[Tips] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Tips] Berdamai dengan Diri Sendiri

Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri

Sebagai pribadi dan aktivis, kita memiliki idealisme dan visi untuk mengubah dunia agar menjadi lebih baik. Di dalam perjuangan tersebut, mungkin kita menyaksikan banyak peristiwa yang menimbulkan kegelisahan-kegelisahan. Kegelisahan ini bahkan dapat muncul dari peristiwa yang kita alami sendiri.

Menyaksikan pelanggaran hak asasi, atau mendapati sesuatu yang menurut kita tidak pada tempatnya mungkin akan menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam diri kita. Kita menjadi tidak tenang dan gelisah. Sesuatu dalam diri kita terpicu. Kegelisahan yang muncul sebetulnya adalah bentuk kepedulian kita terhadap kondisi yang terjadi saat itu. Kegelisahan itulah yang seringkali menjadi motivasi penggerak untuk melakukan perubahan dunia yang dicita-citakan.

Masalahnya bagaimana kita menyikapi ketidaknyamanan ini? Apakah kita terlarut, lalu muncul pikiran-pikiran negatif yang mempengaruhi kesehatan mental kita? Atau kita mampu mengenali dan menerima kegelisahan yang muncul, lalu dapat melepaskan dan menggunakannya untuk membangun sesuatu yang lebih bermakna bagi diri kita?

Diri sendiri merupakan sosok yang akan terus-menerus bersama kita seumur hidup. Diri sendiri merupakan sahabat terbaik yang akan selalu menemani perjalanan hidup kita. Diri sendiri jugalah yang akan selalu berbicara dengan kita ketika menapaki setiap langkah dalam kehidupan.

Pernahkah Anda mengalami konflik berkepanjangan dengan orang lain? Ketika Anda mengalaminya, apa yang Anda lihat atau rasakan? Keletihan batin? Rasa frustrasi? Kekacauan diri? Anda mungkin merasakan adanya ketidakselarasan antara keinginan Anda dengan gerak diri Anda dalam mencapai tujuan. Lalu, bagaimana perasaan Anda mengenai orang itu? Nyamankah Anda bersama orang tersebut?

Bayangkan jika orang lain itu adalah diri Anda sendiri. Anda merasa tidak nyaman dengan diri Anda sendiri. Timbul konflik dengan diri sendiri. Bentuknya bisa bermacam-macam. Kemarahan, kesedihan,kecemasan, kebingungan, depresi adalah contohnya. Semua itu bisa berpengaruh pada pikiran dan tindakan Anda sehari-hari. Anda tidak lagi merasakan kedamaian dalam hati Anda. Hal ini juga dapat mengganggu relasi Anda dengan orang lain di sekitar Anda.

Kita tentu ingin pikiran, hati dan tindakan kita melangkah selaras, sehingga kita dapat merasakan damai di dalam hati. Ketenangan diri membantu kita untuk lebih fokus pada tujuan kita. Karena itu,  sebelum kita bergerak untuk melayani dunia dan melakukan berbagai kegiatan untuk kesejahteraan orang lain, sebaiknya kita berdamai dengan diri kita sendiri lebih dahulu. Rasa nyaman dan damai akan membuat kita lebih tenang untuk melangkah maju.

There are two basic motivating forces: fear and love. When we are afraid, we pull back from life. When we are in love, we open to all that life has to offer with passion, excitement, and acceptance. And we need to learn to love ourselves first.   – John Lennon.

Kita seringkali dihadapkan pada pernyataan populer di atas, yang diungkapkan oleh John Lennon. Bahwa tindakan kita didorong oleh dua motif dasar: rasa takut atau rasa cinta. Rasa takut dan rasa cinta merupakan salah dua dari sejumlah insting (ketergantungan, bermain, takut, cinta, malu, marah, kepantasan) yang diungkapkan oleh William James (1842-1910), seorang psikolog Amerika. James mengemukakan teori bahwa perilaku manusia didorong oleh sejumlah insting yang membantunya untuk bertahan (survive). Melanjutkan yang dikatakan Lennon, Elisabeth Kubler-Ross menyampaikan, “Dari rasa cinta mengalir kebahagiaan, kepuasan, kedamaian, dan keceriaan. Sedangkan dari rasa takut muncul kemarahan, kebencian, kecemasan dan rasa bersalah”.

Persoalan bisa sama. Tindakan mungkin sama, mungkin juga berbeda. Motif dari dalam diri dalam menyikapi persoalan lah yang membedakannya. Kita ambil satu contoh. Ketika saat pandemi ini, masyarakat dihadapkan pada himbauan untuk tidak mudik, bagaimana setiap individu menyikapinya? Ada yang tetap mudik karena sudah lama tak menengok sanak saudara. Ada yang khawatir melewatkan Idul Fitri dengan kesepian. Sebaliknya, ada yang sebetulnya rindu dengan keluarga, tetapi memutuskan tidak mudik karena ingin menjaga kesehatan keluarga di kampung halaman dengan tidak membawa potensi penyakit ke kampung halaman. Mungkin juga, ada orang yang mengambil kesempatan untuk tidak pulang. Himbauan untuk tidak mudik dijadikan alasan untuk menutupi alasan yang sebenarnya, yaitu memang merasa tidak nyaman berada di tengah keluarga. Jadi sebetulnya dijadikan kesempatan untuk menghindari momen berkumpul dengan keluarga.

Apapun motivasinya, kita perlu menyadari motivasi tindakan kita. Apakah didasari  oleh rasa takut atau rasa cinta? Apa akibat tindakan kita dalam jangka waktu yang panjang? Apa implikasi dari tidak mudik? Tidak ketemu keluarga besar? Lebaran yang sepi? Keluarga yang sehat? Penghematan ongkos untuk mudik? Apa implikasi dari mudik? Tetap ketemu keluarga tetapi ada resiko kesehatan? Biaya lebih besar karena kendaraan lebih jarang? Motivasi bertindak yang didasari rasa takut mungkin akan menimbulkan kekecewaan dan kecemasan, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Sedangkan motivasi yang didasari rasa cinta bisa jadi menimbulkan kedamaian dan kebahagiaan dalam jangka panjang.

Kita tidak dapat merasakan cinta dan takut bersama-sama dalam satu waktu karena keduanya adalah emosi yang berlawanan. Jika kita sedang merasa takut, kita tidak sedang merasakan cinta. Begitu pula ketika kita sedang merasakan cinta, kita tidak bisa merasakan takut pada saat yang sama.

Nah, jika kita ingin merasakan kedamaian, maka kita perlu memiliki motivasi cinta untuk semua hal yang kita lakukan. Masalahnya, kita tidak bisa menuangkan lebih banyak cinta dari gelas yang kosong. Kita perlu memiliki banyak cinta untuk dapat membaginya kepada orang lain. Oleh karena itu, kita perlu belajar mencintai diri kita terlebih dahulu. Kalau bukan kita sendiri yang mencintai diri kita, siapa lagi? Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencintai dan berdamai dengan diri sendiri.

Cara-cara Berdamai dengan Diri Sendiri

Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk berdamai dengan diri sendiri.

  1. Kenali diri.

Mengenal diri merupakan hal yang paling utama yang perlu kita lakukan untuk berdamai dengan diri kita sendiri. Cari tahu bagaimana kita merespon berbagai situasi, bagaimana karakter kita, sikap kita? Apakah ada pola-pola yang terjadi selama kita merespon hal-hal di luar diri kita. Bagaimana caranya? Berilah jeda. Luangkan waktu untuk mengamati diri kita sendiri. Buatlah jarak dengan diri sendiri sehingga kita mampu mengamati perilaku kita sendiri. Amati dan analisa perilaku kita di berbagai situasi.

Proses mengenal diri bisa jadi merupakan proses yang perlu kita pelajari seumur hidup. Tentunya semakin sering kita melakukannya, kita akan lebih dalam mengenal dan memahami diri kita. Untuk mengenal diri, kita juga dapat melakukan refleksi dengan menanyakan beberapa hal berikut kepada diri kita:

  1. Apa kekuatan dan kelemahan diri saya? Bagaimana kekuatan dan kelemahan tersebut terjadi dalam diri saya? Selama ini, bagaimana saya menyikapi atau mengatasi kekuatan dan kelemahan tersebut?
  2. Apakah emosi-emosi yang sering muncul, baik emosi positif maupun negatif? Bagaimana polanya? Peristiwa apa yang memicu munculnya emosi-emosi tersebut? Apakah berulang kali terjadi pada diri saya? Bagaimana polanya? Bagaimana respon saya terhadapnya?
  3.  Pikiran apa yang muncul saat saya merespon?
  4. Apa reaksi fisik yang muncul dari emosi-emosi yang sedang saya rasakan?

Mengenali reaksi fisik dan emosi sangat penting untuk membantu kita berdamai dengan diri sendiri. Damai dalam diri berarti terjadi keselarasan antara seluruh bagian dari diri kita, termasuk fisik dan batin. Seringkali kita tidak menyadari atau abai terhadap reaksi fisik ini karena terlalu fokus pada emosi yang sedang kita rasakan. Sebaliknya banyak orang yang fokus pada persoalan-persoalan fisik, tanpa mengetahui bahwa bisa jadi persoalan fisik tersebut merupakan efek dari emosi yang selama ini ia tekan/pendam. Menyadari reaksi fisik tubuh kita bisa menjadi jembatan untuk membantu kita mengenali emosi yang selama tidak tampak.

  1. Penerimaan diri.

Mungkin dalam proses mengamati diri, kita sendiri akan terkejut oleh perilaku-perilaku yang tidak kita duga dari diri kita sendiri. Kita akan menemukan hal-hal yang kita sukai dari diri kita dan hal-hal yang tidak kita sukai dari diri kita. Ada sifat-sifat yang kita anggap baik dan ada sifat-sifat yang kita anggap kurang baik yang melekat di dalam diri kita.

Setiap manusia diciptakan unik. Setiap manusia memiliki perjalanan hidup masing-masing yang membawanya pada sosoknya sekarang. Bahwa saya diciptakan seperti ini oleh Sang Pencipta adalah baik adanya. Maka terimalah diri Anda apa adanya saat ini. Seperti halnya usaha memahami sifat baik dan sifat buruk dari teman, pasangan, orang tua, keluarga, dan saudara kita, seperti itulah yang kita lakukan kepada diri kita. Dengan menerima diri, kita akan mudah berdamai dengan diri kita sendiri. Dengan menerima diri, kita juga akan membangun rasa percaya terhadap diri kita sendiri.

Mengutip perkataan dari salah satu aktor terbaik Indonesia, Muhammad Khan, bahwa dengan mengenal diri kita akan memunculkan rasa percaya diri dan dengan begitu kita akan terus-menerus memberikan dukungan  terhadap diri kita untuk mengusahakan yang terbaik dan mengeluarkan versi yang terbaik dari diri kita.

Di bagian ini – yang perlu diperhatikan: menerima diri tidak sama dengan pasrah tanpa usaha. Menerima kelemahan dan menggunakannya sebagai alibi ketidakmampuan kita mengatasi diri juga berdampak tidak baik dalam jangka panjang . Hal ini secara langsung akan mengafirmasi  diri bahwa kita memang punya sifat negatif dan tidak dapat diperbaiki lagi.

  1. Jujur terhadap diri kita sendiri.

Mulailah membangun kebiasaan untuk jujur terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Menutupi banyak hal supaya terlihat baik dan menyembunyikan keburukan itu melelahkan.  Bersikaplah apa adanya. Latihlah diri untuk terpengaruh perkataan orang lain. Tentunya bukan berarti Anda muncul dan berinteraksi seenaknya tanpa mempedulikan orang lain. Setiap hari kita perlu belajar manusia yang lebih baik. Jadilah versi terbaik dari diri Anda hari ini.

Jika Anda merasa berhasil dengan cara Anda, ingat dan ulangi di kemudian hari. Jika Anda merasa gagal, terima dan peluklah perasaan itu. Selalu ingat bahwa Anda punya kesempatan untuk memulai lagi langkah untuk menjadi manusia yang lebih baik setiap hari.

  1. Latihan Penerimaan Diri

Dalam proses menerima diri Anda, latihlah beberapa hal berikut:

  • Fokuslah pada keinginan dan kebutuhan diri Anda. Berlatihlah untuk mengatakan “Tidak” pada orang lain dan “Ya” pada diri Anda.
  • Rawatlah diri Anda, beristirahatlah dengan cukup dan nyamankah diri Anda sesuai kebutuhan diri Anda.
  • Terima dengan santai diri Anda apa adanya.
  • Prioritaskan waktu untuk diri Anda sendiri, waktu untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai, tanpa menghakimi diri bahwa aktivitas-aktivitas tersebut hanya membuang-buang waktu Anda.
  • Buat batasan untuk melindungi waktu yang telah Anda buat untuk memprioritaskan diri Anda.
  • Pilih waktu khusus untuk menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabat yang membuat Anda ceria dan bersemangat.
  • Bermimpilah! Mimpi yang tinggi, yang besar. Anda bebas bermimpi seluas mungkin. Tanpa batas. Tanpa penghakiman. Buanglah perasaan, “Aku tidak pantas bermimpi seperti itu.”
  1. Cari cara untuk membantu meraih kedamaian.

Carilah cara-cara yang dapat membantu kita untuk meraih kedamaian dengan diri sendiri. Mendengarkan musik, menyanyi, mengambil waktu hening, bermeditasi,  yoga,  berkebun, melakukan hobi, membaca, menulis, berolahraga, membuat kerajinan tangan adalah sebagian kecil metode yang dapat Anda pilih untuk kembali menemukan kedamaian di dalam hati.

Pilihlah cara yang membuat hati Anda lebih tenang sehingga memudahkan Anda untuk berdamai dengan diri sendiri. Ingat, bahwa setiap orang bisa jadi memiliki cara yang berbeda-beda untuk merasakan kedamaian. Hati-hati dan kenali apakah cara itu memang membuat Anda sungguh-sungguh merasa damai atau sekadar pengalihan dari kegundahan saja.

Meskipun kita sudah menemukan cara-cara untuk berdamai dengan diri sendiri, kadang kita perlu atau ingin mempraktekkannya bersama orang lain. Atau memang kita perlu memperkaya referensi untuk memiliki alternatif cara-cara berdamai diri sendiri.

Berikut ini adalah beberapa tempat berlatih Yoga, Self Healing atau Terapi Kesehatan di Bandung yang dapat mendukung Anda berlatih berdamai dengan diri sendiri :

  1. Yoga Leaf Indonesa (Jl. Setra Dago Utama 58, Antapani) @yogaleaf_id
  2. Yoga Gati (JL. Rancakendal Luhur 7, Bandung);
  3. Ananda Marga Yoga Centre (Jl. Sukaresmi IV No.19)
  4. EcoCamp Learning Centre (Jalan Dago Pakar Barat No. 3) @eco.learningcamp
  5. Hanara Wellbeing Centre (Jl. Jend. Gatot Subroto No 68) @hanara_wellbeing
  6. Komunitas Ngayoga Bandung @ngayoga_bdg
  7. Longevitology Bandung, Jl. Jend. Sudirman No. 467

Dan masih banyak tempat lain yang dapat dikunjungi baik di Bandung maupun di kota-kota lainnya.

 

Anda juga dapat mengikuti media sosial (Instagram) yang mendukung proses Anda berdamai dengan diri sendiri, antara lain: @calm, @myeasytherapy, @journey_to_wellness, @petualanganmenujusesuatu, dan juga media sosial beberapa tokoh self-healing yang sering berbagi tips berdamai dengan diri sendiri, misalnya: @adjiesantosoputro, @gobindvashdev, @rezagunawan, @shintasoemarso, @pujiastutisindh.

Carilah informasi dan pilihlah yang paling cocok untuk kebutuhan Anda masing-masing.

Selamat berlatih berdamai dengan diri sendiri.

Referensi:

https://thriveglobal.com/stories/holding-on-to-love-and-unity-in-difficult-times/

https://www.verywellmind.com/theories-of-motivation-2795720

 

Deta Ratna Kristanti

Deta Ratna Kristanti

Deta Ratna Kristanti, atau biasa dipanggil Deta adalah staf KAIL yang senang beraktivitas dengan anak-anak. Memiliki ketertarikan yang besar pada pendidikan anak terutama di komunitas-komunitas pendidikan akar rumput. Aktif membangun jejaring dan mendorong kolaborasi antar komunitas pendidikan. Sedang serius belajar mendongeng agar bisa menyebarkan manfaat dongeng dengan lebih luas.

Related Posts

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Berdamai dengan Alam

[Tips] Berdamai dengan Alam

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors