[Pikir] CERITA DARI SEBERANG

[Pikir] CERITA DARI SEBERANG

Before the judgement of right or wrong

there is a field

I will meet you there

Rumi, Poet

 

Everything goes

                Einstein, physicist

 

Pada Mulanya Adalah Migrasi

Semua cerita besar kehidupan adalah cerita tentang migrasi. Cerita purba dan cerita masa depan adalah cerita migrasi. Mitologi bercerita tentang kejatuhan manusia sehingga ia mesti terusir dari sebuah dunia asal yang sempurna, atau tentang pengungsian, perpindahan ke tanah harapan yang sekarang terwariskan.

Agama bertutur tentang perjalanan-perjalanan dan transformasi, perubahan-perubahan lanskap untuk memurnikan jiwa manusia. Dunia ini adalah panggung perjalanan bagi kita sebagai musafir dan peziarah semesta. Sebuah penghayatan cerita baik dan buruk, dengan pelaksanaan kebebasan bersyarat untuk memilih nasib di tanah tujuan yang suci.

pikir-cerita-dari-seberang2
https://iveybusinessjournal.com/the-big-bang-theory-of-disruption/

Sains berteori tentang dentuman besar yang mengubah ketiadaan yang merambatkan semesta meninggalkan pusat ledakan dengan kecepatan tak terperi. Itu bisa dianggap migrasi energi dan materi dalam kecepatan cahaya. Cerita migrasi terpenting dalam sains di abad 20 adalah teori relativitas Eistein, segala sesuatu berlalu.  Lantas ada  teori evolusi yang dipicu  perubahan lingkungan,melahirkan kehidupan hayati dan sekaligus  memaksakan  adaptasi dan perpindahan tempat. Cerita migrasi dari air ke daratan adalah cerita terpenting evolusi, yang menghadirkan peluang keragaman hayati yang kita kenal sekarang. Lalu penggalian-penggalian paleontologi dan arkeologi menunjukkan betapa migrasi lah yang membangun kehidupan. Lapisan-lapisan kehidupan telah melintasi waktu, merekam cerita perubahan dan adaptasi berbagai bentuk kehidupan di bumi. Berbagai spesies, baik tumbuhan, bakteri, jamur, binatang termasuk genus hominid manusia melakukan migrasi untuk menemukan perhentian yang sesuai. Kita semua adalah satu cerita migrasi, pohon kehidupan yang terus mengemban daya hidup, bertransformasi mengatasi daya-daya alam dan pada satu titik lintas yang misterius, salah satu dahan primata menumbuhkan mahluk berkesadaran, hominid, yang pada saatnya mampu merespon semesta dengan nalar reflektif.  Kita homo sapiens, mampu merefleksikan keberadaan, merekap cerita masa lampau, menyadari dan menerapkan cerita – cerita itu pada  aktualita sekarang dan mengantisipasi cerita masa depan.

Cerita masa depan pun adalah soal migrasi. Mitologi berbicara tentang kesementaraan dan keabadian, agama menegaskan tugasnya untuk menunjukkan surga atau neraka sebagai migrasi terakhir. Sains bercita – cita pada cerita migrasi ke planet lain, bahkan  ke lain tatanan bintang, jika bumi sudah selesai didayagunakan.

Jeda Reflektif Kesadaran Sang Sohibul Hikayat

Manusia adalah mahluk yang merespon alam semesta dengan daya-daya batin, secara sangat berbeda dari mahluk hidup lainnya yang sekadar beradaptasi. Cara merespon ini bersifat reflektif, tidak spontan, ada ‘jeda’ antara kejadian dan respon. Mahluk hidup lain bereaksi secara spontan dan tidak punya pilihan. Manusia memiliki jeda reflektif yang memiliki potensi kreatif, adanya pilihan, pengambilan keputusan yang bervariasi dan kehendak bebas. Pada jeda reflektif inilah cerita-cerita migrasi-transformatif itu terpelihara. Kedalaman penghayatan akan cerita-cerita tersebutlah yang menentukan tingginya kebijaksanaan manusia dalam merespon peristiwa dalam kehidupannya. Manusia merefleksikan cerita-cerita migrasi-transformatif pada saat ia mengambil sikap yang memadai. Jeda  reflektif inilah yang memungkinkan manusia secara kultural dan kreatif menghadapi peristiwa-peristiwa vital dalam hidupnya seperti kelahiran dan kematian, bencana, penderitaan atau pun sukacita. Jeda refleksi berlangsung sebagai cara menemukan padanan, refleksi antara pengalaman aktual dengan peristiwa yang mirip dalam khazanah cerita-cerita suci.  Jika manusia mengalami penderitaan yang berat, ia akan merefleksikan batinnya pada peristiwa yang mirip dalam cerita-cerita kitab suci atau pada legenda mistis nenek moyangnya. Bencana alam bisa dianggap sebagai peringatan aktual akan kejadian yang mirip dalam cerita suci. Demikian seterusnya.

Jeda reflektif yang kita sebut momen kesadaran yang memberi kita kekhasan sebagai sentient being. Kita menjadi mahluk yang mencipta cerita, yang empunya cerita, Sang Sohibul Hikayat.

Tetapi cerita Sang Sohibul Hikayat ini tidaklah mudah diceritakan. Berpuluh ribu tahun sejak kebudayaan pertama dimulai di Afrika, manusia adalah sang pendengar, sebab sang empunya cerita seakan menjadi kewenangan dan hanya dapat dituturkan dengan otoritas ilahi, karena cerita itu berkhasiat mengubah semesta. Dituturkan di masa lampau, bahwa semesta ini dijadikan oleh kata, kalam, oleh cerita.

Penutur mitologi menyadari kekuatan cerita dan demi tatanan dunia yang langgeng, jeda reflektif kesadaran manusia menjadi larangan. Manusia adalah mahluk yang sadar tetapi kesadaran itu segera dibentengi dengan mitologi tentang keseimbangan  kosmis, suatu tatanan semesta penuh tabu. Manusia harus dibuat pasif dengan kisah-kisah kehancuran, tentang larangan-larangan dan ramalan-ramalan yang menghentikan perjalanan manusia untuk bermigrasi mencapai gerbang kesadarannya. Seperti dalam cerita Sisyphus, sang immortal yang dihukum para dewa karena mengenalkan api pada manusia; dan betapa ia dihukum dengan ikhtiar kesia-siaan sebagai peringatan bahwa betapa percuma kesadaran di batin manusia.

Agama dengan cara yang sama mengubah perspektif manusia tentang momen kesadarannya. Kesadaran itu ilahi, dan manusia hanyalah cermin, imaji dari sang empunya cerita. Hanya yang ilahi yang membuat cerita dan manusia adalah lelakon yang terdestinasi pada pilihan baik dan buruk. Cerita pengusiran dari Taman Firdaus akibat dimakannya buah pengetahuan, atau kutukan berulang roda kehidupan manusia untuk menebus diri mencapai moksa, menunjukkan betapa kesadaran itu adalah pemberian yang mahal, diberikan tetapi dicicil melalui ziarah iman menuju kepenuhan nasib.

Sains di pihak lain menganggap kesadaran sebagai kebetulan yang berharga. Sebuah lompatan misterius dalam tangga evolusi yang meskipun dimulai beratus juta tahun lampau, baru melintas cemerlang pada kurun ratusan ribu tahun dengan penggunaan peralatan dan api, sebuah segmen penghujung teramat kecil dalam lintasan waktu paleontologi. Meski sains antusias dengan lompatan kesadaran ini, tidak ada penghargaan yang memadai sebagaimana yang diberikan agama dan mitologi. Kalau mitologi dan agama merampasnya dari tangan manusia dan diserahkan kepada tatanan keilahian yang berwenang, Sains justru menempatkannya ditengah ikhtiar manusia memetakan semesta dengan tujuan memahami formulasi jadinya dunia, tetapi mengesampingkan makna kesadaran itu sendiri. Bagi sains, kesadaran adalah enigma, bisa diuraikan dan dipetakan namun tak ada kejelasan dan keyakinan apa pun tentang arti kesadaran. Kesadaran adalah pemberian alam, yang tak terduga, sebagai kemampuan membaca dan menguraikan rumusan-rumusan kekal di balik berlangsungnya jagad raya.

Memikirkan Kesadaran dan Merajut Intelektualitas

Filsafat yang bermula di Yunani kuno sebagai pemberontakan pada mitologi, merefleksikan keberadaan sebagai buah kesadaran. Pada dasarnya bagi Filsafat, kesadaran adalah pusat keberadaan, dengannya abstraksi dimungkinkan dan manusia mampu memandang jelas dunia ini. Filsafat tidak seperti mitologi, agama atau pun sains, melihat kesadaran sebagai yang sudah tersedia, sebagai latarbelakang bagi permulaan berfilsafat, dengan demikian kesadaran itu sendiri bukanlah bahasan dasar filsafat. Filsafat hanya dapat menilik kesadaran sebagai gejala, membataskan pembahasannya sejauh dapat terobservasi.

Rene Descartes, filsuf Perancis dan matematikus dari masa Renaisans, menegaskan adagium ”cogito ergo sum”, Saya berpikir maka saya ada (1637). Pada masa Renaisans, ketika filsafat menjadi lebih humanis, terlepas dari perenungan kebenaran-kebenaran teologis, manusia mulai memikirkan kembali keberadaannya dengan mengabaikan doktrin agama. Keberadaan menjadi sebuah pertanyaan dan sebab doktrin tentang sebuah dunia yang tertata dalam ajaran gereja waktu itu sudah ditinggalkan. Dalam keraguan tentang keberadaan, Descartes menyadari tindakan berpikirnya dan dengannya mengetahui dengan pasti ia ada. Keberadaan dijamin dengan kesadaran akan tindakan berpikir.

Adagium Descartes ini memberikan implikasi mendasar pada filsafat modern dan terutama filsafat ilmu pengetahuan. Jika berpikir menjadi cara mengungkapkan keberadaan maka segala sesuatu dapat diungkapkan melalui formulasi berpikir yang sesuai. Sains mendefinisikan kesadaran sebagai kemampuan membangun model matematis pada apa yang tercerap dalam pengamatan. Semesta adalah tatanan fenomena yang dapat dinyatakan ulang dalam formulasi-formulasi matematis.

Kepastian sains yang diwariskan Descartes sampai pada sains modern yang terus mengekplorasi fenomena semesta sebagai rangkaian data yang bisa dikodifikasi dan pada saatnya menunjukkan esensinya dalam formulasi-formulasi yang presisi. Pada sisi  sebaliknya, sains bahkan memetakan proses berpikir sebagai fenomena algoritmik, dan mencoba membangun inteligensi buatan (AI) sebagai sebuah upaya percepatan merangkum semesta sebagai the Big Data, dengannya manusia dapat melampaui sejarahnya sendiri dan kapabilitasnya. Pada gilirannya AI bahkan mampu melakukan percepatannya sendiri dan mencapai keadaan singularitas, suatu keadaan matematis murni di mana teknologi berpikir ada hanya demi dirinya; sebuah keadaan tertutup tanpa kesadaran, tanpa jalan berpikir, tanpa koneksi apa pun pada realitas.

Cerita Migrasi dan Mitos Singularitas

Cerita migrasi adalah cerita purba untuk membentuk sikap manusia terhadap realitas. Sebagai penempa moral, penjaga batas agar manusia tidak tersesat. Cerita migrasi pun adalah sanctuary bagi kegelisahan batin manusia, tempat pelarian dan persembunyian dari kerasnya kehidupan dan beratnya beban keberadaan.

pikir-cerita-dari-seberang-2

Lantas bagaimana sebenarnya cerita-cerita migrasi bisa seperti itu?

Cerita migrasi, hikayat transformatif itu dalam batin manusia ada pada ruang sempit antara  kejadian kehidupan dan respon manusia atasnya, yang kita sebut sebagai jeda reflektif. Itulah sebuah momen di mana kesadaran berlangsung, ketika batin manusia seketika itu mencari referensi pada kisah-kisah migrasi yang diingatnya dan dengannya memahami dan menampung kejadian baru dengan baik.

Mencari dan menemukan referensi adalah bentuk paling dasar dari kognisi manusia. Mitologi, agama dan sains melakukan itu. Tak ada bentuk pengetahuan yang sama sekali baru, segala sesuatu selalu menjangkarkan posisinya pada referensi di masa lampau. Gerakan mencari inilah yang menentukan hadirnya kesadaran.

Batin manusia bergerak ke dalam, ketika dalam situasi genting, krisis, mencari padanan pada kisah-kisah migrasi, penyelamatan, pembebasan agar ia dapat beralih dari situasi krisis tersebut dengan beresonansi pada keajaiban cerita purba yang ia temukan. Ada dinamika paradoksal di sini, batin manusia mencari kesamaan kejadian, paralelitas dan cermin tetapi sekaligus ia keluar dan menjadi bebas dari aktualitasnya, bermigrasi menuju yang lain, menuju cara pandang baru atas situasinya.

Migrasi adalah gerakan intuitif menuju ketidak-tahuan, menyebrangi horizon aktualitas, membiarkan sesuatu terjadi tetapi sekaligus mampu menampungnya. Inilah isi kesadaran, yakni momentum beralih menuju ketidaktahuan dengan kepastian batin. Dengan cara inilah kita dapat memahami kesadaran sebagai dasar terbawah dari daya kreatif manusia. Kesadaran adalah ciri khas utama manusia sebagai sentient being, dengannya kita bisa sangat adaptif dan sekaligus mampu mengatasi krisis apa pun. Kita memiliki jawaban atas nasib kita dengan ketidaktahuan yang kuat, entah kematian atau nasib buruk apa pun.

Ketidaktahuan itu, seperti dikatakan di atas, paradoksal. Kita menemukan kesamaan pada pusat lain di seberang. Secara eksistensial, kita tidak dapat memahami keberadaan kita sendiri selain bercermin pada orang lain. Kita dengan mudah berempati pada kejadian yang berlangsung pada orang lain. Kita mampu mengenali sesuatu di luar sana, sebagai sesuatu yang paralel dalam diri kita. Kita bisa melihat ke dalam hanya jika menjangkau ke luar dan benar juga sebaliknya, kita mengenali yang di luar dengan mengakses batin kita.

Kesadaran senantiasa berwujud dinamika ketidaktahuan, sebuah momen kreatif yang gelisah mencari bentuk, dan dengannya horizon pengetahuan dan kebijaksanaan dipeluas. Hanya dengan bermigrasi, merambat menuju ke seberang dan menempuh ketidaktahuan dapatlah batin manusia bertumbuh dan bertransformasi.

Berbeda dengan sains yang melakukan per-model-an, perumusan untuk membangun pengetahuan, kesadaran dalam arti yang kompleks, berlangsung secara intuitif. Sains membutuhkan data, kesadaran justru membutuhkan ketidak-tahuan untuk membangun batin manusia.

Sains berjasa memetakan semesta, menjelaskan jalannya bintang-bintang dan meramalkan kemusnahan matahari dan sekaligus membangun mitos singularitas, suatu keadaan di mana kemanusiaan menjadi kadaluwarsa. Ini adalah narasi mematikan yang tak terhindarkan, manusia menjadi konsumen abadi teknologi, bagai kawanan peliharaan yang senantiasa disuapi. Jelas ini bukan cerita migrasi sebab segala sesuatu sudah diformulasikan dalam peretasan big data.

Keadaan yang mirip singularitas sebenarnya sudah terjadi ketika agama dan ideologi merumuskan apa saja yang perlu diketahui manusia. Perumusan kebenaran nasib manusia adalah juga narasi mematikan. Adalah kecenderungan manusia untuk menindas sesamanya dengan cerita singular, formulasi-formulasi statis yang membutakan intuisi manusia. Agama yang mampu menakuti manusia dengan imbalan sesudah kematian sering lupa pada makna iman: jalan ketidaktahuan.

Rudolf Otto seorang teolog Lutheran merumuskan pengalaman universal akan keilahian sebagai yang paling lain dari yang lain, “Ganz Andere” (1917). Sebuah gagasan yang intuitif atas kecenderungan agama merumuskan berbagai doktrin yang serba pasti tentang kehendak Tuhan. Jika sungguh spritualitas itu sejalan dengan kesadaran, maka agama seharusnya mengambil bentuk transformatif, menghantar manusia menyeberangi horizon batinnya dan bukannya menuduh manusia atas kebenaran dan kesalahan.

Kutipan dari Jalaludin Rumi (1207-1273) di awal tulisan ini, terjemahan aslinya kira-kira seperti ini: “Di luar pembedaan antara Islam (Beriman) dan Kafir, adalah sebuah dataran tempat  suci yang hadir dengan segala kerinduan..” . Dataran kerinduan itu adalah sungguh visi keilahian yang bisa membebaskan batin manusia.

Berdamai dengan Yang Lain itu

Cerita migrasi adalah cerita perdamaian namun juga menggelisahkan batin sebab berhadapan dengan ketidaktahuan, cerita kepasrahan tetapi sekaligus penuh daya cipta. Batin manusia tidak tinggal dalam dirinya tetapi senantiasa berangkat mencari padanan pada yang lain. Albert Einstein, fisikawan, kendati mampu membaca rumusan yang menggerakkan jagad raya dan menolak doktrin agama dan ketuhanan, percaya bahwa dunia tidak dapat dimajukan oleh penemuan-penemuan ilmiah dan teknologi, melainkan oleh gerakan batin manusia. Secara spiritual ini sangat mendalam, sebab pergerakan kesadaran jauh lebih penting daripada akumulasi pengetahuan.

Kesadaran sekali lagi adalah soal berdiri di hadapan ketidaktahuan, momen krisis yang menggelisahkan, merangkul yang lain agar menemukan diri sendiri yang senantiasa baru. Kesadaran bukanlah sebuah kemampuan atau bakat bawaan. Kesadaran adalah peristiwa-peristiwa belajar, melintasi batas-batas identitas, kungkungan ideologis atau iman golongan, menuju yang lain, untuk meluaskan horizon keberadaan dengan mendengarkan cerita dari seberang.

 

Umbu Justin

Umbu Justin

Umbu Justin adalah anak dari Suku Karewa Kampung Pala, Sumba Barat Daya. Ia lulus dari Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, menyukai dunia seni lukis dan fotografi.

Related Posts

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

[Pikir] Menjadi Manusia

[Pikir] Menjadi Manusia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors