[Opini] Memilih Pendidikan Guru Sebagai Jalan Mentransformasi Masyarakat

[Opini] Memilih Pendidikan Guru Sebagai Jalan Mentransformasi Masyarakat

opini-01
Bersama calon guru di kampus (Sumber: koleksi pribadi)

Ketika memilih jalan untuk mentransformasi masyarakat, ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan. Pertama, kita harus memiliki kejelasan mengenai perubahan apa yang ingin kita ciptakan. Kedua, kita juga harus mengenal diri kita. Kita perlu bertanya apa kelebihan dan kekurangan kita? Apa hal yang mungkin kita lakukan? Peran apa yang cocok untuk kita? Ketiga, kita harus memilih pendekatan yang strategis untuk mengadakan perubahan. Di dalam tulisan ini, saya akan menjelaskan bagaimana saya memilih jalan pendidikan guru sebagai jalan untuk mentransformasi masyarakat.

Saya menginginkan setiap anak memiliki akses terhadap pendidikan yang berkualitas. Pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang memungkinkan seseorang memaksimalkan potensi dirinya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan juga dunia. Kenyataannya, sekarang masih banyak anak belum memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas. Bahkan, masih banyak anak yang belum memiliki akses pendidikan sama sekali misalnya karena faktor sosial ekonomi. Di sisi lain, ada juga anak-anak yang memiliki akses terhadap institusi pendidikan tetapi apa yang terjadi di institusi tersebut bukanlah proses yang mendidik, namun justru mematikan potensi anak.

Saya percaya bahwa masih mungkin untuk mengupayakan agar setiap anak memiliki akses terhadap pendidikan yang berkualitas. Bukan hal yang mudah, tapi itu mungkin. Anak perlu memperoleh akses pendidikan yang berkualitas di keluarga, sekolah maupun masyarakat. Artinya, di manapun anak berada, seharusnya anak bisa difasilitasi untuk mengembangkan  intelektualitasnya, kepekaannya terhadap lingkungan sekitar, perasaannya, dan karakternya.
Tidak semua anak memperoleh pendidikan yang baik di keluarga. Tidak semua orang tua mengetahui atau memiliki akses terhadap caranya mendidik anak di rumah secara maksimal. Namun, bukan berarti tidak perlu ada upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di keluarga. Di Brazil ada sebuah program bernama Criança Feliz. Program ini dibuat oleh pemerintah Brazil  di mana pemerintah Brazil menyediakan pekerja sosial secara masal. Pekerja sosial ini mengunjungi rumah ibu-ibu hamil dan memiliki anak usia dini, khususnya di kampung-kampung termiskin di Brazil. Pekerja sosial ini memfasilitasi para orang tua untuk belajar caranya menstimulasi anak agar bisa bekembang secara baik. Ini adalah salah satu upaya meningkatkan pendidikan berkualitas di keluarga.

Selain di keluarga, pendidikan yang berkualitas juga seharusnya bisa diakses melalui sekolah. Kenyataannya, sekarang  memang masih ada sekolah-sekolah yang tidak benar-benar berfungsi sebagai sebuah institusi pendidikan. Tidak jarang saya mendengar kisah tentang anak-anak yang merasa sekolah tidak bermakna bagi mereka. Apa yang dipelajari tidak relevan dengan kehidupan mereka. Sekolah juga tidak selalu menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak. Beberapa tahun yang lalu, di Jakarta, di sekolah tempat teman saya mengajar ada seorang anak yang  sampai meninggal karena dibully secara fisik oleh teman-temannya. Terlepas dari segala kekurangannya, saya merasa masih mungkin untuk melakukan perubahan di sekolah. Artinya, sekolah bisa ditransformasi agar menjadi institusi yang memang bertujuan melakukan proses pendidikan. Mudah? Tentu saja tidak, namun mungkin.

Saya memilih mentransformasi pendidikan melalui jalur sekolah. Ini pilihan yang saya lakukan dengan sadar. Mengapa? Memang ada banyak pilihan untuk mentransformasi pendidikan. Ada yang memilih membuat bentuk pendidikan alternatif sendiri, ada yang memilih untuk melakukan pendidikan di masyarakat melalui berbagai kegiatan kepemudaan seperti Olahraga dan Seni dan banyak lagi. Bagi saya ada beberapa alasan memilih melakukan transformasi pendidikan melalui jalur sekolah. Pertama, saya menyukai sekolah. Saya senang saat menjadi siswa di sekolah, saya senang saat menjadi guru di sekolah, dan saya selalu nyaman berada di lingkungan sekolah. Kedua, saya merasa pilihan melakukan transformasi pendidikan melalui sekolah adalah strategis. Ada begitu banyak anak yang bersekolah. Bayangkan apa yang terjadi apabila ada perubahan sedikit  saja di sekolah! Misalnya, bayangkan apa yang akan terjadi kalau guru-guru di sekolah lebih demokratis, lebih bersedia mendengarkan suara anak! Dengan perubahan sekecil itu saja, akan lebih banyak anak yang merasakan pendidikan yang lebih berkualitas dari sebelumnya.

Secara pribadi, saya sudah banyak sekali terjun di bidang pendidikan. Saya pernah menjadi guru honorer di sekolah, mengajar  matematika di sanggar maupun komunitas pendidikan, bekerja di tempat kursus, memberikan masukan terkait kebijakan pendidikan nasional, menulis tentang pendidikan di media, menjadi salah satu pimpinan organisasi guru, dan kini mengajar calon guru di pendidikan tinggi. Di antara semua hal yang pernah saya lakukan, saya memilih akan fokus mentransformasi pendidikan melalui pendidikan guru, baik pendidikan calon guru maupun pendidikan guru yang sudah menjadi guru. Saya percaya ketika calon guru maupun guru memiliki akses terhadap pendidikan guru yang lebih berkualitas maka ini akan mempengaruhi mereka saat mengajar nanti.

Saat masih menjabat sebagai Direktur Program di Ikatan Guru Indonesia (sekarang sudah tidak), saya memfasilitasi kegiatan berbagi antar sesama guru. Saya menemui guru-guru yang punya keahlian-keahlian khusus dan meminta mereka berbagi dengan guru-guru yang lain. Saya mengajak guru mengumpulkan tulisan-tulisan tentang praktik baik mereka yang kemudian disebarkan untuk dibaca oleh guru-guru lain. Di kampus, saya mengajar calon guru. Di sana saya mengajak mereka untuk merefleksikan kembali pengalaman belajar mereka dari kecil sampai sudah kuliah. Mereka diminta untuk mengkritisinya lalu membuat visi baru terkait pendidikan dari kaca mata mereka. Saya juga berusaha berlaku demokratis dengan membuka ruang dialog dengan calon-calon guru. Mereka boleh tidak setuju dengan pandangan dan pendapat saya. Itu tidak akan membuat saya marah. Saya berharap saya bisa menjadi model bagi calon-calon guru saya agar kelak mereka menjadi lebih demokratis. Saya sengaja mengenalkan calon-calon guru dengan pendidik-pendidik lainnya, termasuk yang tidak mengajar di lembaga pendidikan formal. Tujuannya agar mereka terbuka pikirannya akan beragam bentuk pendidikan. Meskipun akhirnya mereka mungkin akan mengajar di sekolah, namun mereka jadi memiliki wawasan tentang pendidikan selain sekolah.

Tiga tahun belakangan ini, bersama dengan sekelompok teman saya mendirikan sebuah gerakan bernama Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) dan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Membaca (Gernas Tastaba). Keduanya bertujuan untuk mendampingi guru-guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) untuk belajar kembali cara mengajar Matematika dan Membaca. Dengan kegiatan ini kami berharap pelajaran Matematika bisa menjadi sarana untuk menumbuhkan nalar siswa, serta pelajaran membaca bisa dijadikan sarana untuk belajar memaknai apa yang terjadi di dunia. Dalam 3 tahun kami telah mencapai sekitar 3000 orang guru. Berdasarkan pengamatan saya, guru selalu antusias mengikuti kegiatan kami dan banyak yang mengatakan bahwa mereka sebelumnya tidak pernah memperoleh akses untuk mempelajari caranya mengajar matematika dan membaca secara sistematis dan bermakna. Dengan bersemangat mereka mengirimi foto-foto tentang perubahan-perubahan yang terjadi di kelas mereka. Beberapa memilih untuk bergerak lebih jauh. Seorang guru dari Batam misalnya, mengajak teman-temannya untuk berbagi apa yang dipelajari ke sebuah pulau tak jauh dari Batam. Di Banjarmasin, teman-teman guru bergantian berbagi apa yang dipelajari kepada guru lainnya  setiap minggu.  Teman-teman guru di Pontianak berencana membuat gerakan serupa di Singkawang agar semakin banyak guru bisa ikut mempelajari kembali tentang caranya mengajar Matematika dan Membaca.

opini-02
Pelatihan Gernas Tastaka berkolaborasi dengan Jonggol Reformer Educators (Sumber: Koleksi Pribadi, foto oleh Hana Sofyana)

Pilihan yang saya pilih untuk mentransformasi masyarakat melalui pendidikan guru  memang belum bisa membuat perubahan yang sangat masif. Ada sekitar 3 juta guru di Indonesia, bisa dikatakan yang tersentuh langsung tak mencapai 1% guru yang ada. Namun, masih ada harapan bahwa perubahan-perubahan kecil yang terjadi dan gagasan-gagasan tentang perubahan yang kemudian menyebar kepada guru-guru lain bisa membuka jalan bagi lebih banyak anak untuk memperoleh akses terhadap pendidikan yang lebih berkualitas.

 

 

 

Dhitta Puti Sarasvati

Dhitta Puti Sarasvati

Dhitta Puti Sarasvati, alumnus Teknik Mesin ITB dan Pendidikan Matematika University of Bristol. Memulai karirnya sebagai guru honorer di MTs. Al-Huda Bandung (2002-2007). Sejak 2011 sampai sekarang mengajar di Fakultas Pendidikan, Universitas Sampoerna, Jakarta. Tahun 2021 terpilih menjadi Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Guru Indonesia (IGI). Tahun 2018 mendirikan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka). Tahun 2021 mendirikan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Membaca (Gernas Tastaba). Penulis buku “Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari” (2022) "Memikirkan Kembali Arah Pendidikan Indonesia: Kritik, Potensi, dan Rekomendasi" (2022),  buku "Belajar Matematika Gernas Tastaka" (2019),   paper “Indonesia Country Case Study: Global Education Monitoring Report" (UNESCO, 2017),  buku "Mendidik Pemenang Bukan Pecundang" (2016), dan "Buku Hitam Ujian Nasional"(2012). Dapat dihubungi melalui email: dputi131@gmail.com, IG: @dhittaputi

Related Posts

[Opini] Ke Alam, Kembali Hidup Komunal: Refleksi Kritis Tentang Makan Berkesadaran

[Opini] Ke Alam, Kembali Hidup Komunal: Refleksi Kritis Tentang Makan Berkesadaran

[Opini] Kedaulatan Pangan: Kita Sedang Berjuang atau Hanya Sedang Mengigau?

[Opini] Nasib “Sorgum” dalam Terang Pascakolonial

[Opini] Nasib “Sorgum” dalam Terang Pascakolonial

[Opini] Adopsi Pertanian Berbasis Agroekologi dan Regeneratif pada Sistem Pangan Indonesia untuk Melampaui Komitmen Iklim Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia

[Opini] Adopsi Pertanian Berbasis Agroekologi dan Regeneratif pada Sistem Pangan Indonesia untuk Melampaui Komitmen Iklim Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 33
Total Visitors: 87883

Visitors are unique visitors