[Pikir] Manusia Aktualita

[Pikir] Manusia Aktualita

manusia-1
ref : https://www.haaretz.com/hblocked?returnTo=https%3A%2F%2Fwww.haaretz.com%2Fjewish%2F.premium-why-the-yolocaust-project-was-taken-down-1.5491110

“Those who have a why can bear  any how” – Nietzsche

 

“It is the ego that creates fear, and the ego that keeps us running from the Self we find in the quiet still places. Ego knows if we find the true Self, we will no longer buy into its lies and empty promises.” – Pascal

 

Sebuah Dunia Serba “Hari Ini”

Kita sedang hidup dalam sebuah era praktis. Dunia telah menjadi sebuah sistem pemenuhan kebutuhan. Semua orang, setiap komunitas, semua unit sosial, negara dan koloni-koloni manusia mengarah pada ikhtiar teknologi yang efisien untuk survival dan berbagai kemudahan hidup. Kita bukan hanya berhasil mempercepat proses pematangan dalam industri pertanian, kita bahkan mampu menciptakan berbagai kebiasaan baru yang tidak berguna untuk apa pun dalam representasi humanitas kita melalui media sosial yang semakin narsistik.

Di masa kini, kita menciptakan personalitas permukaan, gambar diri (self-image) yang mudah memukau siapa pun sementara kita sendiri berusaha menjadi semakin anonim di bawah permukaan tersebut. Betapa cepatlah kita terpukau dengan berbagai peluang baru ini dan menegaskan semuanya sebagai bentuk-bentuk kebutuhan yang nyata. Survival kita bukan lagi soal keberadaan yang hakiki, tetapi soal branding, soal terus menerus tampil sebagai pengumbar pesona yang berkompetisi secara ketat.

Kompetisi ketat ini membutuhkan kegigihan untuk menampilkan wajah baru, personalitas yang makin menggetarkan, untuk mengalahkan yang kemarin tampil. Kita hidup dalam kegelisahan untuk mencari aktualita lewat gadget kita, mencari apa yang baru hari ini, mengusangkan yang sudah lewat, serta melupakan semua  yang baru saja berlalu. Inilah sebuah keadaan tanpa sejarah, tanpa akar, tanpa kedalaman.

 

Menyadari Diri Tanpa Ideologi

Ketika kita senantiasa ingin berdiri di garis depan, atau mencari lapisan paling atas kejadian hari ini, kita mengambang, sebab itu cara yang paling ringan untuk senantiasa terlihat. Manusia aktualita, kalau kita mau menamai potret humanitas kita saat ini, berdiri di atas paradoks (pertentangan). Di satu sisi, kita tidak memiliki lagi kemampuan mengakses dan merefleksi nilai-nilai kultural ataupun ideologis kita. Sedangkan di sisi lain, kita sungguh termanipulasi oleh wajah permukaan semua jenis identitas kultural maupun ideologis yang kita anggap milik kita.

Di masa kini, agama-ideologi partai-identitas golongan misalnya menjadi sangat seksi. Orang butuh tampil aktual dengan persona ideologis untuk mencapai elu-elu massa anonim yang besar. Semua berlomba menjadi wakil yang paling aktual dari sebuah ideologi.

Ketika muka dunia menjadi medan perang ideologis, elu-elu massa itu digiring menjadi arus besar fanatisme, menentang ideologi tandingan dengan kebencian yang tajam dan narsisme yang semakin tebal.

Jika kita mau berhenti sejenak dan menyadari paradoks tersebut, bahwa kita menerima ideologi tertentu tanpa mengujinya secara cermat, tanpa berpikir, tanpa menghargai daya-daya batin kita sendiri; bahwa kita ternyata begitu mudah dimanipulasi untuk menjadi makhluk kawanan, elemen anonim dalam masa ideologis untuk menjadi pion dalam ide-ide kelompok pemanfaat   –  maka sangat mungkin kita menjadi lebih tahu diri, mawas hati soal makna hakiki, soal tujuan-tujuan asali masing-masing kita.

Dalam dunia yang serba cepat-serba terpenuhi-serba aktual, kita sepertinya kehilangan kebutuhan untuk menjadi mandiri. Menjadi mandiri, berarti membebaskan diri dari mental kawanan : menyadari jarak nyata antara keberadaan dan identitas, antara kehidupan dan ideologi-ideologi, antara true self dan ego, seperti kata Pascal di atas. Kita seharusnya sesekali mau melepas topeng persona dan menemui diri kita yang mendasar, yang asli, yang sungguh nyata. Ego itulah yang senantiasa gelisah menegaskan ideologi anutannya.  Jika kita mampu menanggalkan identitas ideologis, kita pun bebas dari ego.

 

Sebuah Jalan Sunyi (untuk) Kebebasan

Ideologi selalu berisik, terus menerus berkumandang dan menegaskan keutamaannya. Betapa sulitlah membungkam kebisingan itu sebab seakan kita takut hidup tanpa identitas. Kita selalu ingin tergolong pada sekelompok penganut, berada dalam iring-iringan sebuah kawanan yang justru membuat kita menjadi anonim.

Menjadi anonim berbeda dengan membebaskan diri dari identitas. Menjadi anonim di tengah keriuhan berarti membiarkan diri terbawa arus, mengenakan topeng yang membungkus jati diri. Sementara itu membebaskan diri dari perangkat identitas berarti menghadapi hidup tanpa mencontek, jujur berdiri di tengah dunia tanpa bersandar pada tawaran para penjamin kenyamanan berideologi.

Dapatlah dikatakan bahwa membebaskan diri dari identitas adalah sekaligus membangun keberadaan yang sebenarnya, sebuah cara menjalani kehidupan yang murni yang sepi dari kumandang ideologis dengan pengeras suara serta banner-banner yang memukau.

 

Keyakinan Nietzsche

Viktor Frankl seorang yang selamat dari kekejaman kamp konsentrasi Nazi menulis tentang pentingnya  seseorang ‘membangun’ makna personal untuk menemukan jalan keluar dari tekanan kegilaan ideologis seperti yang ia alami bersama seluruh korban Auschwitz.

Ada begitu banyak penderitaan yang dapat dialami oleh manusia, tetapi penderitaan terbesar adalah hilangnya daya ungkap makna hidup. Pusat filsafat Victor Frankl, dalam gagasannya soal logoterapi, adalah kesadaran akan makna sebagai jaminan akan keberadaan (eksistensi). Manusia yang memiliki makna, alasan, “a why”, akan mampu mengatasi segala kondisi kehidupan, “any how”, bahkan yang paling mengerikan sekali pun.

Ini terlihat sebagai sebuah kontradiksi yang rumit, sebab penderitaan orang-orang Yahudi di Auschwitz berasal dari pemaknaan ideologis Nazi terhadap mereka dan Victor Frankl dengan mengutip Nietzsche justru menekankan pentingnya makna. Bukankah manipulasi makna merupakan strategi terpenting dari setiap keinginan berkuasa kelompok yang kuat dan jahat? Bagaimana mengungkap makna yang pada gilirannya akan rentan dimanipulasi?

Bahkan ketika semua kenangan Autschwitz telah meredup ke dalam sejarah lampau, kita di masa sekarang mengalami manipulasi makna oleh berbagai ideologi, terutama oleh kehausan akan kekuasaan dan keuntungan dari berbagai industri, kaum penunggang agama dan politik.

 

Menyembuhkan Kehidupan

Blaise Pascal menggagas jalan sunyi untuk menemukan tempat hening agar dapat sembuh dari dunia yang sarat manipulasi ideologi. Hanya jika kita menanggalkan ego dan menemukan hati kita di pusat keberadaan, dapatlah kita meregenerasi makna sejati.

Ego adalah wujud dari ketakutan. Semua manipulator makna yang sukses menebar ideologi dan merasukkannya ke benak orang banyak berdiri di atas ketakutan sendiri dan memanipulasi ketakutan korban mereka. Semakin besar ketakutan, semakin besar ego, semakin masif pula manipulasi yang dilancarkan.

Jalan sunyi Pascal adalah sebuah gagasan tentang keberanian jiwa setiap individu yang mulai sadar akan pentingnya keberadaannya sendiri, masing-masing secara otentik. Jalan sunyi bukan soal bertapa atau menutup diri,  apalagi melarikan diri dari hingar bingar ideologis. Victor Frankl di kamp konsentrasi jelas tidak dapat melarikan diri. Setiap kita terlempar ke dalam situasi. Jalan sunyi Pascal adalah soal merawat kesehatan batin, menyadari kebebasan asasi yang terdapat di hati kita, keberanian untuk sadar akan individualitas kita di tengah massa kawanan.

Batin yang disadari itulah tempat kita dapat membangun makna. Tetapi tidak seperti ideologi, kita bukan berusaha membuat teks atau doktrin tentang keberadaan kita. Makna batin bukanlah aksioma atau proposisi, bukan dekrit. Makna batin adalah sebuah keadaan teduh, sebuah penemuan dasar bahwa kita ada, berdenyut hidup dan tumbuh dalam sunyi, rasa tentang  kesungguhan berada. Itu saja.

Dalam dasar yang primeval itu, purba dan tak bernama itu, kita akan menemukan daya hidup yang pada saatnya menuntun kita mengatasi segala kesukaran.

 

Dunia ini akan terus dimanipulasi, dan para pegiat ideologis akan terus memetakan ketakutan manusia secara strategis dan menyuplai kita yang sibuk mencari identitas dengan beragam kepalsuan. Kita yang hidup di permukaan adalah orang sakit meski secara ideologis tampak glowing dan pantas di panggung dunia. Jika kita berani melepas ideologi, mengabaikan setiap tawaran identitas dari setiap manipulator, dan sungguh berdiam menyadari getaran kecil keberadaan kita, maka kita selalu menjadi sembuh meski dalam situasi apapun, dalam kondisi terikat atau terbelenggu di kedalaman penjara tergelap. Kita senantiasa sembuh.

Umbu Justin

Umbu Justin

Umbu Justin adalah anak dari Suku Karewa Kampung Pala, Sumba Barat Daya. Ia lulus dari Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, menyukai dunia seni lukis dan fotografi.

Related Posts

[Pikir]  Pandemi Covid-19 dan Makna Kemerdekaan

[Pikir] Pandemi Covid-19 dan Makna Kemerdekaan

[Pikir] Kontrol Emosi, Jaga Diri : Belajar dari Kaum Stoa

[Pikir] Kontrol Emosi, Jaga Diri : Belajar dari Kaum Stoa

[Pikir] Alam, Ibu Kandung Segenap Cerita

[Pikir] Alam, Ibu Kandung Segenap Cerita

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 2797

Visitors are unique visitors