[Opini] Perjuangan Peduli Lingkungan Emansipatoris: Menggali Makna di Tengah Ketidakberdayaan
Refleksi sesi Kelas KAIL Online ke-20:
Beyond a climate of fear: from technocratic control to emancipatory care in climate mitigation (Isak Stoddard)
Belakangan ini, saya merasa lelah dengan semua pembicaraan tentang perubahan iklim. Bukan karena saya tidak peduli, tetapi lebih karena saya merasa sangat tak berdaya. Perasaan itu memperburuk kecemasan ekologis saya, yang terus berkembang seiring dengan ketidakpastian dunia yang semakin tak terkendali. Semakin banyak saya membaca dan mencoba memahami, semakin saya merasa seperti terperangkap dalam sistem ini, bukan menjadi bagian dari solusi.
Di satu sisi, saya merasa seperti sedang dibohongi. Semua upaya kecil yang dilakukan orang-orang tampak sia-sia. Tidak ada cukup ruang untuk perubahan besar. Kita terjebak dalam lingkaran konsumerisme yang tak pernah berujung: pembangunan kota yang tanpa henti, pembakaran plastik, dan ketergantungan pada sumber daya alam yang tak terbatas. Semua ini dilakukan demi memenuhi keinginan yang tak pernah puas.
Namun, baru-baru ini, sebuah video dari Kurzgesagt membuka mata saya dengan cara yang tidak saya duga. Video itu, yang sepertinya biasa saja, justru menegaskan semua rasa frustasi yang saya pendam. Mereka menyajikan data yang akurat, bukan untuk menambah rasa takut, tetapi untuk menggambarkan kenyataan yang ada dengan cara yang realistis. Mereka mengatakan, “Kita membutuhkan politisi yang serius terhadap sains.” Saya tertawa getir mendengar kalimat itu, seperti tertawa pada kenyataan bahwa kita semua akan berakhir dalam kehancuran jika kita terus seperti ini.
Es di kutub mencair. Lautan terbakar. Mungkin itu hanya statistik yang semakin memperjelas betapa kita telah sampai pada titik kritis. Mengganti sedotan plastik memang penting, tetapi apakah itu cukup? Saya sering kali merasa hampa menghadiri seminar-seminar atau membaca artikel-artikel tentang keberlanjutan. Setiap kali, saya membawa keraguan dalam hati, namun entah kenapa saya tetap hadir. Mungkin karena saya masih berharap—meskipun harapan itu tidak berbasis pada alasan yang jelas.

Sehari setelah saya mengikuti kelas KAIL yang dipandu oleh Isak Stoddard, dan saya merasa terhubung kembali. Dalam diskusi itu, saya mendengar pandangan yang mengakui ketidakadilan dalam cara kita menangani masalah lingkungan. Keputusan-keputusan yang dibuat oleh pihak berkuasa, katanya, seringkali memperlebar kesenjangan antara negara kaya dan negara miskin. Tidak hanya itu, ketidakadilan yang masih ada akibat kolonialisme juga harus dipertimbangkan dalam setiap solusi. Isak kemudian menyebutkan sebuah blog yang ia baca, yang menggambarkan alternatif cara kita menghadapi krisis lingkungan: perawatan pembebasan.
Ide ini menantang cara kita melihat masalah iklim yang selama ini lebih banyak dikendalikan dengan pendekatan teknokratik—berdasarkan bukti ilmiah dan kebijakan berbasis data yang berfokus pada kontrol suhu dan mitigasi bencana. Namun, menurut blog tersebut, kita seharusnya mengubah pendekatan ini, beralih dari “kontrol” menuju “perjuangan yang peduli.” Alih-alih hanya mengendalikan suhu rata-rata global, kita diajak untuk merawat perubahan iklim yang alami dengan cara yang lebih manusiawi, melalui partisipasi aktif warga, aksi kolektif, dan dialog demokratis yang mendorong kesetaraan dan rasa saling peduli.
Meskipun ini tampaknya jauh lebih berat dan kompleks, saya merasa ada titik terang. Saya tahu, saya mungkin tidak bisa membuat perubahan besar, namun saya tidak bisa hanya duduk diam. Jika saya menerima keadaan ini begitu saja, saya akan merasa sangat bersalah. Meski terasa sia-sia, saya ingin berbuat sesuatu. Saya tahu tidak banyak yang bisa saya lakukan, namun saya merasa lebih baik jika saya mencoba daripada tidak sama sekali.
Belum lama ini, saya selesai membaca buku Braiding Sweetgrass karya Robin Wall Kimmerer, yang menghadirkan perspektif yang begitu lembut namun mendalam tentang alam. Kimmerer mengajarkan kita untuk melihat alam bukan sebagai objek yang bisa kita kuasai, tetapi sebagai mitra yang harus kita rawat. Dalam bukunya, ia mengenalkan konsep “resiprositas restoratif,” tentang memberi dan menerima, tentang bagaimana rasa syukur bisa menjadi obat bagi dunia kita yang sudah terperangkap dalam sistem kapitalisme. Saya terharu membaca buku ini, karena di dalamnya saya merasa seperti mendapat pelukan hangat dari seorang ibu yang mencoba menenangkan setelah kita melewati sesuatu yang berat.
Buku itu mengingatkan saya bahwa kita telah banyak mengambil alam begitu saja. Kita sering berpikir bahwa kita menguasainya, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita hanya terhubung dengan alam dalam siklus konsumsi yang tak pernah berhenti. Kita lebih banyak khawatir tentang apa yang bisa kita dapatkan darinya, daripada bagaimana kita bisa merawat dan menjaganya. Namun, jika kita melihat alam dengan penuh cinta dan rasa hormat, saya percaya kita akan melihat dunia dengan cara yang lebih positif, dan kita bisa tumbuh bersama-sama.
“Kamu tidak bisa melakukan semua kebaikan yang dibutuhkan dunia, tetapi dunia membutuhkan semua kebaikan yang bisa kamu lakukan.”
Saya tidak tahu banyak tentang ilmu lingkungan, dan saya rasa saya tidak akan bisa mengubah dunia dengan cara yang besar. Namun, saya merasa setiap upaya kecil yang saya lakukan, seperti hidup lebih sederhana, lebih menghargai pohon-pohon dan tanah, tetap berharga. Mungkin di mata dunia, itu tampak tidak berarti. Tetapi bagi saya, itu adalah langkah kecil menuju pemahaman bahwa setiap hal yang kita lakukan, meski kecil, tetap membawa dampak. Perawatan pembebasan adalah cara berpikir yang lebih selaras dengan hati saya—bukan soal kontrol, tetapi soal memberi, merawat, dan berjuang bersama untuk dunia yang lebih adil dan berkelanjutan.

No Comment