[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

[Pikir] Cerita dari Banyak Cerita

“I’ve seen things you people wouldn’t believe: attack ships on fire off the shoulder of Orion. I’ve watched C beams glitter in the dark near the Tannhauser Gate. All those … moments .. will be lost in time, like … tears in rain. Time to die..” Roy Batty, Blade Runner 1982

“Time is a river which carries me along, but I am the river; it is a tiger that devours me, but I am the tiger; it is a fire that consumes me, but I am the fire.” Jorge Luis Borges, Argentinian writer, Labyrinths, english ed. 1962

 

Sentient Being antara entropi dan daya hidup.

Ada dua dinamika evolusi dalam semesta, entropi dan daya hidup. Entropi sebagaimana dikemukakan oleh sains, adalah evolusi menuju kemusnahan, segala sistem dalam semesta akan mengarah pada kepunahan. Misalnya matahari akan berevolusi menjadi ”giant red star” lalu melenyap menjadi ”white dwarf”, kehilangan semua bahan bakarnya, yang berarti lenyapnya tata surya kita. 

Entropi adalah keniscayaan dan paralel dengan sains, seluruh kebudayaan manusia mendasarkan keberadaannya secara paradoksal pada sikap terhadap kemusnahan. Manusia memikirkan makna hidup karena adanya kematian. Budaya-budaya dunia mewujud karena tegangan antara melanggengkan pewarisan identitas dan kesementaraan keberadaan. Agama-agama menekan, mengancam dan memberikan janji berdasarkan keniscayaan nasib umatnya.

Daya hidup adalah dinamika yang sebaliknya dari entropi. Biologi menggunakan kata evolusi dengan cara yang bertentangan dengan fisika. Evolusi dalam biologi menunjuk pada kebetulan-kebetulan interaksional yang menerbitkan kehidupan di planet bumi secara berkesinambungan. Daya hidup sepertinya sedemikan eksplosif, dimulai dari rutinitas kimiawi dan fisika sepanjang miliaran tahun, kehidupan terbit dan menjelma menjadi sebuah ekosistem besar dengan variabilitas yang sangat kaya. 

Paleontologi lewat lapisan-lapisan geologis memuat berbagai kisah kemusnahan beragam spesies dalam  bencana alamiah silih berganti, namun dalam perspektif kisah daya hidup, semua kisah kemusnahan itu sampai sekarang adalah kisah tentang celah-celah kebetulan bagi berkembangnya cabang-cabang baru dalam pohon kehidupan. Spesies manusia misalnya, datang dari jalur mamalia yang berkesempatan berkembang setelah bencana hantaman asteroid 65 juta tahun lampau di Yucatan Peninsula. Jika tidak terjadi bencana itu, sekarang mungkin dinosauruslah yang berkembang menuju sentient being sebagaimana kita saat ini. Mereka mungkin akan menyebut diri anthroposaurus dan menamai spesies mereka sauron sapiensis.

Daya hidup sepertinya tak terkalahkan dan sangat mengabaikan entropi. Sekali pun sains menegaskan kemusnahan tatasurya kita, dan juga sinyalemen kehancuran ekologis saat ini, catatan-catatan kemusnahan pada lapisan-lapisan geologis di atas memberikan insight betapa kuatnya daya hidup melampaui semuanya. Kita tidak dapat tahu bagaimana daya hidup akan melampaui bencana ekologis saat ini pun kemusnahan tatasurya, tetapi dapatlah kita belajar tentang keberadaan kita sebagai homo sapiens, pewaris arah evolusi ke sentient being yang mewujud tampil dari sekian kali ‘perlawanan’ daya hidup pada bencana kemusnahan.

Keniscayaan matematis kehidupan

Para evolusionist menganggap bahwa seluruh gejala tampilnya kehidupan adalah gejala matematis yang berlangsung secara algoritmik. Seperti komputer yang memproses banyak data relevan, semesta memproses data keberadaan bumi dalam semesta sampai menghasilkan gejala kehidupan di bumi. Rutinitas rotasi dan revolusi bumi  selama miliaran tahun, jarak yang ideal terhadap matahari sehingga air tetap bisa berujud cair, pasang surut akibat gravitasi bulan dan sedemikian banyak proses kimiawi telah menghantar bumi menjadi rumah bagi kehidupan. Seluruh sintesa algoritmik ini terus berlangsung menumbuhkan pohon kehidupan dengan variabilitas mahluk hidup yang sangat luas meliputi bakteria, jamur, vegetasi dan binatang. Semuanya berkembang, beradaptasi, musnah, menghasilkan spesies baru, menghadapi kemusnahan dan mengatasinya; semuanya secara algoritmik.

Sains mengklaim matematika sebagai medan universal tempatnya berdiri. Sains bekerja secara induktif, mendasarkan perwujudannya pada data yang bisa diraih dengan pelbagai instrumen pencatat dan pengindraan, melampaui jarak fantasis kosmis dan menukik dalam pada struktur material lalu memproses semuanya dengan komputasi yang presisi dan merumuskan teori terbaru. Tugas sains adalah mengetahui formulasi matematis segala sesuatu. Sains tidak tertarik pada gejala kehidupan sebagai sesuatu yang unik. Bagi sains, kehidupan adalah gejala matematis, bisa diuji pada laboratorium, bisa disimulasikan dan bisa ditiru melalui algoritma yang mirip. 

Artificial Intelligence, tautologi matematis

Kutipan pertama di atas diambil dari keluhan ‘seorang’ android dalam film fiksi sains Blade Runner pada yang dirilis tahun 1982. Disetting pada tahun 2019, di kota Los Angeles, pada saat teknologi telah mampu membuat android, manusia buatan yang secara biologis persis sama dengan manusia kecuali bahwa mereka bisa dimodifikasi untuk lebih kuat dan lebih fungsional untuk kebutuhan perang dan penambangan di pelbagai planet lain. Ternyata para android yang disebut replicant, memberontak dan karenanya harus dimusnahkan. Mereka diburu dan diistirahatkan oleh sejumlah agen polisi yang disebut Blade Runner.  Perusahaan pembuat replicant kemudian membatasi usia android sehingga segera kadaluarsa setelah tugasnya selesai. Salah satu android-replicant yang berhasil kembali ke bumi, ingin memperpanjang usianya. Ia kemudian mengetahui bahwa hal itu tidak dimungkinkan karena ia dibuat dengan format usia pendek. Di hadapan Blade Runner yang memburunya, di tengah hujan di puncak gedung di kota Los Angeles yang bermandikan cahaya lampu-lampu neon advertising, ia mengeluhkan bagaimana semua yang ia alami akan lenyap begitu saja dalam berlalunya waktu, bagai air mata yang gugur dalam hujan. Lalu ia pun mati.

Film Blade Runner berkaitan dengan keterpesonaan kita pada inteligesia, kecerdasan dan perannya dalam kehidupan. Inteligensia adalah alat bagi sains untuk memanipulasi algoritma semesta dan membangun ulang kehidupan sesuai kehendak manusia yang menginginkannya dan memiliki kapital untuk itu.

Sejak lama, manusia ingin mencipta ulang dirinya sebagai sebuah alchemy narsistic yang laten. Cerita Rabi Yahudi di Praha abad 16 yang membuat golem, manusia buatan dari tanah liat yang bisa diperintah, cerita Frankestein, tidak termasuk Pinokio, pembuatan robot pelayan dan berbagai film tentang humanoid adalah contoh bagi kecenderungan tersebut. Kita terpesona pada diri kita, pada rasionalitas kita, pada sensualitas badaniah kita dan pada nasib kita. 

Sains yang sepertinya tidak peduli pada eksistensi manusia justru berakar kuat pada rasionalitas filosofis yang dinyatakan oleh filsuf-matematikus Rene Descartes di abad 17: dubito, ergo cogito, ergo sum!  – sekalipun dalam keraguan, toh saya berpikir, maka saya ada! Pernyataan ini meluluhkan seluruh keberadaan manusia dalam format cetakan rasionalitas. Kita hanyalah formulator matematis keberadaan. Tugas kita adalah mencari formula persamaan matematis dari gejala keberadaan. Kita mencari perbandingan, ratio, kesetimbangan, antara realitas dan abstraksi matematis. Kita terikat pada tautologi, redundancy, pengulangan, pencerminan, kesamaan. Kita berusaha mengulang apa yang sudah ada: 2 + 2 = 4, keliling lingkaran sama dengan Pi dikali diameter, e = mc2  dst; semua formulasi tersebut mengambil bentuk tautologi. 

Tautologi menjadi coloquial, bahasa matematika setempat dalam sains. Walau pun begitu sains mengklaim bahwa bahasa matematika sains bersih dari kekeliruan, presisi dan universal. Konsekuensinya bahasa matematika tidak berbicara tentang gejala secara langsung, tidak terikat pada partikularitas kondisi sehari-hari, ia adalah bahasa abstraksi.

Bahasa abstraksi matematis dengan demikian membicarakan realitas secara generalis, secara umum, mengabaikan kompleksitas sebuah obyek pengamatan atau realitas. Realitas menjadi ‘one dimensional’ dan hanya bisa dikenal secara tautologis, lewat cerminan konseptualnya saja.

Sang android – replicant dalam film Blade Runner datang dari tautologi teknologi, manusia mencipta ulang dirinya dengan tujuan fungsional terfokus, one dimensional humanoid untuk tujuan khusus. Namun saking miripnya humanoid itu dengan manusia, ia memiliki rasa, kenangan dan pengharapan. Ia pulang memintas antariksa untuk membela hidupnya yang ternyata tidak satu dimensional. Dihantui oleh keniscayaan entropi, kematian yang menunggunya, ia menyayangkan setiap kenangan hidupnya akan melenyap dalam waktu, tak berbekas, bagai guguran air mata dalam hujan.

Itulah epoch nasib humanitas, meski dipikul oleh humanoid. Ia mati oleh keniscayaan entropi yang diprogram di laboratorium robotik. Ia adalah produk kemajuan teknologi satu dimensional, artificial inteligence yang akhirnya mati di gedung tinggi Los Angeles 2019, simbol pencapaian kolonisasi manusia atas alam, dengan pencahayaan redup binar-binar lampu neon iklan kota, simbol konsumerisme hidup, mudah tapi eksploitatif.

Berdamai dengan diri, menemukan kembali intuisi keberadaan

Dunia kita saat ini mewarisi cerita tautologis, manusia mencipta ulang kecerdasannya, mengelola semua peluang secara pragmatik demi memenuhi keinginan akan rasa senang, rasa puas yang senantiasa ada. Cerita klasik yang lebih tua lagi yang laten, adalah manusia memproyekskan dirinya sebagai takaran dari semesta, bahwa seluruh dunia adalah bentuk-bentuk kekayaan yang perlu dimanfaatkan untuk pemuliaan diri manusia. Alam adalah properti, kekayaan. 

Lebih rumit lagi, manusia membuat standar pada humanitasnya berdasarkan ciri-ciri biologis, nilai-nilai dagang dan industri, ras, agama, kelompok-kelompok ideologis dan bahkan identitas-identitas superfisial. Manusia begitu haus akan identitas, karena itu dibangunlah cerita-cerita narsistik untuk mengagungkan keberadaannya dan mendukung tidakannya. Cerita-cerita superiotas agama, legenda-legenda komersial tentang kecantikan, sensualitas badaniah, berdengung lewat mimbar, televisi dan media sosial.  Inilah pesona tautologis yang mengobati rasa ketidaknyamanan manusia jika ia bertemu dengan ketidaktahuan.

Lantas bagaimana kita menemukan jalan keluar dari kecenderungan narsistik yang menghampakan kehidupan itu?

Kita perlu menarasi ulang kehidupan.

Diri kita terbangun dari cerita dan banyak cerita. Tidak ada cerita tunggal linear yang mengikat kita dalam tautologi untuk mendefenisikan diri kita pada satu frame tertentu. Begitu juga seluruh realitas kehidupan, disusun oleh cerita majemuk keberadaan. 

Dalam matematika tautologi, 2 +2 = 4. Tetapi itu hanya pada tataran abstraksi. Jika kita bawa ke dalam realitas, 2 apel + 2 apel = 4 apel, tetapi yang benar cuma jumlahnya. Apel bisa berbeda warna, rasa, ukuran dan kenangan. Ada apel dari kebun sendiri, ada yang datang dari seberang laut; ada yang dibeli di supermarket, ada yang diberi oleh ibu kita. Dalam realitas, tautologi hanyalah coloquial dan sementara.

Memperbaiki dunia ini adalah berdamai dengan diri kita, dengan seluruh cerita kehidupan. Diri kita bukan pusat dunia, bukan ujung evolusi tetapi kitalah pewaris kesadaran. Kita lah intelek pengamat yang memahami keberadaan, atau seperti kata filsuf eksintensialis Martin Heidegger, kita ini gembala realitas. Kita bukan pemilik, bukan penguasa tetapi kita dapat melihat arah dan menyadari keluasan spektrum realitas.

Gambaran gembala realitas mengingatkan kita tentang tanggung jawab etis untuk membimbing kehidupan. Gembala juga berarti kita lebih banyak berdiam dalam sunyi, berdamai dengan keheningan dan menyadari daya hidup yang membangun dunia. Gembala juga berarti penutur dan pendengar cerita; begitu banyak cerita yang senantiasa muncul, merajut keberadaan dengan kekhasan latar belakang dan maksud kehadirannya masing-masing. Cerita-cerita tersebut bisa terdengar hanya lewat kapasitas intuitif seorang perenung. 

Jika pikiran terkuasai oleh ideologi, oleh doktrin, maka intuisi dilumpuhkan. Lantas kita kehilangan daya hidup, terkurung oleh ideologi dan doktrin yang pasti akan kadaluarsa oleh waktu. Semua defenisi yang ada secara real terikat pada entropi.

Daya hidup itu real, tetapi ia yang memberi makna pada entropi. Daya hidup berlangsung karena ada hidup dan mati, ada siang dan malam, ada pasang dan surut, ada ujung-ujung keberadaan. 

Daya hidup itu intuitif, seperti matematika itu intuitif.

Tautologi hanya sebagian kecil wajah matematika, dan algoritma pun bergantung pada kelengkapan data untuk suatu solusi. Yang kita sebut sebagai artifical intelligence, hanyalah soal komputasi. Matematika bukan demi solusi pragmatik, bukan komputasi, ia ada senantiasa pada latarbelakang kehidupan. Sesekali kita menyadarinya secara intuitif dalam solusi-solusi dan formulasi tetapi ia selalu tersembunyi di latar belakang.  Ia ada sebagai peramu cerita kehidupan, menata urutan-urutan dalam semesta dan menampakkan rahasianya pada batin yang damai.

Batin yang damai, batin gembala keberadaan, melihat dan menghormati cerita dan membiarkan hidup berjalan. Dulu ada dinosaurus tetapi kemudian ada hantaman asteroid, lalu dari mamalia kecil yang selamat dari bencana tampil genus homo, lantas ada cerita homo sapiens, pewaris sentient being

Daya hidup sepertinya selalu berubah haluan, tapi pasti dalam memelihara keberadaan. Keberadaan para pelakon di panggung kehidupan lah yang tiada pasti, menunggu giliran untuk tampil pada babak yang khas, sebab cerita yang berlangsung bukan tulisan pribadi seorang aktor.

Seperti renungan dari Jorge Luis Borges yang diambil dari bukunya Labyrinths, di awal tulisan ini, diri kita bukanlah ciri khas kita, bukan pula soal  homo sapiens atau mahluk di panggung kehidupan, kita adalah pengamat, kita adalah gembala, kita adalah pendamping daya hidup, pewaris intuisi keberadaan, kita adalah penutur isi cerita itu seluruhnya.

….

 

addendum 

illustrasi

  1. Melencolia 1 oleh seniman Albrect Durrer 1514

Ini adalah illustrasi semangat renaisans di Jerman, menggambarkan 2 figur utama, manusia bersayap. Meski banyak yang melihatnya sebagai malaikat, penulis melihatnya sebagai tanda transendensi, sayap memperlihatkan kemampuan abstraksi, daya akal budi untuk membuat jarak terhadap pengalaman badaniah. Renaisans adalah babak intelektual baru yang memerdekakan intelek Eropa dari kungkungan doktrin Gereja. Intelektual yang muda terlihat tekun sedangkan intelektual dewasa terlihat melankolis sekalipun ia telah menguasai pengetahuan geometri dan memiliki semua instrumen eksplorasi semesta. 

Komet berpijar melintas di seberang horizon dan lengkung bianglala adalah lambang dari batas-batas pengetahuan, masih ada rahasia yang belum terselami bahkan oleh segenap instrumen di sekitarnya. Komet dan bianglala bukanlah batu yang solid yang senantiasa ada sebagai kenyataan yang terjangkau, keduanya selalu berlangsung sementara, ephemeral, menghindari tangkapan pengamatan dan jauh di seberang horizon. Sayap pengetahuan tertutup tiada daya untuk menjangkaunya.

Di atas kepala intelektual dewasa terdapat Magic Square, permainan tautologi yang umum dalam matematika, di mana deret bilangan selalu berjumlah sama secara vertikal mau pun horisontal dan diagonal. Tautologi yang demikian tidak mampu memecahkan rahasia kehidupan, hanya ada demi numeral itu sendiri.

Ini semua adalah tafsir pribadi penulis.

Tafsir yang lain bisa dilihat di internet.

  1. Labyrinth

Visi Borges selalu tentang labirin, baginya begitulah dunia ini, bagai cerita yang bertumpuk, berputar, membingungkan tafsir intelek tetapi selalu bermakna bagi yang setia mengikuti cerita kehidupan. Selalu ada kejutan, ketidak tahuan di kelokan-kelokan, tetapi itulah daya hidup yang membangun cerita yang mengasyikan. Kita tiada pernah tahu sudah sedekat mana kita pada tujuan kita, dan bisa saja perjalanan itu membuat kita lupa. Bahkan ketika terasa tujuan sudah sedemikian dekat, perjalanan mungkin mengarahkan kita menjauh lagi. 

Pun bagi penulis, labirin adalah lelaku batin. Perjalanan panjang  yang tidak membawamu jauh. Seakan-akan di situ-situ saja, hidup yang sama, tetapi titian kaki tidak pernah berpijak di tempat yang sama. Visi yang senantiasa berputar melihat keseharian yang sama, visi total, 360 derajat, berputar melihat dari segala arah ke pusat kita. Sepertinya untuk melihat ke dalam tujuan, kita harus melihat segenap horizon dulu, melihat keluar, melihat seluruh dunia, dan membiarkan hidup membelokkan kita ke tempat yang tak terduga. Mungkin juga tak apa-apa tersesat. 

Labirin adalah lipatan-lipatan jalan cerita, hidup nan majemuk. Hidup bukan soal benar atau salah, tetapi soal berjalan dan mengalaminya dengan berani. Perlu keberanian, karena seperti cerita asli labirin ala Yunani, dalam kekusutan labirin ada mahluk buas bernama minotaur, setengah manusia setengah banteng petarung. Anggaplah minotaur itu adalah naluri hidup kita, setengah liar setengah sentient. Hanya jika kita mau berevolusi menjadi sungguh sentient, minotaur itu bisa diatasi. Sebab ancaman kehidupan bukanlah hilang nyawa, hilang keuntungan atau hilang pegangan, melainkan hilang rasa, matinya sentient, kalah pada kebuasan keinginan-keinginan naluriah. 

labirin

Dalam perjalanan labirin kita selalu pergi dan kembali, membaca cerita yang sama berkali-kali, tetapi selalu ada kesempatan menarasi ulang cerita itu karena kita sebetulnya selalu berjalan di titian jalan yang baru. Selalu ada kesempatan memperbaiki, selalu ada cara menata ulang, mamberi kesempatan batin mengalami katarsis, penebusan, maaf, pengampunan dan tetirah; sebab daya hidup adalah soal penciptaan baru, penyesuaian, kesembuhan dan langkah ke depan.

Hidup adalah soal berasimilasi, beradaptasi, mendekonstruksi dan merekonstruksi ide cerita tentang tujuan keberadaan kita. Hanya dengan begitu kita sungguh maju dalam jalan labirin kehidupan. Tujuan kita selalu inti batin kita, pusat keberadaan yang kepadanya kita hantarkan kejadian cerita dari banyak cerita hidup kita.

 

Umbu Justin

Umbu Justin

Umbu Justin adalah anak dari Suku Karewa Kampung Pala, Sumba Barat Daya. Ia lulus dari Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, menyukai dunia seni lukis dan fotografi.

Related Posts

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] “The Other: Wajahku yang Lain!”

[Pikir] CERITA DARI SEBERANG

[Pikir] CERITA DARI SEBERANG

[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

[Pikir] Konflik Diri yang Membakar Negeri

[Pikir] Menjadi Manusia

[Pikir] Menjadi Manusia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors