilkan dampak-dampak yang akhirnya merusak kehidupan manusia sendiri dalam jangka panjang, bahkan dalam skala planet. Pandemi Covid 19 dan perubahan iklim adalah beberapa contoh yang sudah terjadi di depan mata. Sebelum krisis terjadi, manusia masih memiliki banyak kesempatan untuk secara sadar memilih pola hidup yang selaras alam. Tetapi, ketika krisis telah terjadi apalagi dalam skala yang lebih parah, maka semakin sempitlah pilihan-pilihan tersebut dan bahkan ada saatnya ketika sampai pada tahap gawat darurat, maka tidak ada jalan lain bagi manusia, selain beradaptasi. Masalahnya, di dalam upaya-upaya adaptasi tersebut, seringkali langkah-langkah yang diambil malah berpotensi memperburuk masalah yang sudah ada. Ambillah contoh kasus pandemi Covid-19 ini. Berapa banyak sampah medis dan sampah plastik yang dihasilkan dari upaya perlindungan diri umat manusia? Bagaimana sampah-sampah tersebut akan dikelola dan bagaimana dampaknya bagi umat manusia di masa depan masih menjadi pertanyaan.

 

Persoalan-persoalan yang dijelaskan di atas menunjukkan bahwa manusia masih terpenjara pada pola hidup yang tidak selaras alam. Manusia masih terpenjara dalam hubungan yang eksploitatif terhadap alam. Alam dipandang hanya sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan manusia. Konsekuensinya adalah kehancuran masa depan manusia sendiri dalam jangka panjang. Untuk mengubahnya, diperlukan perubahan cara pandang manusia terhadap alam dan kesadaran akan posisi uniknya di dalam alam semesta. Kesadaran ini akan membantu manusia untuk merumuskan ulang hubungannya dengan alam dan bagaimana manusia dan alam dapat saling bekerja sama untuk membangun keseimbangan sistem kehidupan.

 

1-7
Mengajak anak-anak berkegiatan di alam merupakan salah satu upaya membangun kembali hubungan manusia dengan alam (Sumber: Dokumentasi kegiatan Hari Belajar Anak – KAIL)

 

Belenggu 2: Pola hidup eksploitatif terhadap sesama

Pandemi Covid-19 dan juga berbagai krisis yang terjadi dalam skala luas memberikan dampak yang berbeda bagi berbagai kelompok manusia. Sebagai contoh, dalam skala negara. Kita bisa melihat bagaimana negara-negara merespons pandemi dengan cara yang berbeda-beda. Kita bisa melihat bagaimana pertarungan kepentingan terjadi dan turut mempengaruhi pengambilan kebijakan dan perilaku masyarakat terhadap pandemi. Kita juga melihat bagaimana perbedaan cara pandang dan keberpihakan mempengaruhi kebijakan yang diambil.

 

Krisis yang sama, badai yang sama dihadapi oleh kapal-kapal yang berbeda. Mereka yang kaya raya, yang memiliki tabungan yang cukup untuk bertahan hidup sampai beberapa generasi, tentu mengalami dampak ekonomi yang berbeda dengan mereka yang mengandalkan penghasilan dari upah kerja harian, yang pendapatan hari ini hanya cukup untuk makan hari ini. Orang-orang tua dan anak-anak memiliki kerentanan yang berbeda dibandingkan mereka yang berada di kelompok usia angkatan kerja. Para perempuan dan laki-laki harus menghadapi krisis secara berbeda dan beban yang mereka hadapi dipengaruhi oleh konstruksi gender yang berlaku.

 

Kesenjangan ekonomi hanyalah satu dari sekian banyak dimensi kesenjangan yang ada saat ini. Ada berbagai bentuk kesenjangan dan diferensiasi di dalam kehidupan. Selain karena kesenjangan ekonomi, krisis dialami secara berbeda oleh ras, etnis, suku, kasta, budaya, agama dan gender yang berbeda. Perbedaan-perbedaan yang seharusnya bukan masalah, menjadi sumber masalah karena manusia melakukan pembedaan-pembedaan sistematis terkait perbedaan-perbedaan tersebut. Di luar krisis yang sebenarnya harus dihadapi bersama sebagai umat manusia, di dalam kelompok manusia sendiri terjadi konflik, pertentangan dan penindasan yang laten, yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.

 

Kesenjangan sosial yang parah menunjukkan bahwa kita masih terpenjara dalam sistem ekonomi, sosial dan politik yang tidak adil. Sistem ini menyebabkan ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang diuntungkan dari sistem, sementara sebagian besar lainnya mengalami kesulitan dan penderitaan. Perlu upaya-upaya yang sangat besar untuk membangun sistem baru yang lebih adil dan memastikan kelompok-kelompok marjinal tidak menjadi korban dari sistem yang baru yang dibangun.

 

2-3
We are all not in the same boat. We are all in the same storm. (Sumber: Ilustrasi yang dibuat oleh Barbara Kelley, lulusan Pratt Institute di New York yang ditayangkan dalam website milik Damian Barr, seorang kolumnis dan penulis “You Will Be Safe Here”. Diakses 31 Agustus 2021 dari https://www.damianbarr.com/latest/https/we-are-not-all-in-the-same-boat)

 

Belenggu 3: Trauma masa lalu secara pribadi dan kolektif

Persoalan-persoalan yang disebutkan di atas meninggalkan banyak trauma, baik dalam skala perorangan, komunitas, bangsa dan sebagai umat manusia. Trauma ini bahkan terjadi lintas generasi dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Trauma yang saya alami dan sikap saya sekarang turut dibentuk oleh sejarah hidup saya. Sejarah hidup saya dipengaruhi oleh sejarah orang-orang terdekat dalam hidup saya. Mungkin orang tua, keluarga besar, teman-teman sepermainan, sekolah, komunitas. Hidup saya juga dibentuk oleh negara melalui berbagai aturan yang diterapkannya. Hidup saya juga dipengaruhi oleh pasar, yang semakin hari semakin mengglobal dan dengan agresif membentuk apa yang seharusnya saya konsumsi dan mengaitkannya dengan status, identitas dan konsepsi ideal yang perlu kita adopsi sebagai manusia ideal.

 

Membebaskan diri dari trauma bukan pekerjaan ringan. Pertama-tama kita perlu menyadari adanya trauma tersebut. Kedua, kita perlu memiliki keberanian dalam mengambil keputusan untuk membebaskan diri dari trauma tersebut. Ketiga, kita perlu memiliki determinasi yang kuat untuk membangun kehidupan baru di luar logika konstruksi yang dihasilkan dari trauma tersebut. Keempat, kita perlu punya kekuatan untuk menjadi manusia yang berbeda dari sebelumnya dan siap berhadapan dengan masyarakat umum yang memandang perubahan tersebut sebagai sesuatu yang buruk dan bahkan mengancam kemapanan hidup mereka. Masalahnya trauma-trauma tersebut cenderung melemahkan orang. Jika kita terjebak dalam trauma tersebut, maka sulit bagi kita untuk keluar. Ada banyak energi dan kerja masuk ke dalam diri yang perlu dilakukan untuk memulihkan diri dari trauma tersebut, sebelum kita memiliki kekuatan untuk melakukan kerja-kerja ke luar secara efektif. Itu baru kerja pemulihan trauma pribadi. Jika trauma terjadi secara kolektif maka lebih rumit lah langkah-langkah penyelesaiannya.

 

Pemulihan dari trauma merupakan pekerjaan rumah yang sangat penting untuk dilakukan. Sayangnya, karena sifatnya yang tidak kasat mata, kerja-kerja pemulihan trauma ini belum banyak menjadi perhatian. Mereka yang mengalami trauma cenderung dianggap sebagai korban tetapi upaya yang dilakukan untuk membantu tidak signifikan. Selain itu upaya menjaga kesehatan mental ini masih dianggap lebih tidak prioritas dibandingkan memperjuangkan kesehatan fisik. Padahal sebagai sebuah sistem kehidupan, keduanya saling terkait dan saling mempengaruhi. Tantangan lainnya adalah pada banyak kasus di mana persoalan trauma sudah sangat banyak, akhirnya dianggap sebagai persoalan biasa, yang wajar dihadapi oleh banyak orang. Ketika dianggap sebagai kewajaran, maka berkuranglah motivasi untuk melakukan perubahan.

 

Langkah-langkah penting ke depan

Persoalan-persoalan yang disebutkan di atas sangat kompleks dan tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerjasama untuk membangun dunia yang lebih adil bagi seluruh umat manusia. Membangun kembali hubungan-hubungan yang lebih adil, setara dan membebaskan satu sama lain, antar sesama manusia dan antara manusia dengan alam menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas kita kerjakan. Kerja-kerja pemulihan pribadi, komunitas dan alam menjadi sangat penting untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik. Semoga peringatan hari kemerdekaan ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa perjuangan untuk mencapai kemerdekaan yang sejati masih belum selesai. Peran masing-masing dari kita sangat dibutuhkan untuk membuatnya terjadi di masa yang akan datang. Hanya dengan meraih kemerdekaan yang sejati, maka hari kemerdekaan menjadi betul-betul bermakna di dalam setiap sendi kehidupan.

 

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Pikir] Manusia Aktualita

[Pikir] Manusia Aktualita

[Pikir] Kontrol Emosi, Jaga Diri : Belajar dari Kaum Stoa

[Pikir] Kontrol Emosi, Jaga Diri : Belajar dari Kaum Stoa

[Pikir] Alam, Ibu Kandung Segenap Cerita

[Pikir] Alam, Ibu Kandung Segenap Cerita

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 5
Total Visitors: 3279

Visitors are unique visitors