[Opini] Pengalaman Belajar Yang Mendidik

[Opini] Pengalaman Belajar Yang Mendidik

Kita bisa belajar apa pun yang kita mau, tapi proses belajar bisa bersifat mendidik dan bisa juga tidak. Belajar pada dasarnya adalah proses memodifikasi pengetahuan, keterampilan, strategi, kepercayaan, sikap, atau perilaku yang kita punya. Proses modifikasi ini terjadi melalui pengalaman-pengalaman tertentu (Schunk, 2012). Namun tidak semua pengalaman bersifat mendidik, ada juga pengalaman yang tidak mendidik. Meskipun proses belajar pada zaman ini sangat mudah karena adanya perkembangan teknologi, kita harus tetap kritis terkait apa, bagaimana, dan kenapa kita mempelajari sesuatu. Apapun yang kita pelajari, tujuannya haruslah ke arah yang lebih baik, yang menjadikan kita lebih manusiawi. 

Dewey (1986) membedakan pengalaman menjadi dua, yakni pengalaman yang mendidik dan pengalaman yang tidak mendidik. Pengalaman yang mendidik memungkinkan kita untuk bertumbuh. Sebagai contoh, saya ingat ketika saya pertama kali mengikuti sebuah pelatihan KAIL mengenai gaya hidup yang menghasilkan nol sampah. Saat itu panitia membawa masakan yang dimasak sendiri dari rumah. Masakan diletakkan di wadah-wadah yang bisa dicuci dan digunakan kembali. Seluruh peserta makan dengan piring rotan yang dilapisi daun pisang. Setelah makan, sampah-sampah yang tersisa adalah sampah organik seperti tulang ayam atau daun pisang. Sampah-sampah tersebut bisa dibuang ke keranjang Takakura agar mengalami proses komposting. Saat itu pertama kalinya saya melihat keranjang Takakura dan terkagum-kagum, bagaimana proses komposting bisa dilakukan di dalam rumah. Sistemnya tampak sederhana. Kata seorang teman, keranjang Takakura bisa dibuat dengan menggunakan bantalan sekam, pupuk kompos, kardus, dan keranjang Takakura yang bisa di bawa ke mana-mana. Pengalaman pertama menggunakan keranjang Takakura berkesan dan saya mulai tertarik untuk belajar komposting, meskipun tidak langsung mencoba melakukan komposting sendiri. Sekitar 10 tahun kemudian, saya belajar dari internet mengenai komposting. Saya membaca artikel dan menonton youtube tentang komposting. Baru belakangan ini saya mulai melakukan komposting (sisa sayur-sayuran, buah-buahan, dan telur) di rumah menggunakan sistem Bokashi yang juga bisa disimpan di dalam rumah. Pengalaman saya menggunakan keranjang Takakura merupakan pengalaman yang bersifat mendidik bagi saya, karena memungkinkan kesadaran saya tentang komposting berkembang, yang kemudian membuat saya mencoba belajar melakukan komposting sendiri. 

opini1-2
Keranjang Takakura 
(Sumber: https://ypbb.web.id/resource/pembuatan-dan-penggunaan-kompos-keranjang-takakura/)

 

opini2-2
Makan dengan daun saat pelatihan Kail (Sumber: https://www.instagram.com/p/BYU_wlEjDX2/)

Ada juga pengalaman-pengalaman yang tidak bersifat mendidik, termasuk pengalaman belajar. Saat ini, di internet tersedia banyak sekali konten yang memungkinkan kita mempelajari hal-hal baru dan mengetahui hal-hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Sebagai contoh, ada banyak konten di internet yang dibuat oleh pihak-pihak yang memang berniat menjual sesuatu (pasar). Konten-konten ini seringkali ditampilkan dengan begitu menarik sehingga timbul keinginan untuk memiliki atau membeli sesuatu, meskipun hal tersebut belum tentu baik untuk kita. Saya, misalnya tertarik pada sebuah permainan daring. Sebenarnya, permainan ini melatih kita untuk belajar mengembangkan penalaran dan strategi agar kita bisa menang. Di sisi lain permainan tersebut bisa membuat ketagihan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat digunakan untuk bermain. Saat bermain saya juga menjadi lebih cuek dengan sekitar. Si pembuat permainan ini telah mendesain permainannya sedemikian rupa sehingga kita tertarik membeli jasa tertentu. Ada kemungkinan kita kalah pada tingkatan permainan tertentu. Di layar akan muncul tawaran untuk membeli “nyawa”, semacam waktu tambahan untuk bermain meskipun pernah kalah. Dengan membeli nyawa ini kita bisa lanjut bermain dengan lebih leluasa. Jujur, Kadang saya tergoda ingin membeli produk tersebut. Untungnya saya sadar bahwa itu membuang-buang uang. Pengalaman bermain daring dapat saja menjadi pengalaman yang mendidik tapi bisa juga tidak. Ketika permainan daring tersebut membuat saya cuek dengan sekitar, ketagihan, dan bahkan harus membayar uang banyak untuk bisa terus bermain, maka sebenarnya saya tidak tumbuh ke arah yang lebih baik. Pengalaman tersebut menjadi pengalaman yang tidak mendidik.

Zaman ini memungkinkan kita belajar dengan begitu mudahnya. Gawai yang kita pegang hampir setiap hari bisa menjadi sarana untuk belajar apa saja. Namun, selain belajar dari luar, kita juga harus senantiasa belajar dari dalam. Tanyakan pada diri kita sendiri, “Kita ingin menjadi manusia yang seperti apa?”, “Apa tujuan saya hidup di bumi ini?”, “Apakah saya bisa berperan untuk kebaikan? Untuk kemanusiaan? Bagaimana caranya?”. Pertanyaan-pertanyaan ini, akan menjadi bekal dalam menentukan apa, kapan, bagaimana, dan kapan kita ingin belajar sesuatu. Harapannya, pengalaman-pengalaman belajar kita menjadi pengalaman yang mendidik, dan bukan sebaliknya.   

 

Dhitta Puti Sarasvati

Dhitta Puti Sarasvati

Dhitta Puti Sarasvati, alumnus Teknik Mesin ITB dan Pendidikan Matematika University of Bristol. Memulai karirnya sebagai guru honorer di MTs. Al-Huda Bandung (2002-2007). Sejak 2011 sampai sekarang mengajar di Fakultas Pendidikan, Universitas Sampoerna, Jakarta. Tahun 2021 terpilih menjadi Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Guru Indonesia (IGI). Tahun 2018 mendirikan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka). Tahun 2021 mendirikan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Membaca (Gernas Tastaba). Penulis buku “Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari” (2022) "Memikirkan Kembali Arah Pendidikan Indonesia: Kritik, Potensi, dan Rekomendasi" (2022),  buku "Belajar Matematika Gernas Tastaka" (2019),   paper “Indonesia Country Case Study: Global Education Monitoring Report" (UNESCO, 2017),  buku "Mendidik Pemenang Bukan Pecundang" (2016), dan "Buku Hitam Ujian Nasional"(2012). Dapat dihubungi melalui email: dputi131@gmail.com, IG: @dhittaputi

Related Posts

[Opini] Ke Alam, Kembali Hidup Komunal: Refleksi Kritis Tentang Makan Berkesadaran

[Opini] Ke Alam, Kembali Hidup Komunal: Refleksi Kritis Tentang Makan Berkesadaran

[Opini] Kedaulatan Pangan: Kita Sedang Berjuang atau Hanya Sedang Mengigau?

[Opini] Nasib “Sorgum” dalam Terang Pascakolonial

[Opini] Nasib “Sorgum” dalam Terang Pascakolonial

[Opini] Adopsi Pertanian Berbasis Agroekologi dan Regeneratif pada Sistem Pangan Indonesia untuk Melampaui Komitmen Iklim Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia

[Opini] Adopsi Pertanian Berbasis Agroekologi dan Regeneratif pada Sistem Pangan Indonesia untuk Melampaui Komitmen Iklim Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 33
Total Visitors: 87883

Visitors are unique visitors