[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

Sebuah refleksi-kritis tentang “berdamai” dalam perspektif Emmanuel Levinas

Oleh: Eventus Ombri Kaho

Kata kunci: “Aku”, “Ini/itu”, Emmanuel Levinas, “Adikodrati”, The Other, Kambing Hitam, Damai, Tanggungjawab, eksistensi, identitas.

Saat ini seluruh penghuni planet bumi begitu takut, gelisah dan prihatin dengan pandemi covid-19 yang tengah memporak-porandakan kehidupan manusia . Nyaris hampir setiap hari semua media cetak, sosial dan lain sebagainya memberitakan tentang pandemi ini. seluruh penghuni planet ini dihadapkan kepada sebuah tanggungjawab bersama. Hubungan antar sesama manusia menjadi hal penting untuk mengantisipasi pendami ini. Tanggungjawab bersama untuk memberantas pandemi adalah cara untuk mempertahankan eksistensi sebagai manusia.

pikir-the-otherNamun adakalanya eksistensi manusia inilah yang membuat dunia merana. Apalagi manusia yang seringkali berperilaku disharmoni terhadap alam dimana ia hidup. Di tengah hiruk-pikuk itu, ada oknum yang mencoba untuk memperkaya diri sendiri, selalu mementingkan diri sendiri, kepuasaan diri dan nafsu ingin berkuasa yang menggebu-gebu. Namun satu hal yang begitu dilupakan, yakni identitasnya sebagai makhluk sosial. Dari semua ciptaan Tuhan, manusialah yang dianggap sebagai mahluk sosial. Untuk itulah maka antar sesama manusia harus ada rasa saling menghargai, saling menghormati dan saling menopang demi kesinambungan kehidupan di dunia ini. 

Hal ini sejalan dengan permenungan panjang dari seorang filsuf berkebangsaan Prancis, Emmanuel Levinas. Permenungan Levinas tentang relasi manusia dengan sesama yang tampak dalam konsepnya yang paling nyata, yakni “ the Other “.  Arti dari ‘the Other’ adalah ‘ yang lain’. Makna ‘ yang lain’ yang dimaksudkan oleh Levinas adalah ‘wajah yang lain’ yang kemudian direfleksikan sebagai ‘wajah-ku yang lain’. Ini merujuk pada cara melihat ‘orang lain’ atau cara memandang orang lain yang ada di sekitar. Apakah cara ‘aku’ memandang yang lain seperti ‘aku’ memandang diri ‘aku’ sendiri atau justru sebaliknya? Kita akan melihat bersama-sama, apakah orang lain sebagai subjek perdamaian atau objek perdamaian?

Melalui tema Proaktif edisi ini, penulis mengajak kita semua untuk melihat perspektif lain dari sebuah konsep ‘damai’. Damai menjadi hal penting dalam hidup. Semua orang menginginkan hal ini. Namun, dalam perjalanannya atau dalam realita-nya tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Ada tiga hal yang menjadi kambing hitam, yang selalu menjadi korban. Tiga hal itu adalah, “aku”, “ini/itu” dan yang terakhir “adikodrati”. 

  1. “Aku” sering menjadi kambing hitam. “ kenapa aku ngga bisa hidup dengan damai?, Aku terlalu tolol, aku terlalu malas, aku terlalu jahat dan lain sebagainya!”. Kecenderungan ini selalu membuat orang menjadi terpuruk. Ia memperburuk dirinya sendiri. Tidak ada pembelaan diri lebih baik dari “ membangunkan diri dari keterpurukan itu”. Jika prinsip ini ( menyalahkan diri) sudah ada di dalam diri maka “ ini/itu” dan “adikodrati” pun tidak mampu memperbaharuinya. Faktor kesadaran dalam diri sangat penting. Untuk sampai pada damai “aku” sangat memegang peran penting. Inilah  yang dinamakan damai yang reflektif, melihat diri yang lebih dalam, bukan menghancurkan dan memporak-porandakannya.
  2. Ini/itu” adalah sifat atau bahkan kodrat manusia yang paling esensial. Istilah “ini/itu” merujuk pada segala sesuatu yang ada di luar diri manusia entah itu benda hidup atau benda mati. Orang cenderung untuk menyalahkan  hal-hal di luar dirinya. Alasan utama dan yang paling fundamental mengapa orang cenderung untuk menyalahkan orang lain? Karena kurangnya penerimaan diri yang total. Orang cepat menyalahkan “ini/itu” ketika ia tidak merasa damai. 
  3. Adikodrati” mestinya menjadi jalan perjumpaan yang paling mendalam untuk sampai pada kedamaian yang paling hakiki. Namun apa yang terjadi, dia dikambinghitamkan begitu saja. Hal itu tidak dapat dipungkiri bahwa, manusia memiliki kecenderungan untuk berpikir dan bertindak secara egois. Jangankan untuk hal-hal di luar dirinya, hal-hal di dalam dirinya saja dia rendahkan, dia salahkan bahkan dia kambinghitamkan. Untuk itulah melalui permenungan dari seorang filsuf, Levinas untuk membangun pola pikir yang jauh lebih baik dalam melihat fenomena identitas diri dan sesama dalam sebuah tanggungjawab bersama. 

Konsep ini mungkin sudah menjadi konsep usang di zaman postmodern, namun kenyataannya masih relevan. Menurut Emmanuel Levinas, manusia cenderung menyerap segala hal di luar dirinya untuk menjadi bagian dari dirinya. Misalnya, ketika seorang remaja putri mendengar lagu yang bercerita tentang seputar kisah patah hati dia langsung mengatakan bahwa “nih lagu gue banget!”. Hal itu terjadi karena dia sedang patah hati alias putus cinta. Ia selalu mendekatkan diri dengan apa yang di luar dirinya. Ia sendiri membatasi dirinya. Memberi ruang yang terlalu sempit untuk melihat dirinya sendiri. Ruang kosong inilah yang diisi dengan “ini/itu”. Untuk itulah ia mulai menguraikan, mengidentifikasi dirinya dengan lingkungan sekitarnya. 

Secara tidak langsung, ia mulai membuat sebuah gambaran dirinya secara universal, termasuk menggambarkan wajahnya yang lain.  Satu yang tidak dapat dipungkiri ialah manusia tidak nyaman dengan sesuatu yang tidak ia kenal, maka ia memberi hal yang asing itu sebuah nama, mencari-cari di dalam ingatannya hal yang serupa dengan hal asing itu, lalu menyerap hal asing itu ke dalam dirinya. Tapi kira-kira begini maksudnya: kita tidak bisa memahami orang hanya melalui gagasan yang sudah kita miliki sebelumnya tentang dia, kita harus bertemu secara langsung dengannya, dan membiarkan dia, dengan seluruh niatan yang ia sendiri miliki, memperlihatkan keseluruhan dirinya kepada kita. 

Menurut Levinas, hubungan antara dua orang (aku dan yang-lain) tidaklah setara atau sama-rata (seperti yang mungkin dianggap banyak orang). “Aku” harus bertanggungjawab atas hidup orang lain. Tapi “aku” tidak cuma bertanggungjawab atas hidup satu orang, karena orang di hadapan “aku” merupakan jejak dari Yang Tak Terbatas (the Infinite) maka “aku” bertanggungjawab pula pada hidup semua orang lain di belakangnya, yang sudah tercakup di dalam orang tersebut. Tanggungjawab “aku” kepada orang lain ini, menurut Emmanuel Levinas, bukanlah keinginan menolong yang muncul dari perasaan bersimpati atau bahkan empati. Melainkan sebuah tanggungjawab yang sudah tertanam di dasar diri manusia jauh sebelum manusia memiliki kesadaran (consciousness). Jadi, sebelum manusia sadar akan dirinya sendiri, tanggungjawab terhadap orang lain sudah lebih dulu ada. 

Hubungan aku dengan orang lain, dalam pandangan Levinas, selalu bersifat altruisme ekstrem. Aku mengorbankan sesuatu yang “aku” punya demi hidup orang lain. Tetapi, dalam etika Levinas, bukan hanya tidak terdapat lagi egoisme di situ, tetapi kita bahkan “terpenjara” oleh kehadiran orang lain. Saat ada orang lain di hadapan kita, kita sudah dituntut bertanggungjawab kepadanya. Kenyamanan individualisme kita terusik, cara kita hidup dan bereksistensi dipertanyakan. Bagi Levinas, untuk menjadi manusia yang etis adalah melayani manusia lain dengan penyerahan diri yang sepenuhnya. Mirip seperti penyerahan diri pada “tuhan”, hanya saja dalam pandangan ini yang menjadi subyek penyerahan diri adalah manusia lain. Maka kedamaian “orang lain” adalah tanggungjawab “aku”. Alasannya sangat sederhana, karena “orang lain” adalah ‘aku” yang lain. Walaupun ini terasa sulit, tetapi itulah prinsip dari etika yang dimaksudkan oleh Levinas. Bahwa kedamaian yang dicapai demi diri sendiri adalah sebuah kedangkalan dalam berefleksi. Relakah kita jika wajah kita “yang lain” tidak damai?

 

Referensi

Levinas, Emmanuel. 1969. Totality  and infinity; An Essay on Exteriority, terj. Alphonso Lingis. Pitsburg; Duquesne University Press.

Magnis-Suseno, Franz. 2006.  Etika Abad-20; 12 Teks Kuncii. Yogyakarta: Kanisius.

__________________. 2002. 12 Tokoh Etika Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius.

 

Eventus Ombri Kaho

Eventus Ombri Kaho

Eventus Ombri Kaho. Ia lahir pada tahun 1995 di sebuah desa kecil tepatnya di desa Alkani, kecamatan Wewiku kabupatan Belu-Nusa Tenggara Barat. Ia mengawali pendidikan Sekolah Dasar Katolik (SDK) di Hanemasin (2000 – 2007), kemudian lanjut ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 2 Malaka Barat (2007 – 2010). Ia menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA) Bina Karya Atambua (2010 – 2013). Pada tahun 2014 ia masuk di Universitas Katolik Parahyangan dengan mengambil jurusan Filsafat. Saat ini, ia menerjuni dunia pendidikan dan menjadi bagian dari staf pengajar SD Santa Ursula Bandung.

Related Posts

[Pikir] CERITA DARI SEBERANG

[Pikir] CERITA DARI SEBERANG

[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

[Pikir] Menjadi Manusia

[Pikir] Menjadi Manusia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors