[Tips] CBS : Berurut dan Bermakna
Sewaktu Mbak Puti (Dhitta Puti) menawarkan para Trainer Gernas yang berminat belajar tentang Cara Berpikir Sistem (CBS), tanpa pikir panjang saya langsung tertarik dan ingin ikut belajar. Sejumlah pertanyaan bermunculan di dalam kepala. Sistem kok berpikir! Ini tentang pola pikir atau apa ya? Atau bicara tentang sistem. Sebetulnya saya berharap Mbak Puti mau membocorkan lebih dalam tentang materi ini, tetapi saya kemudian menahan diri untuk bersabar menunggu waktunya tiba. Meski kemudian saya mulai melihat-lihat profil Kail di Instagram, atau mencari informasi tentang CBS, baik dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris, eh ternyata justru menambah daftar pertanyaan. Tentu saja semakin membuat kepala saya semakin pening! Ah sudahlah, tunggu tanggal mainnya saja.
Dua hari belajar CBS membuka cakrawala baru bagi saya tentang sistem berpikir. Ia harus disampaikan, berurut dan bermakna. Begitulah harusnya yang berlaku dengan sistem. Apapun jenis sistem yang ingin diberlakukan. Apabila sebuah sistem tidak bermakna (memberi manfaat bagi pengguna) maka tidaklah dapat disebut sebagai sistem. Ia disampaikan menggunakan bahasa. Pilihan kata yang tepat akan mewakili proses berpikir dan menuntun kita pada langkah berpikir selanjutnya. Rumit? Jika lebih teliti, teorinya sangat mudah. Yang tidak mudah adalah bagaimana melatih berpikir kita untuk lebih berurut dan saling terkait. Mengapa kita perlu melatih berpikir tersistem? Supaya kita terlatih untuk lebih bijak dalam memandang sebuah permasalahan. Untuk menguraikan permasalahan tadi, akan sangat membantu jika kita menggunakan CBS, agar sudut pandang kita terhadap persoalan tidak picik, pilih-pilih bulu atau cenderung membela satu pihak saja. Belajar untuk lebih melebarkan kacamata dan melihat lebih jeli alur-alur permasalahan, hubungannya satu sama lain sampai dengan sejauh mana pengaruh dan mempengaruhinya.
Sebagai salah satu relawan dan trainer Gernas Tastaba, CBS menguatkan saya untuk meningkatkan kosa kata dan pilihan kata, saat saya berbicara dengan peserta didik, baik anak-anak maupun dewasa. Karena pilihan kata yang lebih tepat akan membantu kita dalam menyampaikan maksud dan tujuan. Pilihan kata yang tepat juga akan memudahkan kita menandai persoalan dari cara berpikir saat kita sedang mempelajari sebuah masalah. Pilihan kata yang spesifik, yang dituangkan dalam kalimat yang tepat, akan membantu pemahaman anak-anak saat mendengar instruksi kita. Dari pelatihan ini, saya mengambil kesimpulan bahwa selain menuangkan cara berpikir saya ke dalam tulisan, saya pun perlu melatih cara berpikir dalam berbicara. Saya yakin bahwa CBS tidak hanya dilatih dengan cara menuliskannya, tetapi juga dalam berbicara. Inilah oleh-oleh dan pekerjaan rumah (yang ternyata) cukup berat bagi saya. Harus diakui, mengubah kebiasaan bukan hal yang mudah. Contoh: Dalam sebuah kelas individu, seorang murid berbaring istirahat di lantai. Kemudian ia merubah posisi tangannya. Saya katakan kepadanya, “Kamu menyangga tanganmu seperti ini, apakah tangannya tidak pegal Ezra?” Saya bisa saja berkata, “Kok tangannya begitu Ezra? Tangannya pegal ngga?”. Dan akibat pilihan kata yang spesifik tadi, Ezra malah bertanya, “Menyangga itu artinya apa bu Rina?” Bayangkan, jika saya menggunakan kalimat tanya yang ke dua, maka dialog kami terhenti pada jawaban iya atau tidak. Namun, karena saya menggunakan kalimat pertama, yang terjadi adalah interaksi yang lebih panjang dan menjadi topik pembahasan mengenai makna kata menyangga.
CBS juga saya gunakan saat membuat rancangan pembelajaran kelas online Literasi Bahasa Indonesia buat orang tua. Sungguh tidak mudah ya, karena sudut pandang saya adalah sebagai guru. Jadi saya coba tempatkan diri saya sebagai orang tua dan mendengar curhatan mereka tentang kendala anak-anak terkait literasi. Saya coba tuangkan di salah satu halaman presentasi seperti dibawah ini.

Sumber: Koleksi Penulis
Ide slide di atas sebenarnya terinspirasi dari materi CBS. Awal-awal pertemuan kami disajikan bahwa sebuah sistem punya dua sisi, yang tampak dan tersembunyi. Maka demikian juga mengenai literasi. Di sini saya hanya membatasi permasalahan terkait keterampilan literasi yang anak perlukan berdasarkan tahapan tumbuh kembang. Kemudian materi Training of Trainers Guru Gernas Tastaba ditambah referensi buku-buku lain terkait literasi dan pengetahuan membaca (science of reading) membantu saya dalam memahami, menelaah, mengurai dan membuat tabel di atas. Saya paham informasi di atas tentang literasi tidak seluruhnya mewakili permasalahan yang sedang dihadapi oleh orang tua. Namun saya berharap gambar di atas menjadi langkah awal pemahaman orang tua bahwa ketika bicara literasi, tidak hanya melingkupi baca dan tulis. Selain itu, orang tua jadi lebih paham bahwa anak usia dini melewati proses pra-literasi yang seharusnya tuntas mereka lewati dan alami. Sehingga apabila orang tua memperhatikan proses pra-literasi dan memberikan stimulasi dan pemodelan yang tepat, maka akan memudahkan mereka menaiki tangga keterampilan membaca dan menulis.
CBS datang pada waktu yang tepat dalam hidup saya. Pas yang saya butuhkan, tepat saya gunakan dalam permasalahan terkait keterampilan saya sebagai guru. Saya berharap, para pengambil keputusan juga belajar CBS, sehingga mereka bisa lebih menghargai proses dalam memahami permasalahan. Mereka menemukan dan mengakui sub permasalahan- permasalahan yang tersembunyi, ternyata terhubung bahkan mempengaruhi dengan sub persoalan lain. Menghargai sistem berpikir sama saja menghargai hakikat manusia hidup di dunia diciptakan Allah di dunia. Kata toleransi bukan hanya harus anak-anak pahami dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), namun perlu orang dewasa praktikkan dalam memahami permasalahan yang mereka hadapi. Setuju?

No Comment