[Tips] Anak Muda Bicara Pendidikan: Sebuah Awal Persahabatan Antara Aktivis-Aktivis Pendidikan
Sebuah festival pendidikan diadakan di Sabuga, Bandung pada tahun 2015. Namanya, Festival Anak Bertanya. Di kegiatan tersebut, berbagai komunitas pendidikan pendidikan di Bandung berbagi tentang kegiatan dan gagasannya. Anak-anak dari komunitas-komunitas yang ada diberikan kesempatan untuk menampilkan kebolehannya. Ada yang menampilkan pencak silat, menari, menyanyi, pertunjukan teater, dan sebagainya.
Saya hadir di kegiatan tersebut. Menonton penampilan anak-anak di sebuah ruangan. Saya duduk di bersandar pada tembok di belakang ruangan, menghadap panggung. Di sebelah saya, ternyata teman saya sendiri. Seorang aktivis pendidikan yang seumur dengan saya. Dengannya (dan beberapa teman-teman lainnya), saya dulu ikut mengawal upaya pemberhentian Ujian Nasional, mengkritisi kurikulum 2013, dan mencoba menyusun gagasan tentang arah pendidikan Indonesia.
Kata temanku padaku sambil tertawa bercanda,”Yah Lu Lagi, Lu Lagi.”
Kami mengobrol, dan menertawakan diri kami sendiri karena sadar seringkali, kalau ada acara pendidikan, ketemunya teman-teman yang itu-itu saja. Sebagian aktivis pendidikan yang seumur dengan kami, sebagian lebih senior.
“Yuk, bikin kegiatan pendidikan bareng!” kata teman saya. Sebuah gagasan tiba-tiba muncul di kepalanya. “Tidak penting apa acaranya, yang penting ada sarana bagi orang-orang yang tertarik di bidang pendidikan untuk bertemu dan ngobrol.”
Inilah cikal bakalnya terbentuknya “Anak Muda Bicara Pendidikan” yang dimulai sejak tahun 2017.

Kegiatan ini merupakan serangkaian acara diskusi yang diselenggarakan di Studio Kopi Sang Akar, Tebet, Jakarta. Salah satu kegiatan yang pertama kami selenggarakan adalah mengundang tiga anak muda untuk bercerita mengenai pengalaman dan gagasannya tentang pendidikan. Anak muda pertama bernama Hairun Nisa. Dia merupakan pelaksana Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar. Dulunya dia adalah anak yang dididik di Sanggar tersebut. Di usia 14 tahun, Nisa mulai mengumpulkan anak-anak di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, mengajak mereka berdialog dan membuat kerajinan tangan bersama. Dia lalu menginisasi adanya sebuah festival di mana anak-anak yang tinggal di sekitar Ciliwung bisa memamerkan karya-karyanya. Fasilitator kedua, merupakan seorang mahasiswa Jurusan Filsafat UI bernama Gea Citta. Ia beberapa kali menulis artikel berupa kritik terhadap pendidikan melalui media massa, misalnya Jurnal Perempuan, Jakarta Post dan Tempo. Dia juga mengajar di Rumah Pintar, sebuah sekolah informal di Desa Cibitung. Fasilitator ketiga bernama Galuh Bagaspati, seorang anak muda yang memilih berhenti dari perguruan tinggi untuk mendidik dirinya sendiri. Ketiga fasilitator menceritakan pengalamannya lalu mengajak forum untuk berdiskusi.

Kami juga bereksperimen melakukan berbagai kegiatan lainnya. Kami memutarkan beberapa film bertema pendidikan dan mengajak peserta untuk mendiskusikannya. Kami menyelenggarakan rangkaian diskusi dengan tema “Sejarah Pendidikan Indonesia”, “Filsafat Pendidikan”, dan “Perempuan dalam Pendidikan”. Tema-tema tersebut dipilih karena, kami mengenal orang-orang yang cakap untuk berbicara terkait topik-topik tersebut. Harapannya, topik-topik tersebut juga akan menarik perhatian teman-teman yang tertarik dengan pendidikan.

Peserta kegiatan jumlahnya bervariasi. Dari hanya 6 orang sampai 60-an orang. Melalui kegiatan ini, saya mengenal beberapa orang baru. Saat membahas Filosofi Pendidikan, kami mengundang dosen dari sebuah Perguruan Tinggi Filsafat di Jakarta. Kami mengundang beberapa alumni Taman Siswa untuk menceritakan pengalamannya belajar di Taman Siswa. Saya sendiri memperoleh sahabat-sahabat baru, sesama aktivis pendidikan perempuan yang sampai kini jadi teman mendiskusikan isu-isu pendidikan. Beberapa mahasiswa saya, saya ajak mengikuti diskusi di sana. Teman saya, dosen di kampus lain, mengajak mahasiswanya juga, seorang kepala sekolah mengajak guru-guru mudanya untuk mengikuti diskusi. Seperti yang dicita-citakan, kegiatan Anak Muda Bicara Pendidikan menjadi ajang bertemunya orang-orang yang sama-sama tertarik dengan isu pendidikan. Suatu malam, setelah diskusi, saya tersenyum. Saya saksikan, beberapa orang yang pernah menjadi mahasiswa saya (kini sudah menjadi guru) mengobrol dengan mahasiswa teman saya, dan anak-anak muda pengurus Sanggar Anak Akar. Mereka mulai menjalin persahabatan, saling mengunjungi komunitas satu sama lain. Sampai sekarang, mereka masih bersahabat dan saling mendukung satu sama lain.

Sekarang, Anak Muda Bicara Pendidikan tidak lagi diselenggarakan karena kesibukan masing-masing penggeraknya. Namun, saya senang kegiatan tersebut pernah ada. Saya menjadi saksi, kegiatan tersebut menjadi awal mulanya terbentuk persahabatan-persahabatan baru. Persahabatan antara orang-orang yang sama-sama mencintai dunia pendidikan.

No Comment