[Pikir] Alam, Ibu Kandung Segenap Cerita

[Pikir] Alam, Ibu Kandung Segenap Cerita

“Why there is something rather than nothing?” –  Martin Heidegger

 

pikir_umbu

Mengapa kita membuat cerita?  Supaya kita dapat menerima keadaan yang terberat dalam kehidupan. Demikianlah banyak cerita telah disusun sepanjang peradaban untuk mencerna kehidupan dalam tantangan-tantangan tersulit. Tetapi bagaimana dengan cerita yang bukan karangan kita, yang datang pada kita tetapi bukan dari pengalaman kita sendiri? Cerita yang asing tetapi menyangkut apa yang kita alami, yang membentuk kita dan menyeret seluruh peri kehidupan kita di dalam narasinya? Apakah kita akan terlena pada jalan cerita itu dan membiarkan seluruh tuturannya mengalir? Apakah kita bisa keluar dari cerita asing tersebut? Apakah ada caranya kita menguasai cerita tersebut?

Kita telah menghidupi berbagai cerita kolosal. Cerita tentang jadinya alam semesta dalam kosmologi tua Vedanta, tentang perputaran roda waktu semesta beribu tahun dan Dewa Wisnu yang terlelap, terbangun untuk kembali mengubah zaman. Atau cerita tentang Prometheus yang diminta mencipta manusia untuk menyembah dewa-dewa Olympus namun berujung hukuman karena peristiwa pencurian api. Juga cerita yang paling kita kenal tentang penciptaan manusia di taman firdaus yang berujung pengusiran. Semua cerita itu berujar derita, tentang kemusnahan di penghujung masa, tentang dewa yang dihukum mati setiap hari di puncak gunung, atau tentang nasib manusia yang mesti menderita sepanjang hidupnya akibat memakan buah terlarang.

Semua cerita apokaliptik yang kita kenal, yang menyatakan nasib tak terelakkan, membuat kita mampu mencerna segenap cerita-cerita sejarah dan berbagai kisah personal kita. Nasib buruk kita hanya bisa tercerna dengan membaca cerita asli yang sudah kita terima, bahwa segala sesuatu menuju pada kesudahannya, mengalir menemui hari terakhirnya.

Tetapi bagaimana dengan cerita lain yang datang pada kita, bukan dari kita dan bukan tentang kita. Sebuah cerita yang datang belakangan, dibisikkan sedemikian sehingga tak terdengar oleh kesadaran kita tetapi menyerap ke dalam seluruh cara kita berada.

Ini adalah cerita tentang api yang dicuri Prometheus, tentang buah yang dicuri dari pohon suci di Taman Eden.

 

Teknologi, cerita tentang ilusi keleluasaan manusia

Setelah Prometheus membangun tubuh manusia dari tanah, ia meminta saudaranya Epimetheus untuk melengkapi manusia dengan kecakapan, namun ternyata semua bakat penting telah dibagikannya pada segenap makhluk hidup lain. Ular telah dilengkapi dengan bisa, elang dengan sayap dan singa dengan taring dan cakarnya. Semua telah memiliki apa yang diperlukan untuk menjalankan kehidupan, tetapi Epimetheus lupa pada manusia. Maka Prometheus mencuri api dari para dewa untuk manusia sebagai pemberian terpenting kehidupan. Prometheus lantas dihukum di puncak gunung dimana setiap hari elang merobek dan memakan hatinya.

Api, sebagaimana juga buah curian dari taman Firdaus, adalah pemberian simalakama. Dengan diterima manusia memiliki kecakapan abstraksi, mampu melihat kebenaran, kegunaan, dan hukum sebab akibat yang mengatur jalannya semesta serta menundukkan semuanya. Namun dengan menerima itu, sang dewa Prometheus mengalami penderitaan setiap hari. Kesuraman yang sama ada dalam cerita penciptaan tradisi Yahudi: manusia pun diusir, diceraikan dari habitat aslinya di alam taman nan asri.

Manusia yang telah lupa pada Prometheus dan taman Eden itu, membuat pilihannya sendiri. Tak ada lagi persimpangan simalakama.  Tinggal dalam kegelapan atau pun hidup serasi dengan alam ciptaan di taman Eden adalah kebodohan. Manusia memilih jalan ke depan, menentukan nasibnya sendiri dengan bantuan api Prometheus dan buah pengetahuan yang dicuri.

Martin Heiddeger, filsuf Jerman yang menyaksikan kehancuran manusia akibat perang dunia pertama dan kedua serta perlombaan senjata merumuskan kecemasannya dalam visi profetis filsafatnya tentang bahaya teknologi. Seperti api Prometheus, teknologi adalah cara kita menjadi manusia, tetapi api teknologi itu bukanlah sesuatu yang kita kuasai. Teknologi memiliki daya kehadirannya sendiri, terlepas dari kehendak manusia.

Pada mulanya, menurut Heidegger, techne (bahasa Yunani untuk Keteknikan) adalah cara manusia mengungkap kebenaran tentang sesuatu. Dengan techne kita mengubah kayu menjadi tiang, kita memberi makna pada material.  Kita menjadi manusia karena daya teknik kita. Kita adalah makhluk praktis, menggunakan instrumen untuk berdiam di dunia. Techne menurut Heidegger adalah daya ungkap poetic. Dengan kayu kita membangun rumah, kita membuat jembatan, menggunakan alam untuk kepraktisan kita. Mengapa techne bersifat puitik? Karena dengan techne, kita menyingkap kebenaran baru tentang alam.

Tetapi sebagai buah simalakama, techne menjadi teknologi yang  telah melintasi ambang medan poetic dan memberi ancaman terpenting pada kehidupan seluruhnya. Bukan lagi kebenaran atau api yang memberi jalan terang, teknologi telah membakar dunia tanpa ampun sebagai titisan ramalan nasib Prometheus.

Prometheus dalam bahasa Yunani berarti mengantisipasi, melihat ke depan (pro=sebelum, metheus=pikiran), sedangkan Epimetheus yang lupa mencadangkan kecakapan bagi manusia berarti kelengahan pikiran, lupa (Epi=sesudahnya, metheus=pikiran). Sebagai kata biasa, prometheus adalah inti dari api teknologi tersebut, sebuah keniscayaan pergerakan terus menerus yang kemudian dilihat manusia. Dari mesin sederhana di lahan pertanian, teknologi telah mampu mengantarkan manusia mencapai bintang-bintang.

Namun cerita Yunani tersebut menitipkan pula nama Epimetheus, yang berarti kelengahan, alpa pikiran. Manusia lupa bahwa teknologi bukan lagi soal poetic, soal pernyataan kebenaran hidup, tetapi soal apa yang bisa diberikan tanpa diminta. Heidegger menyebut hakikat teknologi yang terus menerus menyediakan hidangan kegunaan alam di hadapan manusia sebagai gestell, enframing: suatu situasi kehampaan pikiran di mana manusia berubah menjadi konsumen atas dunia. Melalui enframing ini, teknologi membuat kita terprovokasi untuk melihat segala sesuatu bahan yang tersedia untuk digunakan bahkan untuk tujuan-tujuan konsumsi yang tidak otentik.

Inilah sebuah cerita baru, cerita asing yang lahir dari api yang dicuri Prometheus, sebuah cerita tentang jalannya teknologi yang melintasi daya-daya poetic manusia, dengan konsep  dunia sebagai pesta kelimpahan dan keleluasaan makan memakan tak berujung. Teknologi adalah tuan rumah dari pesta besar keserakahan manusia. Kita merasa bahwa teknologi bisa mendaur ulang sampah, membuat energi terbarukan, membangkitkan spesies yang telah punah dan pada saatnya menyelamatkan spesies manusia ke planet baru jika bumi menjadi usang karena habis terpakai.

Pikiran “teknologi adalah pelayan dan pembantu manusia” adalah ilusi, sebuah dosa asal dari pencurian buah terlarang di taman Eden.

Benar bahwa teknologi telah membangun manusia. Kita menyintas evolusi dengan teknologi. Kalau semua makhluk lain beradaptasi pada dikte lingkungan dan membangun fisiologisnya dengan daya-daya survival, manusia sebaliknya membangun environment yang sesuai keinginannya. Tetapi dengan cara itu kita menjadi makhluk yang bergantung pada alat bantu, mahluk instrumentalis, prosthetic. Kita menjadi telanjang, buta, lumpuh dan bisu tanpa teknologi. Kita mengalami ilusi ketidakberdayaan tanpa teknologi.

Tetapi sebenarnya teknologi memiliki khitahnya sendiri, sebuah keadaan lumpuh buta, singularitas (ketiadaan jalan keluar) yang tersingkap perlahan-lahan dalam lanskap kerakusan konsumtif manusia. Bagi manusia teknologi itu mencengangkan, menjanjikan,  membuka tabir semesta, menyingkap rahasia jagad raya serta menghanguskan semua cerita tua kosmologi. Teknologi juga melengkapi manusia dengan instrumen yang merelativisasikan jarak dan waktu, bahkan menyuguhkan berbagai euforia jaman baru keberlimpahan.

Untuk manusia pengguna, teknologi itu sekali lagi mencengangkan, tetapi untuk manusia pemandu teknologi, pemilik modal, pemegang kekuasaan, teknologi adalah alat kolonisasi bagi penguasaan dunia. Tetapi semua itu ceita yang hambar, karena seperti cerita Prometheus yang hatinya dimakan elang, manusia prosthetic kehilangan daya merasa, kehilangan visi masa depan yang mestinya lahir dari hatinya. Teknologi itu buta, hampa, tanpa hati, singular, tanpa horizon di mana kita bisa berdiri melihat di pinggiran mencari realitas lanjutan. Inilah cerita paling asing dan paling menyedihkan sebab kita tak punya harapan.

 

Menulis ulang cerita

Cacat terberat manusia yang diakibatkan oleh teknologi adalah berhentinya jalan cerita, singularitas, sebuah keadaan di mana teknologi membutakan daya inteligensi manusia, ketika artificial intelligence menjadi jauh lebih cerdas dan menghentikan ikhtiar berpikir dan berkontemplasi. Kita tidak lagi punya cerita. Semua legenda sudah ditelanjangi, semua cerita telah dimentahkan dan manusia terdesinfektansi dari semua virus kreatifnya. Jadilah kita makhluk pelahap, pemakan ekses teknologi dan kehilangan visi otentik. Segala sesuatu adalah sumber daya, properti, tersedia untuk digunakan, semuanya, hutan, sungai, matahari, binatang dan semua orang. Hanya ada sebuah linearitas, keniscayaan makan dan makan, pemuasan hasrat konsumsi, garis lurus menuju kemusnahan.

Dongeng, hikayat, nyanyian, peribahasa telah diganti dengan binary order, digital, denyut pulsatif yang hanya merespon pada ‘ya dan tidak’, pada ‘ada dan tiada’.

Sebetulnya setiap legenda, cerita epik, nyanyian dan sastra agung adalah tentang menyentuh ada dan tiada. Manusia terpesona pada peristiwa dari ada menjadi tiada dan mencari penghiburan dari peristiwa ada menjadi tiada. Hidup adalah denyut antara ada dan tiada. Heidegger menyebutnya Sein zum Tode, keberadaan menuju keberakhiran, bahwa hidup menjadi konkret karena kita sesungguhnya menghidupi interval ada dan tiada. Tanpa kesadaran akan keberakhiran, kita melayang dalam abstraksi, tanpa relasi langsung dengan realitas dan tanpa tanggung jawab, melihat segala sesuatu sebagai bahan dan fasilitas semata.

Heidegger melihat keberadaan manusia sebagai Dasein, sebuah kehadiran konkret di dalam realitas, berada di sana, berada dalam konteks dan bersimpati dengan totalitas keberadaan. Heidegger mengisyaratkan tugas manusia sebagai gembala keberadaan, penyair, yang menyingkap dunia pada inteligibilitas poetic melalui techne, bekerja dan berbudaya.

Borges, sastrawan Argentina menulis bahwa adalah tugas terpenting manusia untuk menggambar ulang dunia melalui cerita. “Ars immitatur naturam” , berkesenian itu adalah meniru alam, kata Aristoteles. Kita adalah bagian dari totalitas alam sekaligus adalah makhluk kontemplasi, dengan daya tafsir atas keberadaan untuk menjadikan dunia sebuah tempat tinggal. Tafsir atau cerita tersebut, bukanlah untuk memanipulasi keberadaan, melainkan untuk berada secara intelek, secara poetic di tengah dunia. Meskipun cerita itu tidak sempurna, kita telah diingatkan tentang batas-batas kita, keberadaan dalam denyut interval antara ada dan tiada.

 

Memandang pada alam

Bagaimana memulai sebuah cerita? Apa yang bisa mendorong kita membangun narasi keberadaan dan berhenti dari makhluk pemakan?

Heidegger mengajukan kapasitas kita untuk terpesona, wonder, untuk sungguh berada dan bertanya. Dasein pun berarti keberadaan yang terbuka (Da = terbuka). sekalipun kita memiliki pengetahuan presisi melalui sains dan berhasil membangun teori yang tampaknya tak tergoyahkan, kita tetap harus peka pada celah-celah ketidaktahuan, pada kapasitas untuk merasa takjub. Borges berkata bahwa setiap cerita yang kita bangun tentang dunia adalah cerita yang berujung pada kemustahilan, pada ketidakcakapan mencakup seluruh misteri keberadaan. Terhadap keberadaan, seluruh ikhtiar kita bersifat medioker, setengah jadi. Rahasia keberadaan senantiasa berada di tepian horizon pengetahuan, berada sedikit di luar cerita.

Jika kita telah selesai membaca cerita semuanya, tentang penciptaan, tentang Prometheus, tentang pergerakan zaman Vedanta, dengung keberhinggaan nasib kita akan mengiang di batin kita. Tergantung kita untuk memilih sikap fatalis, memilih tuan teknologi yang menghapus rasa takjub kita pada alam dan memakan semuanya, atau memberi ruang pada kebersamaan dengan totalitas keberadaan.

Semua cerita telah membuat kita tersingkir. Kisah penciptaan dan kisah api Prometheus telah mengutuk kita. Bahkan teori sains telah menggeser kita dari pusat semesta menjadi debu kecil di lengan galaksi bimasakti yang juga hanya sebutir debu alam raya.

Tetapi kita lah yang empunya cerita. Kita lah yang membuat dunia ini terpahami, bukan dengan pengetahuan melainkan dengan keterbukaan pada misteri keberadaan.

Poetically we dwell on this earth“, demikian ungkap Heidegger. Berdiam di bumi secara puitis, melalui techne, mengolah alam untuk menemukan kebenaran kehadiran kita bersama semuanya dalam rahasia keberadaan. Pohon, sungai, lautan, segenap kehidupan adalah jejaring hayati di dalamnya kita bernafas bersama-sama. Inilah Alam, semuanya, jejaring yang peka dan rapuh tetapi sekaligus penopang kehidupan. Alam yang membentang antara ada dan ketiadaan, antara “something andnothing“, sang induk dari semua cerita.

Kitalah yang harus memulai cerita kita sendiri sekarang, memulai rekaan baru sebuah epik yang bertanggung jawab, menghimpun kembali semua legenda dan cerita tua, menyandingkan dongeng dan algoritmik ke dalam simbol-simbol bermakna untuk merepresentasikan sebuah dunia yang bermakna bagi kita dan bagi generasi lanjutan. Dan bahkan jika semua ini toh hancur karena sudah terlambat, atau meteor pemusnah datang sebelum waktunya, hidup hari ini terasakan dalam ketakjuban pada alam semesta, ibu yang mendengarkan semua cerita kita.

Umbu Justin

Umbu Justin

Umbu Justin adalah anak dari Suku Karewa Kampung Pala, Sumba Barat Daya. Ia lulus dari Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, menyukai dunia seni lukis dan fotografi.

Related Posts

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] Cerita dari Seberang

[Pikir] Cerita dari Seberang

[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 4
Total Visitors: 1393

Visitors are unique visitors