[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

Oleh : David Ardes Setiady

Satu Manusia, Jutaan Penderitaan

Tanggal 5 Juli 1942 menjadi hari terakhir Anne Frank dan keluarganya menjalani kehidupan bermasyarakat yang bebas. Setelah itu keluarga Anne Frank harus bersembunyi sampai akhirnya tertangkap oleh tentara Nazi dan hidup mereka berakhir di kamp konsentrasi. Anne Frank menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 16 tahun bersama dengan korban holocaust lainnya. Ia menjadi korban dari pemikiran gila seorang Adolf Hitler yang mengagungkan ras Arya (bangsa Jerman) dengan membantai ras lainnya, terutama (namun bukan satu-satunya) keturunan Yahudi. Apakah Adolf Hitler ada masalah dengan keturunan Yahudi? Ataukah Adolf Hitler bermasalah dengan dirinya sendiri yang mewujud pada kebencian terhadap keturunan Yahudi?

Adolf Hitler adalah salah satu tokoh bersejarah yang mengukir betapa kebencian dari seorang individu dapat membakar sebuah negeri (bahkan daratan Eropa) dengan pembantaian yang tidak pernah terbayangkan. Hari ini, kamp-kamp konsentrasi tersebut telah menjadi museum untuk mengingatkan generasi-generasi selanjutnya tentang brutalitas manusia yang dapat terjadi karena kebencian tersebut. Banyak yang sudah menganalisis tentang kemungkinan-kemungkinan latar belakang yang mendasari pemikiran Adolf Hitler dalam ambisinya membawa negara Jerman menjadi yang terkuat dan terhebat di dunia ini. Yang mana semuanya itu tidak bisa dipisahkan dari kebenciannya terhadap keturunan Yahudi, sebagai fondasi pemikiran “Deutch uber alles” (bangsa Jerman di atas segalanya). Adolf Hitler merupakan produk masyarakat Eropa pada masa itu, yang berhasil tumbuh menjadi monster pembantai dengan kelihaian propagandanya dan membakar Eropa dengan api kebencian terhadap keturunan Yahudi.

Dari situ, kita bisa mengatakan ada yang salah dengan diri Adolf Hitler. Kebenciannya merupakan salah satu konflik diri yang tidak berhasil ia menangkan, walaupun bisa saja ada yang mengatakan bahwa kebencian itu pula yang mengantarkannya ke puncak kekuasaan negara Jerman dan mencatatkan namanya dalam sejarah kelam peradaban modern manusia. Hitler tidak berhasil berdamai dengan dirinya sendiri.

 

Konflik Pembentuk Diri

Kebencian dalam diri seorang Adolf Hitler dapat kita lihat sebagai indikasi adanya konflik di dalam dirinya dan tidak usai. Hal ini dengan jelas terlihat dalam buku yang ditulisnya, Mein Kampf, di mana ia menuangkan isi pikirannya, mulai dari kisah masa kecilnya sampai dengan visinya untuk kejayaan Jerman. Dari buku itulah, kita dapat melihat beberapa titik-titik penting kehidupannya yang dianggap oleh beberapa ahli sejarah sebagai titik yang cukup berpengaruh dalam pembentukan dirinya beserta seluruh sikap dan pandangan politiknya.

Adolf kecil diketahui pernah terlibat dalam paduan suara gereja (Kristen Protestan) dan sempat mempertimbangkan diri untuk menjadi seorang pendeta. Hal ini sungguh tidak terduga bukan? Konflik diri yang muncul pertama kali, mungkin adalah peristiwa kematian adiknya yang bernama Edmund pada tahun 1900. Peristiwa tersebut telah mengubah karakternya dari yang percaya diri dan mudah bergaul menjadi seorang pemurung. Dari situ, ia mulai sering bertengkar ayahnya. Hal ini berlanjut ketika ayahnya mengabaikan hasratnya untuk menjadi seorang seniman dan memaksanya masuk ke sekolah teknik. Namun kematian ayahnya pada tahun 1903, tampaknya juga berpengaruh terhadap perkembangan konflik di dalam dirinya. Diketahui bahwa prestasi sekolahnya menurun setelah peristiwa tersebut.

Setelah lulus SMA pada tahun 1905, Hitler pindah ke Wina untuk menjalani kehidupannya sendiri. Ia sempat mencoba masuk ke Akademi Seni Rupa Wina, namun ia ditolak sebanyak dua kali. Ibunya meninggal di tahun 1907 dan secara tidak langsung mempengaruhi kemampuan finansial Hitler hingga akhirnya ia kehabisan uang. Kondisi tersebut membuatnya harus tinggal di sebuah rumah pekerja miskin di Meldemannstrasse. Pada masa itulah, Wina merupakan kota yang penuh prasangka agama dan rasisme, khususnya kepada kaum Yahudi, sehingga pandangan anti-semitisme merupakan hal yang biasa. Pada titik ini, Adolf Hitler sedikit banyak terpengaruh oleh pandangan tersebut, walaupun diketahui pada masa mudanya Hitler pernah memiliki teman-teman orang Yahudi selama di Wina.

Penguatan atas paham anti-semit ini diketahui baru berkembang lebih lanjut, ketika Adolf Hitler bertemu dengan Anton Drexler (pendiri Partai Pekerja Jerman – Deutsche Arbeiterpartei) pada tahun 1919. Sedikit banyak hal ini dipicu oleh kekecewaannya pada kondisi Jerman yang kalah perang dan dipaksa tunduk pada perjanjian Versailles yang menambah keterpurukan bangsa Jerman. Sejak masih muda, Hitler diketahui sudah memiliki sikap patriotis terhadap Jerman, bahkan ketika masih tinggal di Austria. Hal ini yang membuat kita paham, mengapa ia begitu kecewa dengan kekalahan Jerman pada perang dunia pertama. Kekecewaan itu dapat dikatakan sebagai perkembangan dari konflik diri tahap akhir yang menguatkan tekadnya untuk mengambil tampuk kekuasaan pemerintahan Jerman dan menjalankan pemikirannya sebagaimana yang tertuang dalam bukunya Mein Kampf.

Dari situ, kemudian sosok Adolf Hitler dipercaya untuk menjadi Kanselir (pimpinan tertinggi) Jerman dan membawa Jerman “berjaya” serta mencatatkan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah peradaban manusia, yakni holocaust

Sampai di titik ini, kita bisa mendapati beberapa konflik dalam kehidupan Adolf Hitler yang tidak terselesaikan, menumpuk dan mempengaruhi pemikirannya. Mulai dari kematian adiknya sampai dengan penolakan Akademi Seni Rupa Wina. Masa pendewasaan Hitler di kota Wina, yang pada saat itu dalam keadaan penuh prasangka turut membentuk sikap anti-semitismenya. Sedangkan, kegagalan yang ia alami di satu sisi turut menempa dirinya menjadi seorang pribadi yang teguh dan bertekad kuat. Meskipun ia hanya lulusan SMA,  ia mampu meraih tampuk kekuasaan di partai Nazi. Sikap patriotisme Hitler dengan kombinasi anti-semitnya, turut melahirkan penderitaan jutaan manusia pada masanya. Sungguh peristiwa besar yang tidak lagi kita inginkan. 

 

Aktivisme Bebas Konflik Diri

Adolf Hitler mungkin bisa dikatakan memiliki kehidupan yang cukup sulit. Siapa yang dapat menyangka, seorang lulusan SMA dan ditolak sebuah akademi seni, kemudian dipercaya untuk memimpin sebuah partai bahkan negara? Mungkin kebencian Hitler terhadap kaum Yahudi, yang saat itu memegang banyak posisi penting dalam perekonomian di Eropa adalah wujud kekecewaannya atas hidup ini. Kematian adiknya, pengabaian yang dilakukan ayahnya terhadap mimpi untuk menjadi seniman, kematian ibunya dan keterpurukan ekonomi, penolakan dari Akademi Seni Rupa Wina, ditambah juga penolakan dari Angkatan Darat Austria adalah hal-hal yang turut mengeraskan diri Adolf Hitler menjadi sosok yang keras dan memiliki prinsip yang teguh pula. Ketika akhirnya mendapatkan kekuasaan sebagai pemimpin tertinggi Jerman, Hitler malah mewujudnyatakan kebencian menjadi tindakan pembantaian. Konflik diri seorang Adolf Hitler sedikit banyak menjadi alasan baginya untuk habis-habisan memperjuangkan keberhasilan bangsa Jerman setelah kekalahan pada perang dunia pertama.

Kita jelas berbeda dengan Adolf Hitler, namun sebagai manusia, kita tidak dapat terhindar  dari konflik diri. Peristiwa-peristiwa hidup tidak selalu menyenangkan. Bahkan ada saja hal atau orang yang muncul tanpa kita duga dan memberikan kekecewaan yang amat sangat memukul mental kita. Contohnya, sebagai seorang anak, kita menganggap orang tua kita pasti menyayangi dan akan memberikan segala keinginan kita. Namun bagaimana bila ternyata tidak? Mungkin anak tidak mengharapkan pemberian berupa barang. Mungkin yang diinginkan adalah waktu. Tapi ayah atau ibu karena faktor kesibukan kerja, akhirnya tidak pernah memiliki waktu yang cukup sebagaimana yang diharapkan oleh anak. Kondisi itu akan menjadi kekecewaan, yang mungkin disikapi dengan antipati / tidak peduli. Akhirnya hubungan anak dan orang tua menjadi renggang. Lalu anak bertumbuh menjadi pribadi yang tidak memiliki empati dan mungkin dengan nilai hidup yang jauh dari kemanusiaan. Paling ekstrim, menjadi seorang antisosial dan psikopat. Tunggu…apakah ini menjadi mirip dengan Hitler?

Para aktivis sebagai manusia, tidak lepas dari proses tumbuh kembang yang tidak selalu enak dan nyaman. Bahkan sebaik apapun kondisi keluarga, lingkungan di luar tidak selamanya menyediakan pengalaman menyenangkan. Namun, sebagian pengalaman tidak menyenangkan itu dibutuhkan untuk membentuk diri. Pengalaman tidak menyenangkan itu di antaranya adalah konflik di dalam diri dicirikan dengan adanya pertentangan yang berkecamuk. Pengalaman tersebut bisa saja telah membantu kita menemukan area aktivisme kita dan telah membuat kita menjadi sosok yang juga telah cukup konsisten berjuang pada isu tersebut.

Persoalannya adalah apabila pengalaman tersebut masih berkecamuk dan membuat diri kita kerap mengalami kelelahan, frustrasi, dan mungkin terkadang terselip amarah. Maka jangan-jangan, kita belum berdamai dengan diri sendiri. Sepak terjang kita dalam aktivisme menjadi pelampiasan, hal baik yang ingin dihasilkan malah menuai persoalan yang lebih kompleks.

Perjalanan hidup seorang Adolf Hitler, terutama di awal-awal kehidupannya, mungkin masih relevan dengan kehidupan banyak orang saat ini. Namun sikapnya terhadap konflik diri, telah membuatnya bertumbuh menjadi seorang monster.

Maka, bilamana kita sering mengalami frustrasi dalam kerja aktivisme kita, mungkin itu menjadi pertanda untuk kita menarik diri sejenak dan meluangkan waktu berdialog dengan diri sendiri.

“Apakah saya tidak bahagia saat ini? Mengapa?”

“Apakah perasaan ini berkaitan dengan orang lain?”

“Apakah perasaan itu berasal dari masa lalu?”

“Apakah yang saya harapkan bila diri saya yang sekarang bisa kembali ke masa itu?”

Kerja aktivisme kita yang baik, bila dilandasi oleh motivasi yang tidak sehat karena konflik diri, tidak akan benar-benar menyelesaikan masalah. Malah jangan-jangan kita memelihara masalah itu sebagai kedok aktivisme kita, lalu mengundang orang-orang lain di dalamnya. Atau apakah masalah itu juga berkontribusi pada persoalan yang terjadi di negara ini?

Semua pemimpin di dunia ini ditempa oleh permasalahan hidup, mereka pernah mengalami konflik diri. Namun tidak semuanya berhasil berdamai dengan dirinya sendiri. Ada kemungkinan, mereka yang gagal berdamai masih bisa menjadi penguasa. Namun kekuasaannya tidak akan mendatangkan kebahagiaan bagi banyak orang, melainkan penderitaan. Hitler adalah salah satu buktinya.

David Ardes Setiady

David Ardes Setiady

David Ardes Setiady adalah alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran. Ia memiliki impian agar setiap manusia dapat hidup seturut panggilan sejatinya. Ia pernah belajar tentang hipnoterapi yang seutuhnya dipergunakan membantu orang-orang yang membutuhkan. Bergabung di KAIL sebagai staf pada tahun 2012-2014 sebagai penanggung jawab dokumentasi dan menjadi trainer berbagai kegiatan Pengembangan Diri KAIL. Setelah itu, ia pindah ke Medan dan secara rutin menjadi relawan kontributor Proaktif Online. Saat ini ia menjabat sebagai Pengawas KAIL.

Related Posts

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] CERITA DARI SEBERANG

[Pikir] CERITA DARI SEBERANG

[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

[Pikir] Menjadi Manusia

[Pikir] Menjadi Manusia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors