Memulai perjalanan selepas masa studi seringkali rumit bagi mereka yang merasa punya panggilan hati (atau sempat terjebak di kerja-kerja kolektif). Banyak dari mereka dihadapkan dengan pilihan sulit: mencoba masuk ke dalam sistem yang sudah disiapkan oleh dunia dengan relasi kuasa modal (kapitalisme), atau berusaha mencari sendiri jalan penghidupan dari sisi mana saja yang bisa dimanfaatkan. Ini menjadi pertanyaan bagi beberapa orang, termasuk penulis.
Dewasa ini, kita diberikan banyak opsi untuk mengusahakan perjuangan membagikan manfaat hidup nyata lewat banyak ruang aksi (yang ada duitnya), seperti startup sosial, wirausaha berdampak, influencer digital, atau bahkan salah satu opsi yang akhirnya sempat penulis ambil: berkegiatan, bekerja, dan berkarya lewat program pemerintah yang bersentuhan langsung dengan akar rumput, dengan harapan membangun perubahan nyata di lapangan.
Pada mulanya, program pemerintah yang penulis ikuti seakan-akan menjadi oase dalam pencarian pekerjaan ideal bagi penulis yang masih “bau kencur” dalam urusan pekerjaan (urusan percintaan lain ceritanya). Gaji lumayan, tiga kali lipat UMR Jogja saat itu kalau tidak salah, minim supervisi, tujuan mulia, dan para pelatih dari berbagai instansi pendidikan/pelatihan yang sudah santer terdengar sebagai yayasan yang perjuangannya nyata di antara rekan-rekan mahasiswa teknik menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis. Belum lagi penawaran ini penulis dapatkan langsung dari salah satu desa penempatan program yang memberikan testimoni baik: “Syam, ini program bagus buat kamu yang mau mengabdi di desa,” jika tidak salah itu pesan pengantar poster Pa####t D##a yang dibagikan oleh kepala dusun tempat penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Pembuatan POC bersama orang muda Desa Lebaksiuh – usaha kami memperbaiki kondisi tanah yang sudah tercemar obat-obatan dan zat perangsang tumbuh (ZPT).
Sumber: Koleksi Penulis.
Waktu berlalu, dan qadarullah penulis mendapatkan kesempatan tersebut. Pekerjaan terasa menyenangkan (awalnya), bagaimana tidak? Kerja kolektif yang dulu dilakukan dengan sukarela sekarang dibayar oleh negara. Sayangnya, perasaan senang itu tidak bertahan lama. Masalah demi masalah baru muncul setelah program berjalan beberapa waktu, mulai dari penggajian yang ternyata tidak tentu waktunya (menunggu pencairan dari pihak keuangan provinsi), kehilangan arah karena minim supervisi, tujuan mulia yang tercemari karena harus mengikuti ego para pembuat kebijakan yang tidak paham kondisi lapangan, serta ketiadaan komunikasi lanjutan dengan lembaga yang awalnya mengampu proses pendidikan, yang menyebabkan kondisi di lapangan penuh kebimbangan. Tidak tahan, satu periode kontrak penulis selesaikan dan pada akhirnya tidak melanjutkan.
Masalah ini sepertinya tidak hanya dirasakan oleh penulis, pasalnya program serupa tidak hanya ada satu atau dua. Sebut saja program pemberdayaan dari pemerintah yang melibatkan tenaga ahli orang muda (yang kadang secara usia sudah tidak bisa dibilang muda) dan tidak berpengalaman, dengan dalih investasi manusia untuk memberikan pengalaman nyata di lapangan. Alih-alih membawa perubahan pada tataran sistem yang ada, mereka yang datang ke lapangan dengan seragam yang disematkan pemerintah lewat program lama kelamaan kehilangan marwahnya. Tidak sedikit masyarakat yang mengira kedatangan mereka yang berseragam ke lapangan adalah untuk membawa bantuan, alih-alih perubahan.

Sumber Foto: Koleksi Penulis
Penulis kemudian mencoba mendalami dan mempelajari pola yang sama terjadi tidak hanya pada penulis, tetapi juga pada rekan-rekan seperjuangan. Mereka yang mendaftar program dengan mimpi memberikan manfaat bagi orang banyak, rasanya suaranya tenggelam di antara riuh-riuh pihak-pihak lain yang menggunakan program sebagai batu loncatan. Ada yang berusaha mendekatkan diri dengan instansi tertentu untuk mendapatkan kesempatan berkarir, atau ada yang berusaha mendapatkan rekognisi agar bisa mengakses program lain yang lebih bergengsi.
Beberapa rekan penulis yang lain sebenarnya sudah menyadari pola ini, tetapi penulis melihat cenderung terlena di dalamnya. Utopia soal pekerjaan yang minim supervisi dengan tunjangan yang lumayan menjadikan ini salah satu jenis pekerjaan yang diidam-idamkan. Padahal, jika kita berkaca kepada kisah para pemberdaya sejati yang tidak memiliki seragam atau jaring pengaman finansial, perjuangan menuju perubahan adalah sebuah jalan terjal yang tidak mengenakkan.
Beberapa rekan lainnya akhirnya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap program sejenis. Mereka melihat pekerjaan yang dibalut sebagai program pemberdayaan seperti ini pada akhirnya tidak membawa mereka ke mana-mana. Diskusi dan pembicaraan yang kita lakukan biasanya berujung pada perasaan hampa dan kehilangan arti dari perjuangan yang dulu dipupuk saat pelatihan.
Hal serupa juga dirasakan penulis setelah mencoba melepaskan diri dari belenggu program. Pencarian ruang aktualisasi diri lain rasanya terhambat dengan kenyamanan yang sebelumnya sudah diberikan oleh program. Beberapa usaha yang coba dimulai penulis sebagai antitesa dari pemberdayaan melalui program akhirnya harus punah setelah kehabisan bahan bakar.

Salah satu program yang gagal akibat kehabisan modal, orang muda yang terlibat lebih tertarik untuk merantau dan menjaga WC / MCK di bekasi daripada mengelola perikanan bioflok bersama di desa.
Foto: Koleksi Penulis.
Setelah konsolidasi dengan berbagai pihak, termasuk mereka yang lebih paham tentang relasi kuasa dalam program, penulis akhirnya berusaha membangun konsolidasi-konsolidasi dengan rekan-rekan yang memang punya tujuan serupa. Alih-alih terhambat pada arahan dan instruksi yang tidak jelas atau berharap pada supervisi yang tidak kunjung datang, penulis kemudian mencoba mencari sudut pandang lain yang bisa membawa manfaat lebih nyata, seperti kolaborasi di lapangan atau mendengar langsung dari penerima manfaat yang dicanangkan.
Pada akhirnya, pemahaman yang menyeluruh terkait situasi dan kondisi relasi kuasa dalam pekerjaan haruslah menjadi modal utama bagi mereka yang sedang berusaha memberikan manfaat nyata bagi berbagai pihak di sekitar mereka. Pisau analisis terkait siapa yang paling diuntungkan dari keberhasilan usaha yang kita lakukan pada akhirnya harus kita arahkan pada kepentingan bersama, alih-alih keberhasilan satu dua orang penggagas kegiatan atau pemilik modal. Hal ini dapat memudahkan mereka yang tulus berniat membawa perubahan untuk mencapai apa yang ingin diwujudkan.