[Profil] Kebun Firdaus: Sebuah Pembelajaran Membangun Kebun Sekolah

Jika kita mengingat kembali saat bersekolah di SD, SMP atau SMA, pasti kita ingat dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau…
1 Min Read 1 2

Jika kita mengingat kembali saat bersekolah di SD, SMP atau SMA, pasti kita ingat dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau lebih spesifiknya Biologi yang berkaitan dengan tanaman. Pelajaran seperti morfologi daun yang berbentuk tunggal dan majemuk; bagian-bagian daun yang terdiri dari dasar daun, tangkai daun dan helaian daun; jenis-jenis akar, seperti akar serabut, akar tunggang, akar tunjang; perkembangbiakan tanaman secara regeneratif dan vegetatif; sampai siklus kehidupan serangga seperti lebah dan kupu-kupu yang membantu penyerbukan bunga. Pertanyaannya, seberapa terbayangkah kita ketika diterangkan semua materi itu secara teoritis? Apakah kita bisa membayangkan tanaman dikotil dan monokotil jika hanya melihat buku paket? Saya yakin banyak dari kita tidak memahami apa dijelaskan oleh guru ketika menerangkan itu semua. 

Potret tersebut memang demikian adanya. Pelajaran di sekolah yang disampaikan oleh guru seringnya hanya bertahan sampai jam sekolah berakhir atau bahkan beberapa menit setelah diucapkan oleh guru. Tidak nempel di kepala, menguap begitu saja. Apakah karena tidak menarik? Bisa jadi. Padahal sudah menggunakan alat peraga, ditambah poster ilustrasi struktur bunga bergaya realis yang menunjukkan bagian-bagian bunga dari tangkai, mahkota, benang sari putik dan lain-lain. Tapi tetap saja tidak terbayang oleh para siswa. Saya ingat sekali ketika saya dijelaskan mengenai struktur bunga, yang saya gambar adalah burung merak. Karena yang terbayang oleh saya adalah burung merak yang minggu sebelum saya lihat di Kebun Binatang Kota Bandung.

profil1-2
Ilustrasi Struktur Bunga
Sumber: istockphoto

Dari kejadian menggambar burung merak saja sebetulnya sudah bisa disimpulkan bahwasanya, pengenalan materi pelajaran Biologi terutama tanaman dan ekosistemnya yang subjeknya bisa kita lihat secara langsung, itu tidak bisa hanya disampaikan di kelas melainkan harus melihat secara langsung, yaitu melalui proses pengamatan (baca: observasi lapangan). Dampaknya cukup ngeri-ngeri sedap. Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk mendampingi siswa/i TK berkenalan dengan tanaman selada dengan cara panen bersama, keesokan harinya sang guru bercerita kepada teman saya, yang juga mendampingi siswa/i TK tersebut, bahwa salah satu anak yang ikut panen selada bilang tidak mau memakan seladanya padahal selada adalah salah satu sayuran favoritnya, ketika ditanya alasannya, anak tersebut beralasan bahwa “Ah tidak mau, karena seladanya dari tanah bukan dari supermarket”. Ironis. Miris. Lucu. Ngeri bukan?

Masalah krisis pangan di Indonesia bukan hanya harus diselesaikan oleh Kementerian Pertanian saja melalui proyek-proyek Food Estate yang mangkrak, melainkan harus juga dilakukan oleh lintas kementerian. Salah satunya yaitu Kementerian Pendidikan. Selain mewajibkan rasio teori dan praktik yang berimbang dan proporsional, juga mendukung terciptanya program-program yang mendukung penanggulangan krisis pangan yang tentunya akan berkaitan dengan lingkungan, sosial dan budaya. Saya merasa beruntung ketika SMA masih mendapatkan mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup atau PLH yang salah satu materinya adalah pengelolaan sampah organik menggunakan metode Takakura, yang saat ini sangat relevan untuk menjawab permasalahan lingkungan setidaknya untuk saya terapkan di rumah sendiri. Namun sayang sekali, ketika saya bertanya kepada anak-anak SMA angkatan sekarang, mereka menyebut sudah tidak ada mata pelajaran PLH atau mata pelajaran lain yang serupa. Padahal, mata pelajaran yang seperti itu sangatlah strategis untuk mengenalkan kondisi lingkungan teraktual dan faktual sehingga bisa berempati dan lebih jauh lagi akan memberikan solusi bagi permasalahan lingkungan.

Selain itu, media lain yang bisa dijadikan contoh dalam mengenalkan isu pangan dan lingkungan adalah program kebun sekolah. Saat ini, banyak sekolah yang sudah maupun baru akan memulai program tersebut, dengan tujuan sebagai laboratorium hidup, bagian dari proyek kewirausahaan, atau untuk memenuhi kebutuhan pangan para siswa dan civitas akademik lainnya. Apapun alasannya, tentu program tersebut memiliki dampak yang sangat positif bagi para siswa, setidaknya menjadi penyeimbang proses pembelajaran para siswa antara teori dan praktik, antara “katanya” dan “nyatanya”, serta fleksibilitas sebagai katalis untuk dikaitkan dengan isu-isu lainnya seperti sosial, ekonomi, budaya dan agama.

 

Kebun Firdaus

Berbicara tentang kebun sekolah, saat ini Seni Tani, kelompok tani yang saya dirikan bersama teman-teman, mendapatkan kesempatan untuk terlibat menjadi fasilitator di sebuah kebun sekolah bernama Kebun Firdaus milik SKB TKB Firdaus. 

SKB TKB Firdaus adalah sekolah untuk para remaja usia pelajar SMP yang ingin bersekolah namun memiliki kendala dalam pembiayaan. Di SMP Firdaus, para siswa dapat bersekolah secara gratis. Sekolah ini didirikan pada tahun 2006 dengan nama SMP Terbuka Firdaus. Pada tahun 2020 yang lalu berganti nama menjadi SKB TKB Firdaus. Selanjutnya akan saya sebut SMP Firdaus untuk memudahkan pembaca. Sampai saat ini, SMP Firdaus telah meluluskan 1533 siswa/i.

Kebun Sekolah Firdaus merupakan sebuah program ekstrakurikuler (ekskul) berkebun di SKB TKB Firdaus. Ekskul berkebun wajib diikuti bagi kelas 7 dan pilihan bagi kelas 8 dan 9.

Guru-guru di SMP Firdaus hampir semua berstatus sebagai relawan yang meluangkan waktunya beberapa jam dalam satu minggu untuk mengajar di SMP Firdaus. Mengumpulkan jejaring yang bersedia untuk berdonasi baik dalam bentuk materi maupun non materi untuk pengembangan SMP Firdaus merupakan tugas lainnya yang diemban oleh setiap guru di SMP Firdaus. 

Dua di antara mereka adalah Bu Leni dan Bu Nina. Mereka berdua merupakan sosok guru yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan lingkungan. Bu Leni memiliki keahlian di bidang seni rupa dan mengajar Seni Budaya dan Keterampilan, sementara Bu Nina adalah seorang arsitek dan mengajar Pendidikan Kewarganegaraan. Keduanya memiliki hobi yang sama yaitu bercocok tanam dan keduanya bergabung dalam Komunitas 1000kebun serta aktif dalam kegiatan Kebun Komunal Seni Tani yang menjadi titik awal pembentukan Kebun Firdaus. 

 

Fase I: Pra Kebun Firdaus

Pada awalnya, saat SMP Firdaus belum memiliki kebun sendiri, Bu Leni dan Bu Nina berinisiatif membawa para siswa untuk mengunjungi Kebun Seni Tani yang lokasinya sangat dekat. Mereka meminta tim Seni Tani yang saat itu ada di kebun untuk mengenalkan Seni Tani itu apa, apa yang dilakukan, mengapa bertani di tengah kota, sampai belajar praktik bercocok tanam dari mulai membuat media tanam, menyemai benih, membedakan benih dan bibit serta berkeliling di Kebun Seni Tani. Antusiasme yang luar biasa dari para siswa, banyak yang berani bertanya, berpendapat hingga bercerita pengalaman berkebun walaupun awalnya malu-malu sampai akhirnya Bu Leni memberikan dorongan untuk berani bertanya dan berpendapat, tentunya dengan iming-iming presensi dan nilai tambahan.

profil2
Praktik Menyemai Benih Sayuran
Sumber: Dokumentasi Seni Tani

 

profil3
Foto Bersama Setelah Berjalan-jalan di Kebun Seni Tani
Sumber: Dokumentasi Seni Tani

Kunjungan ke Kebun Seni Tani pun semakin sering diadakan setelahnya. Beberapa kegiatan lainnya seperti membuat kompos, pindah tanam dan panen pun sempat dilakukan.

profil4
Bu Leni Menanyakan Kegiatan Berkebun
Sumber: Screenshot WhatsApp Penulis

 

Fase II: Kebun Firdaus Tahun I

Setelah sering mengunjungi Kebun Seni Tani, Bu Leni dan Bu Nina berkeinginan untuk mewujudkan cita-citanya membuat ekstrakuler berkebun dengan memanfaat lahan tidur sebagai lokasi kebunnya. Dengan segala cara untuk meyakinkan sekolah serta menghubungi jejaring yang selama ini sudah terbangun, akhirnya pihak SMP Firdaus mengizinkan untuk membuka ekstrakurikuler berkebun dengan memanfaatkan lahan kavling kosong seluas 240 m2 milik salah satu warga Arcamanik yang lokasinya dekat dengan sekolah, serta meminta bantuan tim Seni Tani untuk menjadi fasilitator kegiatan ekskul Kebun Firdaus. 

Pada tahap awal, Seni Tani membantu merancang Kebun Firdaus berdasarkan apa yang dibutuhkan dan penting untuk diadakan di kebun. Tidak lupa kami juga membagikan persiapan ini melalui media sosial Seni Tani, sebagai bentuk rasa bahagia karena menjadi bagian dari ekskul berkebun Firdaus.

profil5
Rancangan Kebun Firdaus
Sumber: Arsip Seni Tani

 

profil6
Pemberitahuan Proyek Kebun Firdaus di Instagram Seni Tani
Sumber: Instagram Seni Tani

Secara bertahap kebun dibangun dan mulai diaktivasi oleh berbagai kegiatan berkebun seperti membuat membuat media tanam, mengisi media tanam ke dalam raised bed, menyemai, pindah tanam, membuat kompos dan tentunya panen raya. Kondisi lahan yang penuh dengan berangkal atau buangan bahan bangunan serta sampah lainnya, menjadikan permukaan lahan menjadi keras dan sulit untuk dicangkul. Kondisi tersebut menghambat pembuatan bedeng sehingga kami memutuskan untuk membuat raised bed yang terbuat dari bambu sebagai medium tanamnya dan terpaksa harus membeli tanah sebagai untuk memenuhi raised bed tersebut. Kegiatan berkebun rutin diadakan setiap hari sabtu pagi, sehingga kami menyebut kegiatan ini sebagai “Sabun” yang merupakan kependekan dari Sabtu Ngebun.

Pada bulan Juni tahun 2023, sekitar sepuluh orang mahasiswa jurusan Agroteknologi UNPAD datang untuk menjalankan Program Pengabdian Masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung selama sebulan dengan frekuensi pertemuan sekali seminggu. Para mahasiswa tersebut melakukan kegiatan penyemaian, pindah tanam, pembuatan kompos dan pupuk cair organik dari limbah sekitar. Selain itu, para mahasiswa melakukan upcycling barang bekas yaitu pembuatan sprayer dari botol plastik bekas. Sprayer tersebut dibuat dengan bahan dasar botol air mineral bekas berukuran 600 ml, kepala semprotan yang sudah tidak terpakai dan lem tembak. Para siswa/i SMP Firdaus belajar merangkai ketiga bahan tersebut menjadi sprayer untuk mengaplikasikan pestisida nabati. Meskipun tidak semua langsung berhasil, secara keseluruhan para siswa/i terlihat serius dalam mengerjakan tugasnya dan harapannya bisa terinspirasi untuk mengeluarkan ide-ide lain dalam pengolahan barang bekas.

profil7
Pembangunan Kebun Secara Bertahap, Memulai Aktivasi Kebun
Sumber: Dokumentasi Seni Tani

 

profil8
Membuat Sprayer DIY dari Botol Bekas
Sumber: Dokumentasi Klintan UNPAD

 

profil9
Membuat Media Tanam dan Memasukkannya ke dalam Raised Bed
Sumber: Dokumentasi Seni Tani

 

profil10
Membuat Pupuk Organik Cair Bersama Mahasiswa Agroteknologi UNPAD
Sumber: Dokumentasi Seni Tani

 

Fase III: Kebun Firdaus Tahun II

Setelah berjalan selama satu tahun, tentu ada banyak hal yang harus diperhatikan dan dievaluasi oleh Kebun Firdaus. Di antaranya adalah materi setiap pertemuan yang lebih tersusun rapi, serta perlunya relawan tambahan sebagai pendamping tetap di ekskul berkebun. Berdasarkan evaluasi tersebut, disusunlah program selama satu semester dengan tambahan materi perancangan kebun dan serta seorang relawan tambahan bernama Mega.

Berbeda waktu, berbeda pula tantangannya. Beberapa hal mengalami perkembangan seperti sistem piket perawatan kebun sudah bisa berjalan, berhasil membuat kompos dengan metode lasagna compost, serta sistem bak penampungan air yang sudah mulai berjalan berkat donasi air dari salah satu tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan Kebun Firdaus. Namun demikian, terdapat beberapa hambatan seperti materi perancangan kebun yang kami harapkan menjadi inti dari materi-materi lainnya ternyata tidak semudah itu untuk disampaikan kepada para siswa. Banyak improvisasi yang harus dilakukan agar materi tetap bisa berkesinambungan dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya. Kendati demikian, hal tersebut tidak mengurangi keceriaan para siswa untuk tetap mengikuti ekskul berkebun, meskipun jumlah siswa yang hadir fluktuatif.

Pada fase ini, Kebun Firdaus sudah berjalan selama 1 semester. Desember lalu, kelas ekskul berkebun tahun ajaran 2023/2024 semester I resmi diakhiri dengan panen raya kangkung sebanyak 14 kg yang dibagikan secara merata kepada seluruh siswa peserta ekskul berkebun. 

 

profil11-2
Kegiatan Perancangan Kebun Cita-cita
Sumber: Dokumentasi Mega

 

profil12
Membuat Kompos
Sumber: Dokumentasi Seni Tani

 

profil13
Ngarujak di Kebun, Sebagai Salah Satu Ide Improvisasi Kegiatan di Kebun
Sumber: Dokumentasi Mega

 

profil14
Panen Kangkung
Sumber: Dokumentasi Mega

 

Penutup

Kebun Firdaus dibangun atas dasar kepedulian dari para relawan guru dan komunitas sekitarnya, memberdayakan para siswa dengan segala keterbatasannya, mengaktivasi lahan tidur menjadi ruang hidup nan produktif. Kebun Firdaus tidak hanya menjadi wahana pembelajaran yang observatif mata pelajaran eksakta melainkan pendidikan moral dan etika juga ditanamkan di dalamnya. Sebagai contoh, melalui kegiatan berkebun bersama, siswa/i dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan teman, orang tua, bahkan dengan alam. Saling menghargai saling menjaga satu sama lain dan alam.

 

profil15
Kegiatan Berbagi Pengalaman Kebun Firdaus bersama Kementrian Pendidikan Timor Leste
Sumber: Dokumentasi Seni Tani

Pada bulan Juni 2023, KAIL dan Seni Tani berkesempatan untuk berbagi sudut pandang mengenai potret pertanian secara global serta berbagi pengalaman mengelola kebun sekolah kepada  para peserta dari Kementrian Pendidikan Timor Leste (Ministério da Educação, Juventude e Desporto). Pemerintah Timor Leste berencana menjadikan program Kebun Sekolah sebagai rencana strategis pendidikan di Timor Leste. Cerita perjalanan Kebun Firdaus adalah salah satu cerita yang dibagikan kepada mereka. Kebun Firdaus merupakan salah satu upaya menjawab tantangan isu lingkungan dan pangan. Kami berharap akan ada langkah serupa yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia di masa yang akan datang.

Kebun Firdaus masih jauh dari kebun ideal untuk sebuah cita-cita besar pendidikan.  Namun demikian, setiap proses yang dilalui menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk bertumbuh dari waktu ke waktu.

***

 

Profil:

Fathan Nurul Abdillah memiliki latar pendidikan Desain Produk dan mendapatkan gelar S1 pada tahun 2018.  Kepeduliannya terhadap pertanian di Indonesia membawa Fathan mendalami praktik pertanian semenjak 2019 dan tergabung ke dalam Komunitas 1000kebun. Pada tahun 2020, Fathan bersama 4 teman lainnya mendirikan Seni Tani. Sampai saat ini Seni Tani masih berjalan dan ia berperan sebagai Koordinator Produksi dan Kerjasama Petani.

 

Fathan Nurul Abdillah

Fathan Nurul Abdillah memiliki latar pendidikan Desain Produk dan mendapatkan gelar S1 pada tahun 2018. Kepeduliannya terhadap pertanian di Indonesia membawa Fathan mendalami praktik pertanian semenjak 2019 dan tergabung ke dalam Komunitas 1000kebun. Pada tahun 2020, Fathan bersama 4 teman lainnya mendirikan Seni Tani. Sampai saat ini Seni Tani masih berjalan dan ia berperan sebagai Koordinator Produksi dan Kerjasama Petani.

One thought on “[Profil] Kebun Firdaus: Sebuah Pembelajaran Membangun Kebun Sekolah

Leave a Reply

Your email address will not be published.