[Editorial] Berdamai dengan Alam

[Editorial] Berdamai dengan Alam

Editorial Edisi 27

Pembaca Proaktif Online Budiman,

 

Tibalah kita di penghujung tahun 2020. Segala perubahan luar biasa kita alami bersama di dalam suasana pandemi Covid-19, sebuah peristiwa yang tak seorang pun pernah mengalaminya sebelumnya. Mungkin tidak sedikit di antara kita yang merasa gundah gulana karena ketidakjelasan atas situasi ini. Ada yang meresponnya dengan terdiam, ada yang tetap melakukan apa yang masih dapat diperbuat, dan ada pula yang menelusuri ke dalam untuk merefleksikan kembali apa yang penting dalam hidup ini. Mungkin salah satu refleksi itu adalah : “apakah ini sebuah mekanisme dari alam untuk menyeimbangkan kondisi bumi yang telah berat sebelah?” Tema yang awalnya dirancang, bukan karena kami telah menduga adanya hal ini, namun kemudian seolah sangat relevan dengan kegundahan banyak orang, Proaktif Online edisi Desember 2020 menghadirkan BERDAMAI DENGAN ALAM.

 

Kami menghadirkan tulisan-tulisan melalui lini khas Proaktif Online untuk menghadirkan diskusi ataupun wacana yang sekiranya dapat menjadi oase tersendiri.

 

  1. Pikir

Oase pertama adalah rubrik PIKIR yang diisi oleh Umbu Justin melalui Ibu Kandung Segenap Cerita yang mengajak pembaca berpikir, bagaimana teknologi dapat berdampak dalam menjauhkan relasi kita dengan alam, bagaimana teknologi juga telah membuat kita menjadi tidak lagi terbiasa menyusun cerita untuk diwariskan. Mungkinkah cara terbaik itu dengan kembali kepada alam yang selalu memiliki simbol-simbol bermakna dan pesan kehidupan?

  1. Masalah kita

Oase kedua akan memperlihatkan kepada kita, sebuah perbandingan atas suatu kondisi yang disikapi secara berbeda oleh 2 kelompok masyarakat pada 2 jenis pemukiman yang berbeda jenis pula. Subjek yang sama – ular, kadal, semak belukar – mengalami perlakuan yang berbeda, satu kelompok akan berusaha menghilangkan mereka sementara yang lain akan membiarkan mereka untuk hidup melayani manusia. Fictor Ferdinand menawarkan sebuah alternatif bagaimana “menghilangkan” Masalah Kita.

  1. Opini

Pada oase ketiga, Opini Rio Kornel membawa kita pada kenyataan bahwa kondisi alam yang semakin kritis perlu dibarengi dengan tindakan nyata. Bercocok tanam mungkin dapat menjadi jawaban dan pilihan tindakan yang bisa kita ambil. Bercocok tanam di satu sisi memberikan kemandirian bagi diri sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan di sisi lain, bila dilakukan dengan metode yang selaras alam, maka kita turut memperbaiki kondisi alam. Di sana, mungkin kita akan mengalami perjumpaan dengan Sang Khalik.

  1. Profil

Oase keempat berisikan Profil dari sebuah organisasi yang telah cukup lama malang melintang dalam isu lingkungan hidup di kota Bandung. Navita Kristi Astuti memberikan sebuah kilasan profil organisasi YPBB berisi program terkini yang sedang dilakukan sembari tetap menyebarkan inspirasi gaya hidup organis.

  1. Media

Oase kelima adalah rubrik MEDIA dengan penulis baru bernama Astri Kharina Bangun yang menyajikan resensi film Kiss the Ground, sebuah film dokumenter yang cukup edukatif untuk memberikan pemahaman tentang karbon pada tanah pemberi kehidupan, bahwa karbon juga merupakan penggerak kehidupan itu sendiri.

  1. Jalan-jalan

Oase keenam merupakan perjalanan ke Kampung Naga yang terletak di Tasikmalaya. Ambu Liesna sendiri yang melakukan jalan-jalan ke sana menyaksikan sebuah masyarakat yang masih hidup selaras dengan alam. Keselarasan ini dapat hidup dengan dukungan perangkat sosial seperti adat budaya yang dihayati oleh setiap anggota masyarakat kampung. Jangan sampai ketinggalan menyusuri perjalanan ini ya.

  1. Tips

Oase ketujuh menuju rubrik Tips yang dirangkai dengan padat oleh Bagus Agumsyah dapat menjadi referensi bagi para pembaca yang hendak memulai berkebun. Prinsip-prinsip penting disampaikan menjadi hal-hal praktis yang dapat langsung dilakukan oleh siapa pun. Tuntunan dan penjelasan yang cukup sederhana, kiranya akan memberikan penyegaran dalam menata kebun Anda.

 

Oase kedelapan ada rubrik Tips lain yang dipandu oleh Any Sulistyowati, dimana kita akan menyusuri peristiwa pandemi Covid-19 yang memaksa kita untuk menyesuaikan cara hidup baru, cara yang akan mendamaikan dengan alam. Mungkin pandemi adalah pertanda alam yang sedang menyeimbangkan dirinya, benarkah?

  1. Rumah Kail

Oase kesembilan berada di kebun KAIL yang telah hadir sejak tahun 2013 dan saat ini dapat dikatakan mulai memperlihatkan dampak atau kontribusinya dalam pemulihan kondisi alam di sekitarnya. Any Sulistyowaty merangkum, baik pengalaman maupun dampak yang telah dapat dilihat. Waktu dan energi yang telah tercurah pada akhirnya akan kembali kepada kita dalam berbagai bentuk yang tersedia oleh alam.

 

Setelah mengunjungi oase-oase tersebut, semoga para pembaca mendapatkan penyegaran untuk menyambut serta memulai tahun 2021 dalam damai sukacita.

 

Sampai jumpa tahun 2020, selamat datang 2021!

 

Sumber gambar: https://bit.ly/34Xbddb

 

editor

editor

Related Posts

[Editorial] Berdamai Dengan Sesama

[Editorial] Berdamai Dengan Sesama

[Editorial] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Editorial] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Editorial] Proaktif Online No. 24/Desember 2019

[Editorial] Proaktif Online No. 24/Desember 2019

[Editorial] Pro:Aktif Online No. 23/ Agustus 2019

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 4
Total Visitors: 1393

Visitors are unique visitors