[Pikir] Kontrol Emosi, Jaga Diri : Belajar dari Kaum Stoa

[Pikir] Kontrol Emosi, Jaga Diri : Belajar dari Kaum Stoa

ilustrasi_kontrol-diri

Adaptasi! Bukan pilihan kedua, melainkan sebuah pilihan utama untuk saat ini, saat dimana dunia dirundung pandemi yang sangat brutal. Hal ini diperparah dengan adanya kebijakan yang tumpang tindih, perilaku masyarakat yang terlalu meremehkan, dan terlalu masa bodoh, bahkan dengan adanya korupsi bansos yang sangat tidak manusiawi. Di tengah keterpurukan ini, kita dihadapkan pada suatu kondisi untuk bertahan dan menderita atau mati dan bebas. Persoalan demi persoalan terus merongrong setiap lini kehidupan. Begitu banyak anjuran dengan berbagai macam caranya untuk mengingatkan masyarakat tentang bahaya yang sedang berada di depan mata. Siapa yang menghiraukan itu semua? Tidak ada. Kecenderungannya adalah menyalahkan. Banyak pihak menjadi kambing hitam, mulai dari keluarga, tempat kerja, publik figur, pemerintah bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Konflik ini terus berkepanjangan dan berakhir pada ketidakpedulian terhadap diri dan sekitarnya. Oleh karenanya penulis mengajak para pembaca untuk bersama-sama merenungkan tentang mengontrol diri dan bukan emosi tidak jelas dalam konteks Filsafat Stoa.

Menurut Kaum Stoa, bukan suatu kejadian yang menyebabkan kita emosional, tetapi opini atau interpretasi kita terhadap suatu kejadian. Dalam diskursus kebahagiaan, khususnya Stoisisme, kebahagiaan memiliki arti tersendiri. Menurut Kaum Stoa, kebahagiaan ialah saat tidak adanya atau tidak timbulnya emosi yang negatif atau dapat dibahasakan seperti “ kita terbebaskan dari emosi atau segala rasa perasaan yang mengganggu”. Orang Yunani menyebutnya pathos (dari kata kerja paskhein, artinya mengenai atau menderita sesuatu). Dalam pemikiran Stoa, pathos terjemahan mudahnya adalah emosi negatif (emosi yang buruk). Lalu kita akan bertanya, “bagaimana caranya supaya bisa bahagia, terhindar dari rasa campur aduk yang memporakporandakan batin? Bagaimana bisa tenang, terbebaskan dari rasa perasaan negatif?” Stoa mengajarkan kita untuk mencermati empat jenis emosi negatif yang menjauhkan kita dari kebahagiaan  (ketenangan batin) seperti: iri hati, takut, rasa sesal, dan kesenangan atau kenikmatan. Kaum Stoa mencoba menggambarkan kepada kita bahwa emosi negatif bukanlah perasaan liar yang tidak bersumber, bukan pula hal yang irasional yang tak bisa dijelaskan asal-usulnya. Emosi merupakan bagian dari rasio. Emosi negatif adalah opini yang mengatakan bahwa sesuatu itu buruk. Dalam rasio ditemukan yang namanya hasrat, kehendak, keinginan, nafsu sekaligus berpikir. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa emosi negatif bukanlah sesuatu yang irasional. Sejauh emosi muncul dari rasio, maka emosi adalah salah satu bentuk rasionalitas juga, namun rasionalitas yang melenceng. Emosi negatif merupakan hasil rasio yang salah menilai dan yang keliru.

 

Seorang filsuf Stoa bernama Epictetus mengatakan, “It is not things that disturb us, but our opinion of them”. Maksud perkataan Epictetus ialah sering kali perasaan takut, cemas, terganggu terhadap suatu hal itu timbul karena opini kita sendiri. Bagi kaum Stoa, emosi negatif itu timbul karena nalar yang sesat, bukan disebabkan oleh peristiwa eksternal. Marcus Aurelius seorang kaisar dan juga filsuf Stoa mengatakan, “Jika kamu bersusah hati karena hal-hal eksternal, kesusahan itu datangnya bukanlah dari hal tersebut, tetapi dari opinimu sendiri mengenai hal itu. Dan kamu memiliki kemampuan mengubah opini tersebut kapan saja”. Hal-hal eksternal yang dimaksud adalah seperti kekayaan, reputasi, tahta, dan lain-lain. Dalam pandangan Stoa, kita berada di dalam otak kita  dan hanya kita sendiri yang dapat mengendalikannya. Sebagai contoh, saat kita mengalami kemacetan di jalan, kita sering merasa emosional bertensi tinggi karena macet membuang waktu kita, merasa menjadi kurang produktif, cemas akan terlambat, dan lain sebagainya. Padahal kita tahu bahwa macet adalah jalanan yang sedang padat merayap dan jika kita memiliki interpretasi yang positif kita dapat memanfaatkan waktu macet tersebut untuk membaca buku, menelepon pacar, istri, atau kerabat, menonton YouTube, atau bersantai sejenak meminum minuman dingin. Dengan demikian, dalam menghadapi bahkan menghindari emosi negatif, Mazhab Stoa berpendapat bahwa perlunya melatih diri, mengenali opini atau interpretasi diri kita terhadap hal yang irasional. Kecenderungan kita adalah menyalahkan objek (benda, orang, atau apapun) di luar kita. Hal ini menandakan seolah-olah semua dapat dikendalikan oleh diri sendiri. Hal ini disanggah oleh Epictetus: “some things are up to us, some things are not up to us” (ada hal-hal di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita).

Kaum Stoa pada dasarnya mengajarkan dikotomi kendali menjadi dua hal itu saja. Pertama, hal-hal yang bukan di bawah kendali kita, yakni tindakan orang lain, opini orang lain, reputasi, kekayaan, kondisi tubuh, segala sesuatu yang diluar pikiran, dan tindakan kita seperti cuaca, gempa bumi, dan peristiwa alam lainnya. Kemudian, yang kedua adalah hal-hal yang di bawah kendali kita yaitu pertimbangan, opini, persepsi, tujuan hidup, dan segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita. Sehingga, individu diwajibkan untuk menerima kenyataan bahwa banyak hal-hal di luar sana yang senantiasa siap membuat kita kecewa. Kaum Stoa mengajarkan untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Namun, bukan berarti harus menghindari hal-hal yang berada di luar kendali, justru sebaliknya, menghadapinya dengan menerapkan kebijakan. Filsafat Stoa mengenai kebahagiaan juga mengajarkan individu untuk memilih respons atau tindakan seperti apa yang sebaiknya diambil. Dengan catatan, respons tersebut adalah hasil penggunaan nalar yang sebaik-baiknya dengan prinsip bijak, adil, menahan diri, dan berani. Dengan begitu, kita diharapkan mampu menghilangkan emosi negatif melalui kendali pikiran kita sendiri.

Misalnya jika kita menginginkan anak-anak, pacar, istri, dan teman-teman kita hidup selamanya, kita bodoh, karena menghendaki hal-hal yang tidak berada dalam kendali kita untuk menjadi kekuasaan kita, dan hal-hal yang bukan milik kita menjadi milik kita. Kecenderungan yang terjadi saat ini adalah kita sulit untuk membedakan hal apa saja yang dapat dikendalikan oleh diri sendiri. Hal itulah yang membuat kita sulit untuk keluar dari emosi dan pengendalian diri. Pengendalian diri menjadi sebuah barang antik di zaman posmodern ini atau dengan kata lain pengendalian diri menjadi sangat langka bahkan nyaris punah. Tidak ada upaya lain selain memahaminya, menyadarinya dengan sebaik-baiknya bahwa :

  • ‘Saya’ punya keterbatasan untuk mengendalikan hal-hal di luar diri ‘saya’.
  • ‘Saya’ tidak bisa memaksakan semua yang di luar kendali ‘saya’.
  • ‘Saya’ tidak bisa mengendalikan sebuah kemacetan, banjir, sakit penyakit termasuk pandemi ini.
  • Tapi ‘saya’ bisa mengontrol diri untuk tidak terjerumus dalam akibat yang memperparah diri.
  • Mengendalikan diri untuk memakai masker, mengikuti protokol kesehatan, tidak merasa sok tahu, dan merasa paling tangguh.

Jika semua orang memiliki pemikiran yang sama seperti kaum Stoa, maka pandemi ini bukan menjadi sebuah fenomena yang menakutkan. Melainkan menjadi sebuah latihan untuk semakin mengontrol diri. Sehingga pandemi ini bukan pertama-tama menjadi tugas dan tanggung jawab tim medis dan pemerintah melainkan dari kita sendiri. Namun, kecenderungan kita saat ini adalah menyalahkan pemerintah, bahwa pemerintah tidak bertanggung jawab atas semua ini. Pemerintah pun tidak menginginkan pandemi ini terjadi karena bukan hal yang bisa dikendalikan. Pemerintah hanya mengantisipasinya dengan berbagai cara yang memang masih di bawah kendali. Untuk itu, mari kita bersama-sama menggunakan rasio kita dengan lebih baik dan lebih maksimal. Satu kalimat untuk direnungkan bersama adalah masihkah kita bergantung pada situasi yang di luar diri kita?

 

Kata Kunci:

Emosi Negatif, Stoa, Kebahagiaan, Opini, Filsafat, Irasional, Rasio, Interpretasi.

 

 

Sumber:

  • 2016. The Discourses of Epictetus: Epictetus.California: Create Space Independently Publish.
  • Manampiring, Henry. 2019. Filosofi Teras – Filsafat Yunani Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini. Jakarta: Kompas.
  • Evans, Dyland. 2019. Emotion-  A very Short Introduction. United Kingdom: Oxford University Press.
  • Ari Yauan, Kumara. 2010. The Greatest Philosophers – 100 Tokoh Filsuf Barat Dari Abad 6 SM – Abad 21 Yang Menginspirasi Dunia Bisnis. Yogyakarta: Andi.
  • Yunita Sari, Maudy (2019). Behaviour Modification. Diakses pada 15 Maret 2021, dari http://lsfcogito.org/stoa-akan-kebahagiaan-upaya-mengendalikan-emosi-yang-negatif/

 

 

Eventus Ombri Kaho

Eventus Ombri Kaho

Eventus Ombri Kaho. Ia lahir pada tahun 1995 di sebuah desa kecil tepatnya di desa Alkani, kecamatan Wewiku kabupatan Belu-Nusa Tenggara Barat. Ia mengawali pendidikan Sekolah Dasar Katolik (SDK) di Hanemasin (2000 – 2007), kemudian lanjut ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 2 Malaka Barat (2007 – 2010). Ia menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA) Bina Karya Atambua (2010 – 2013). Pada tahun 2014 ia masuk di Universitas Katolik Parahyangan dengan mengambil jurusan Filsafat. Saat ini, ia menerjuni dunia pendidikan dan menjadi bagian dari staf pengajar SD Santa Ursula Bandung.

Related Posts

[Pikir] Manusia Aktualita

[Pikir] Manusia Aktualita

[Pikir] Alam, Ibu Kandung Segenap Cerita

[Pikir] Alam, Ibu Kandung Segenap Cerita

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] Cerita dari Seberang

[Pikir] Cerita dari Seberang

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 1
Total Visitors: 2140

Visitors are unique visitors