[Tips] Berdamai dengan Alam

[Tips] Berdamai dengan Alam

Perkembangan teknologi telah membuat kita mencapai tingkat kualitas hidup yang mungkin tidak pernah terbayang sebelumnya. Segala kemudahan, kepraktisan, dan kenyamanan yang saat ini kita nikmati dianggap sebagai sesuatu yang normal. Semua itu kita peroleh dengan adanya sejumlah materi dan energi yang diambil dari alam untuk mendukung pola konsumsi kita. Kualitas hidup yang tinggi ini secara kolektif diinginkan oleh seluruh penduduk bumi yang jumlahnya makin banyak, dengan konsekuensi penggunaan materi dan energi di alam sampai melampaui batas daya dukungnya. Apabila pola konsumsi ini berlanjut, kita akan memasuki masa kehancuran. Di masa itu, mau tidak mau dan suka tidak suka, kita harus menanggung konsekuensi dari gaya hidup yang kita jalani sekarang.

 

Pandemi COVID-19 adalah contoh riak dari gelombang konsekuensi yang membayangi masa depan kita dan generasi yang akan datang. Suka atau tidak suka, kita perlu mengurangi kenyamanan kita selama ini dan beradaptasi dengan situasi normal baru yang memungkinkan kita bertahan hidup di tengah proses penyeimbangan alam. Riak-riak lainnya bisa dirasakan dalam bentuk kelangkaan berbagai sumberdaya dan berbagai bencana terkait perubahan iklim serta berbagai konflik sosial yang makin kerap terjadi.

gambar-1-korban-pandemi-covid-19
Gambar 1 – Korban pandemi Covid-19 Sumber: https://covid19.who.int/ diakses 31 Desember 2020

Momen ini merupakan salah satu titik persimpangan di mana kita dapat memilih untuk menyesuaikan hidup kita dengan hukum-hukum alam, atau melanjutkan pola hidup yang merusak keseimbangan alam tersebut. Kita memiliki kebebasan untuk memilih pola hidup kita, tetapi kita tidak bebas untuk memilih konsekuensi yang ditimbulkannya. Jika kita memilih untuk hidup sesuai dengan hukum-hukum alam, maka berikut ini adalah upaya-upaya kecil yang dapat kita lakukan mulai dari diri sendiri.

 

gambar-2-kampanye-hidup-selaras-alam-yang-banyak-ditemukan-di-internet
Gambar 2. Kampanye hidup selaras alam yang banyak ditemukan di internet Sumber: Google dengan kata kunci “Go Green Campaign Ideas” pada tanggal 31 Desember 2020
  1. Pilihlah makanan yang alami.  Makanan yang diproduksi secara alami baik untuk bumi dan tubuh kita. Zat-zat kimia yang digunakan dalam proses produksi pangan, misalnya pestisida kimia pembunuh hama memberikan dampak negatif terhadap kesehatan petani, konsumen dan juga mengganggu keseimbangan alam.
  2. Manfaatkanlah sampah organik untuk (menjadi) kompos. Jika kita membeli sayuran atau mengonsumsi makanan, ada kalanya terdapat sisa yang tidak dapat kita konsumsi. Langkah terbaik adalah membuatnya menjadi kompos sehingga sampah organik tersebut dapat masuk ke siklus materi yang dapat kita gunakan untuk sesuatu yang berguna, antara lain sebagai pupuk untuk tanaman. Dengan kompos tersebut bahkan kita dapat menanam tanaman pangan untuk kita konsumsi sendiri. Proses tersebut memastikan kita mendapatkan pangan dari proses yang sehat untuk bumi dan diri kita.
  3. Kembangkan gaya hidup hemat sumberdaya. Gaya hidup ini selain baik untuk bumi, juga baik untuk keuangan kita. Jika hanya membutuhkan satu barang, jangan membeli dua. Hindari membeli barang hanya karena keinginan, tetapi sebetulnya bukan merupakan kebutuhan. Banyak orang membeli barang karena ‘lapar mata’, mengikuti tren atau karena diskon. Sebagian dari barang-barang tersebut akhirnya tidak digunakan, atau bahkan terlupakan dan disimpan di dalam lemari sampai selama-lamanya. Ini merupakan pemborosan sumberdaya. Kita perlu mengingat bahwa di belahan dunia yang lain masih banyak orang yang mungkin membutuhkan barang tersebut dan akan sangat bersyukur apabila dapat memilikinya.
  4. Gunakan barang sampai betul-betul tidak dapat digunakan lagi. Setiap barang yang kita gunakan awalnya berasal dari alam dan dapat berubah menjadi produk yang berguna karena kerja keras para buruh dan kreativitas para penemu. Menggunakan barang secara bijaksana adalah salah satu bentuk penghormatan kita kepada alam yang menjadi sumber asal usul barang tersebut dan kepada semua manusia yang telah terlibat di dalam proses produksi dan distribusi barang tersebut. Tanpa mereka, barang-barang tersebut tidak dapat kita nikmati saat ini.
  5. Belilah barang yang awet dan lama umur pakainya. Hindari membeli barang sekali pakai atau yang cepat rusak sehingga tidak dapat dipakai lagi dan menjadi sampah. Sampah merupakan masalah global. Bumi memiliki keterbatasan untuk mengurai sampah kita. Tempat pembuangan akhir (TPA) yang menampung sampah-sampah tersebut sudah mulai penuh. Dibutuhkan cara baru untuk menangani sampah kita. Langkah yang pertama dan terpenting adalah mengurangi produksi sampah tersebut.
  6. Sumbangkan barang-barang yang sudah tidak digunakan. Ini akan menambah kebahagiaan kita dan orang-orang yang menerimanya. Daripada menumpuk memenuhi rumah kita atau kemudian menjadi sampah, lebih baik barang-barang tersebut disumbangkan kepada mereka yang mungkin membutuhkan.
  7. Pakailah produk-produk yang tidak berkemasan yang menghasilkan sampah, khususnya sampah plastik dan anorganik lainnya. Jika terpaksa, pilihlah kemasan yang dapat digunakan ulang atau digunakan kembali untuk keperluan lainnya. Contoh yang banyak dilakukan saat ini adalah membawa minuman dalam tumbler sendiri sehingga tidak perlu membeli air minum dalam kemasan. Selain itu, kita juga dapat membawa wadah sendiri saat membeli makanan jadi atau ketika membeli barang-barang di pasar.
  8. Pilihlah barang-barang yang berasal dari material organik, ketimbang yang bukan organik. Bahan organik lebih mudah diurai daripada bahan non organik. Ini akan mengurangi beban bumi untuk menguraikan sampah-sampah kita. Selain itu bahan organik merupakan materi yang dapat diperbarui sehingga dapat dikelola secara berkelanjutan.
  9. Pilihlah barang-barang yang tidak mengandung racun, misalnya berupa kandungan kimia pada pewarna (cat) yang membuat produk tampak lebih menarik. Saat ini racun-racun tersebut tidak kasat mata. Keberadaannya tersebar di dalam berbagai produk yang kita gunakan sehari-hari. Kesehatan kita dalam jangka panjang lebih penting daripada penampilan sesaat.
  10. Pilihlah produk lokal. Saat ini, banyak sekali produk-produk yang kita gunakan berasal dari tempat-tempat yang jauh. Untuk sampai di tangan kita agar dapat dinikmati diperlukan transportasi dan transportasi ini menggunakan bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui. Semakin jauh lokasi asal produksinya dari tempat kita, semakin besar jejak ekologisnya (ecological footprint). Semakin besar jejak ekologis kita, semakin besar kita membebani alam. Penggunaan produk lokal akan mengurangi jejak ekologis. Selain itu, kita akan berkontribusi terhadap  perkembangan ekonomi lokal.

 

Di luar sepuluh hal teknis di atas, sebanyak mungkin, luangkan waktu untuk berada di alam. Rasakan kehadirannya. Sadari dukungannya untuk kelangsungan hidup kita. Ini dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti bernafas dengan penuh kesadaran. Rasakan dinginnya udara yang mengandung oksigen memasuki hidung kita, memenuhi paru-paru kita, mengalir ke seluruh tubuh kita dan membuat hidup kita berlanjut. Rasakan udara yang berganti menjadi karbondioksida keluar melalui hembusan nafas kita. Sadari bahwa udara yang kita hembuskan tersebut, yang mengandung karbon dioksida, dibutuhkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis, dan proses fotosintesis itu menghasilkan oksigen yang sangat kita butuhkan. Lewat proses bernafas, kita bertukar materi dengan tumbuhan. Kita dan tumbuhan menjadi satu lewat rantai siklus alam yang kompleks. Kita menjadi satu dengan alam. Kita adalah bagian dari alam.

 

Bernafas hanyalah satu contoh kecil bagaimana hidup kita terhubung dan saling tergantung dengan komponen alam lainnya. Sesungguhnya, kehidupan kita merupakan jalinan dari jutaan rantai siklus dalam kehidupan, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Merusak satu elemen kehidupan berarti merusak seluruhnya. Merusak alam berarti merusak diri kita sendiri. Karena sesungguhnya kita dan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Menyadari hal ini akan membantu kita untuk memilih pola hidup terbaik. Sebuah pola hidup yang bukan hanya menguntungkan diri kita dalam jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan kebaikan seluruh alam semesta.

 

gambar-3-mengajak-anak-anak-mengenal-alam-awal-membangun-hidup-selaras-alam
Gambar 3. Mengajak anak-anak mengenal alam, awal membangun hidup selaras alam Sumber: Dokumentasi KAIL

Bagi mereka yang memiliki anak-anak, atau bekerja untuk pendidikan anak, mungkin bisa mulai membangun kedekatan dengan alam bersama anak-anak. Selain untuk meningkatkan motivasi bagi diri sendiri, langkah ini sangat penting untuk membangun generasi mendatang agar mengenal dan mencintai alam sejak dini. Tak kenal maka tak sayang, begitulah kata pepatah. Proses mengajak anak-anak berada di alam sejak dini akan membantu anak-anak untuk dapat merasakan keindahan serta memahami peran alam dalam kehidupan mereka. Hal ini mungkin merupakan kesempatan langka bagi anak-anak zaman sekarang. Apalagi bagi anak-anak kota, yang hidupnya dibatasi oleh tembok-tembok rumah sempit di perkotaan yang padat penduduknya. Dalam kondisi demikian, berada di alam merupakan kemewahan.

 

Demikianlah beberapa tips yang dapat kita lakukan mulai dari diri kita sendiri. Sadarilah setiap keputusan kita sebelum melakukan pilihan hidup kita. Setiap yang kita lakukan, betapapun kecilnya akan mempengaruhi alam ini. Pengaruh tersebut, cepat atau lambat, akan mempengaruhi kita kembali. Kesadaran ini perlu diperluas kepada teman-teman sehingga menjadi sebuah kesadaran kolektif yang membentuk budaya kehidupan baru yang lebih selaras dengan alam.

 

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Tips] Modern Pranic Healing: Ketika Komunitas Menyembuhkan Komunitas

[Tips] Modern Pranic Healing: Ketika Komunitas Menyembuhkan Komunitas

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Kebunku Sekolahku

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 2797

Visitors are unique visitors