[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

self-healing1
Ilustrasi “Me-time” (sumber foto : penulis)

Sejak pandemi Covid-19 yang muncul pada tahun 2020 lalu, kekhawatiran tentang masalah kesehatan mental kembali meningkat. Pandemi Covid-19 memang telah mengguncang banyak aspek dari kehidupan manusia di berbagai belahan di dunia. Begitu drastisnya perubahan yang terjadi hingga banyak orang tertatih-tatih menyesuaikan diri dengan kenormalan baru.

Kebingungan, ketakutan, kecemasan, dan stres merupakan beberapa emosi yang muncul setelah pandemi menyeruak. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) sudah menyebutkan bahwa  merupakan yang normal dalam konteks pandemi Covid-19.

Saat wabah yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 menyebar dan menjadi pandemi, kita menghadapi ketidakpastian dan sesuatu yang baru. Kita menghadapi perubahan yang besar dalam keseharian kita. Pergerakan menjadi sangat terbatas, karena bersama-sama kita ingin menekan laju penyebaran pandemi.

Menghadapi realita harus bekerja dari rumah, kegiatan belajar-mengajar dari rumah, mendadak kehilangan pekerjaan, isolasi, tidak dapat bertemu fisik dengan anggota keluarga, teman dan kolega, kehilangan keluarga ataupun kenalan dikarenakan wabah, sudah cukup untuk membuat siapapun gamang. Situasi yang tidak biasa. Maka, adalah hal yang wajar jika pada saat pandemi, diskusi tentang penyembuhan diri atau self healing kembali berkembang. Di tengah situasi seperti ini, penting sekali bagi kita untuk menjaga kesehatan mental kita sebagaimana menjaga kesehatan fisik.

Surve WHO yang dilakukan pada periode Juni – Agustus 2020 di 130 negara menunjukkan adanya gangguan layanan kesehatan mental kritis di 93% negara dan kenaikan permintaan signifikan terhadap layanan kesehatan mental. Banyak orang yang mengalami insomnia, , juga kenaikan konsumsi alkohol dan obat-obatan.

Namun, banyak negara kesulitan menangani persoalan ini. Hal itu terlihat dari minimnya anggaran yang disediakan untuk menangani masalah kesehatan mental. Umumnya, negara-negara tersebut hanya mengeluarkan kurang dari 2% dari anggaran kesehatan nasional untuk menangani masalah kesehatan mental.

Padahal, sejatinya, mental yang sehat dapat membantu meningkatkan ketahanan tubuh dari serangan virus. Dengan kata lain, mental yang terjaga akan membantu meningkatkan imun tubuh, dan ini merupakan hal krusial saat tubuh seseorang suatu virus.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental, salah satu yang dipercaya ampuh yaitu dengan melakukan self-healing atau penyembuhan diri. Terlebih, dengan tingginya risiko dan rendahnya bujet nasional untuk layanan kesehatan mental, self-healing merupakan kunci utama.

Self-healing merupakan proses penyembuhan (khususnya dari gangguan psikologi atau kelelahan emosional) yang digerakkan oleh diri dan dimotivasi dari dalam diri pasien itu sendiri.

Sebagian besar orang pernah mengalami kelelahan emosional. Bentuknya beragam yang dapat berupa luka batin, trauma, stres, kesedihan, kecemasan, dan lain sebagainya. Segelintir penyebab kelelahan emosional dapat berasal dari perasaan merana karena kegagalan memperoleh sesuatu, sedih karena kehilangan orang yang kita sayangi, cemas terhadap sesuatu yang tidak pasti maupun terhadap masa depan, kemarahan, dan lain sebagainya.

Dengan metode self-healing, beragam kelelahan emosional tersebut dapat ditangani. Tentunya ada proses. Proses ini menekankan partisipasi dari diri sendiri. Oleh karena sangat melibatkan diri sendiri, penting bagi setiap individu untuk mengenali penyebab persoalan batin yang dialami. Dengan begitu, akan memudahkan proses penyembuhan luka tersebut.

Mengutip Tirto.id yang melansir dari Psychology Today, sebuah penelitian terkait dengan self-healing menunjukkan bahwa persentase kemampuan setiap orang untuk menyembuhkan diri sendiri sekitar 18% – 75%. Ini dinamakan dengan efek plasebo atau obat kosong. Efek ini terjadi ketika pasien mendapatkan obat atau pil yang hanya diisi gula ataupun operasi palsu lalu dinyatakan dapat sembuh. Pasien kemudian sembuh. Ternyata, keyakinan pasien untuk sembuh itu lah yang membawa pasien pada kesembuhannya. Terkadang kita menyebutnya sebagai sugesti diri.

Menurut pijarpsikologi.org ada beberapa cara yang dapat membantu penyembuhan diri sendiri. Pertama, melakukan me time. Umumnya, masalah yang terjadi pada banyak individu disebabkan atau ada kaitannya dengan kehadiran orang lain. Dengan melakukan me time, individu akan memiliki waktu untuk memprioritas dirinya sendiri terlebih dahulu, termasuk prioritas kebahagiaan.

Kedua, berdialog dengan diri sendiri. Hal ini membantu individu untuk dapat jujur dan memahami diri sendiri. Selanjutnya, berdamai dengan keadaan. Hal itu akan menghadirkan penerimaan terhadap persoalan yang dihadapi, alih-alih mengutuk atau menyalahkan keadaan yang justru membuat hati tidak tenang.

Keempat, mindfullness atau berpikir dengan kesadaran penuh. Mindfulness artinya berfokus terhadap diri sendiri. Ini menekankan fokus terhadap segala pikiran, perasaan, juga emosi yang muncul di dalam diri dan mengenalinya secara sadar. Dengan mindfulness, kita akan betul-betul hidup pada saat ini.

Kelima, meningkatkan self-compassion atau kemampuan untuk memahami keadaan emosi yang dialami, responnya terhadap penderitaan yang dihadapi, dibarengi dengan keinginan untuk menolong diri sendiri. Melalui self-compassion, individu dapat memaknai pengalaman yang tak menyenangkan dengan emosi yang berbeda. Hal ini akan membantu individu dalam membebaskan dirinya dari keadaan luka yang berlarut.

Jika ada penyesalan, jadikan itu sebagai kekuatan. Bukan untuk disesali secara terus menerus karena akan menimbulkan kecemasan dan kelelahan hati, melainkan menjadi bahan pelajaran yang dimaknai dengan sudut pandang berbeda sehingga menjadi kekuatan.

Terakhir, menulis ekspresif. Utarakan segala perasaan maupun emosi yang dialami melalui tulisan, tanpa perlu memperhatikan aturan kalimat maupun tata bahasa. Banyak yang percaya bahwa aktivitas menulis efektif untuk menyembuhkan diri dari dalam.

Jika dirangkum, aktivitas self-healing mencakup istirahat sejenak, mengambil napas, dan lakukan refleksi. Jangan lupa juga untuk menjaga rutinitas yang sehat, mulai dari menjaga kebersihan, mengatur waktu tidur yang proporsional, mengkonsumsi makanan sehat, dan berolahraga secara teratur.

Anggi Oktarinda

Anggi Oktarinda

Eks Jurnalis Ekonomi Pelaku Mindful-Living dan saat ini tinggal di Bandung Penulis dapat diakses melalui akun IG: @oktarindanggi dan @yume_theproject

Related Posts

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Berdamai dengan Alam

[Tips] Berdamai dengan Alam

[Tips]  Berdamai Dengan Dunia

[Tips] Berdamai Dengan Dunia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 1
Total Visitors: 2140

Visitors are unique visitors