[Opini] Cura Personalis
Para pembaca, sejenak coba perhatikan orang-orang di sekitar Anda. Cermati dan amati, bagaimana bentuk wajahnya, tinggi badannya, perlengkapan apa saja yang mereka bawa, atau pakaian yang mereka kenakan. Sekiranya Anda sekalian berada di ruang publik, Anda akan menemukan bahwa dari beberapa ciri yang saya sampaikan, sepertinya semua orang tadi berbeda-beda semua; tidak ada yang persis sama satu dengan yang lainnya. Kemudian jika Anda sekalian barangkali mengamati lewat interaksi lebih dalam, Anda akan menemukan lagi, suara, imajinasi, cita-cita hingga persepsi dari orang-orang tersebut kembali tidak sama. Masing-masing membawa: berada (being) dan menjadi (becoming), melalui proses dan pengalaman yang lain, hal-hal yang menjadikan setiap pribadi tersebut berbeda dan unik.
Perbedaan dan keunikan antar individu tersebut yang kemudian menjadi sentral dan inti pemikiran pendidikan Jesuitian, sebuah tarekat di dalam Gereja Katolik. Para Jesuit, anggota Serikat Jesus, berdiri di bawah payung paradigma Teologi Ignasian yang menganggap bahwa Tuhan menciptakan manusia dan juga ciptaan lainnya berbeda-beda dan unik. Keunikan ini kemudian yang harus digali dan menjadi kerangka utama dalam membangun sistem pendidikan manusia. Sebagai praksisnya, semisal para pembaca pergi sekolah-sekolah yang dikelola oleh Serikat Jesus, niscaya Anda akan menemui pendekatan yang berbeda dari sekolah lain. Di Kolese Gonzaga, Jakarta dan Kolese de Britto, Yogyakarta misalnya, sebagian peserta didik laki-laki berambut gondrong selain itu peserta didik sekolah tersebut hanya menggunakan seragam beberapa hari saja dalam seminggu. Hal tersebut merupakan artikulasi dari keunikan individu yang coba ditekankan. Pendekatan berbasis individu tersebut yang kemudian dikenal dengan istilah Cura Personalis.
Cura Personalis sebagai pendekatan yang mengedepankan keunikan individu barang tentu memiliki kesulitannya sendiri. Guru, mentor, dan fasilitator yang bertugas dituntut untuk dapat memahami dan melihat dunia serta isi peserta didiknya berdasarkan apa yang mereka alami dan mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini membutuhkan keahlian dan secara khusus kesabaran serta simpati dan empati yang seluas-luasnya. Sekiranya di satu kelas ada 30 murid, maka setiap guru harus mampu membangun dan melihat 30 individu yang masing-masing berbeda satu dengan yang lainnya. Melelahkan, tentu saja, dan butuh kesabaran tinggi untuk dapat memahami bahwa setiap aksi dan reaksi dari setiap peserta didik adalah buah hasil dari apa yang mereka tangkap, mereka rasakan, mereka proses, dan mereka alami secara sendiri-sendiri.
Mesin Cetak Pendidikan
Terlepas dari kerepotan teknis penerapan Cura Personalis dalam pendidikan memiliki urgensi tersendiri di masa kini. Sekolah, sebagai institusi pendisiplinan menurut Foucault atau salah satu Ideological State Apparatus (ISA) menurut Althusser, menjadi sarana kepengaturan baru yang berfungsi untuk menghasilkan luaran yang serupa dan sama. Sekolah-sekolah kini bekerja sebagai mesin cetak dan juga kontrol kualitas komoditas baru: sumber daya manusia. Lewat berbagai instrumen seperti kurikulum, seragam, peraturan, hingga ujian, sekolah mau menghasilkan manusia-manusia seragam sesuai dengan standar masyarakat industri. Hal tersebut merupakan suatu proses yang pada akhirnya dapat mematikan kreativitas individu dan keunikan yang dimiliki oleh setiap peserta didik.
Individu-individu yang unik tersebut kemudian terjebak dalam salah satu konsekuensi industrialisasi: teralienasi dari dirinya sendiri. Berbagai minat dan bakat yang dibawa masing-masing individu tersebut ditebas habis dan menjadikan mereka terasing dalam dunia pendidikan. Yang mereka lakukan di dalam proses pendidikan bukan lagi membangun diri dan kompetensi melainkan mengejar standar-standar yang ditentukan baik standar kompetensi maupun standar perilaku. Matinya kreativitas juga meletakkan para peserta didik dalam kegamangan dalam menentukan pilihan sendiri dan menjadi pembelajar yang mandiri.
Menumbuhkan Kesadaran
Salah satu tujuan pendidikan, dalam hemat saya, sebab barang tentu Anda memiliki versinya yang lain, adalah menumbuhkan kesadaran kritis dan emansipatif. Pendidikan adalah sarana pembebasan dari berbagai bentuk penindasan yang praktiknya dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Adalah suatu pencederaan ketika sarana pendidikan justru secara implisit menjadi sarana penindasan itu sendiri. Cura Personalis hadir sebagai pendekatan alternatif di mana peserta didik dapat menjadi dirinya sendiri, menghargai keunikan dan perbedaan, dan pada akhirnya mampu membongkar sekat-sekat belenggu di dalam pendidikan. Berdasarkan perspektif tersebut, pendidikan dasar dan pendidikan tinggi dituntut mampu menghasilkan bukan manusia-manusia seragam yang kemudian masuk ke dalam jaring-jaring akumulasi kapital, melainkan intelektual-intelektual yang secara konstan mampu berdialektika, mendekonstruksi dan merakit kembali ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan.
Kesadaran peserta didik menjadi penting sebab setiap individu, menurut Cura Personalis, harus mampu melihat dan menempatkan diri di dalam niche atau relung-relung yang sesuai dengan keunikannya masing-masing. Kesadaran dan kemampuan untuk secara kritis mengenali situasi dan mengenali diri sendiri untuk mengambil posisi tersebut yang juga menjadi luaran dari pendidikan a la Cura Personalis.
Dalam prosesnya yang sempat saya sampaikan tidak mudah sebelumnya, peran tenaga pendidik, guru, dan dosen, menjadi fasilitator yang harus secara seksama memperhatikan tumbuh kembang peserta didiknya satu-per satu. Ini menjadi tantangan lain karena seperti yang sering sekali kita dengar, tenaga pendidik dan pengajar sangat tersita waktunya untuk hal-hal lain yang mengakibatkan mereka tidak mampu mengenali peserta didik mereka sendiri: beban administrasi dan kebutuhan sehari-hari yang tidak mampu mereka penuhi dari penghasilan mereka sebagai tenaga pendidik. Jangankan minat bakat serta keunikan pribadinya, identitas peserta didik kadang luput diperhatikan.
Cura Personalis sebagai suatu pendekatan yang ingin menumbuhkan kesadaran melalui aktualisasi diri para peserta didik harus dilakukan secara sistematis. Peran peserta didik sebagai sentral, harus ditumpu di atas pondasi tenaga pendidik dan kurikulum yang mumpuni. Peserta didik, sebagai awalan harus dirangsang untuk mengenali diri sendiri melalui berbagai kegiatan dan tugas institusi pendidikan tinggi adalah menyediakan ruang dan infrastruktur yang aman dan mendukung peserta didik mengaktualisasi dirinya.
Terlebih, di era saat ini di mana segalanya tampak bisa terjadi dan realitas dengan mudah dapat diproduksi dan direproduksi, keunikan adalah kekuatan. Diversitas dan keunikan adalah bahan bakar utama kemajuan kemanusiaan saat ini. Secara ironis, diversitas sendiri terancam melalui sektarianisme ataupun paradoks toleransi yang nampaknya semakin hambar maknanya. Cura Personalis mencoba mengedepankan keunikan individu dan mengenali serta menghargai perbedaan yang terbentuk sebagai basis dalam kehidupan dengan sesama.
Ihwal Etika: Tantangan Relativisme
Ketika Anda, para pembaca, membaca paradigma dan pendekatan Cura Personalis berdasarkan uraian di atas maka dapat terlihat bagaimana proses yang ditekankan dan dibebankan kepada individu dapat berisiko menimbulkan risiko relativisme: tidak ada standar baku yang dapat dirujuk bersama. Segalanya menjadi individu-sentris. Jika demikian, ke mana seseorang dapat bersandar dan bagaimana suatu konsensus dapat terbentuk? Terlebih, jika kita bicara perkara moral dan standar etika harusnya dibentuk melalui pendidikan, bukan?
Jawaban pertanyaan tersebut dikembalikan kepada paradigma yang meyakini bahwa setiap individu diberikan piranti moral berupa moral conscience atau “kesadaran moral” yang terejawantah dalam suara hati dan hati nurani. Magnis-Suseno (2006) menjelaskan bagaimana suara hati dalam setiap individu adalah tidak dapat ditawar-tawar dan karenanya bersifat mutlak. Tugas setiap individu adalah mampu menggali ke dalam dan merengkuh suara hati tersebut sebagai suluh dalam menghadapi berbagai dilema etika dan moral serta membangun kesadaran moral masing-masing individu; membantu menentukan apa yang baik dan buruk dan bersifat objektif karena tujuan dan hakikat manusia adalah pada dasarnya, jauh di dalam sana, adalah sama.
Dengan demikian, pendekatan Cura Personalis hendak membuka ruang-ruang bagi setiap individu untuk dapat menemukan conscience-nya masing-masing. Individu yang mampu menemukannya akan mampu membangun kerangka etika dan kesadaran moral yang pasti dan diperkuat melalui kesadaran yang terbentuk melalui penghargaan terhadap keunikannya. Keunikan tidak hanya menjadi penting bagi kemampuan praktis namun juga dalam pembentukan dan pertumbuhan kesadaran moral.
Nota Bene
Para pembaca, tulisan singkat di atas menjelaskan bagaimana urgensi Cura Personalis dalam menghadapi tantangan pendidikan yang industrialis. Tantangan dalam penerapannya muncul mulai dari paradigma pendidikan, kurikulum, hingga kualitas guru, dosen, atau tenaga pendidik. Pendekatan ini juga berfungsi dalam menumbuhkembangkan etika dan moral peserta didik melalui ruang-ruang aman individu dan mengasah kesadaran moral sebagai sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar.
Sebagai pendekatan yang mengedepankan keunikan individu, Cura Personalis juga diharapkan mampu memperkuat fungsi peran pendidikan yang kritis dan emansipatif. Dalam konteks pendidikan kritis, tantangan dan permasalahan objektif dunia dikembalikan kepada peserta didik untuk dapat, melalui kesadaran peserta didik, menemukan nichenya di dalam tantangan tersebut. Cura Personalis menjadi salah satu pendekatan yang mampu mendukung pendidikan berbasis peserta didik, pendidikan kritis. Demikian, semoga para pembaca berkenan.


Narasi yang sering di bangun oleh kebanyakan orang tua menyekolahkan anaknya “menuntut lebih baik” dengan paradigma itu mereka memilih.
Nyatanya kita memilih karena ingin berbeda. Sbg pendidik memfasilitasi ilmu dengan kurikulum yang sudah di tentukan, bukan pendidik yang menentukannya.
Lalu mereka tidak menemukan gairah sebagai individu yang kreatif melainkan merangsang dirinya lebih baik dari yang lain dengan kurikulum yang sama dalam satu kelas.
Dulu saya pernah mengusulkan ke pendidik dosen saya, tolong tambahkan kurikulum filsafat dan logika di jurusan saya (teknik geologi). Masih polos belum mengerti sistem politik kampus tidak semudah itu menambahkan kurikulum baru. Akan tetapi dosen saya malah mengusulkan “kamu kumpulin yang lain yang mau belajar filsafat dan logika” alih-alih ada kopdar tiap weekend sama dosen ini” rutin selama waktu kuliah.
Saya baru menemukan gairah belajar ketika berfilsafat. Semangat dosen ini yang meluangkan waktu menciptakan kreatifitas dan gairah belajar meski merupakan generasi “mesin pencetak pendidikan” seperti ungkap Althusser.
Tulisan yang mewakili dunia pendidikan. Ikut terlibat dalam opini dan pikiran ini.
Keren betul tulisannya.