[Media] Merawat Ingatan Rasa Sunda melalui buku Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték

[Media] Merawat Ingatan Rasa Sunda melalui buku Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték

rumahkail6 rumahkail5Judul: Seri Gastronomi Tradisional Sunda: Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték

Penulis: Dr. Riadi Darwis, M.Pd.

Penerbit: UPI Press (Universitas Pendidikan Indonesia)

Ukuran: 18.2 X 25 cm

Tahun terbit: 2022

Halaman: Jilid 1: 760; Jilid 2: 370

 

ISBN : 

Jilid 1: 978-623-454-017-8
Jilid 2: 978-623-454-018-5

 

Lalab, rujak, dan sambal adalah bagian dari keseharian orang Sunda. Kita menyantapnya tanpa banyak berpikir: lalab segar dicocol sambal, rujak buah dengan rasa asam-manis-pedas, atau hidangan sederhana yang dilengkapi tékték. Namun, melalui buku Seri Gastronomi Tradisional Sunda: Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték, Dr. Riadi Darwis, M.Pd. mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya: dari mana semua itu berasal, dan apa maknanya bagi kehidupan masyarakat Sunda?

Ditulis dalam dua edisi,  buku ini merupakan karya monumental dalam khazanah literatur pangan Nusantara, khususnya gastronomi Sunda. Diterbitkan oleh UPI Press, buku ini tidak sekadar membahas makanan sebagai objek konsumsi, melainkan sebagai bagian dari pengetahuan budaya, sejarah, bahasa, dan ekologi yang hidup di tengah masyarakat Sunda.

Buku ini bukan buku resep, meski isinya penuh dengan nama bahan makanan. Ini adalah buku cerita—cerita tentang hubungan manusia dengan alam, tentang ingatan kolektif, dan tentang pengetahuan yang diwariskan turun-temurun lewat dapur dan meja makan. Riadi Darwis menulis dengan semangat seorang peneliti sekaligus penjaga ingatan, yang khawatir bahwa kekayaan kuliner Sunda perlahan menghilang dari kehidupan sehari-hari.

Sejak halaman awal, penulis menegaskan bahwa lalab, rujak, sambal, dan tékték bukan sekadar pelengkap hidangan, melainkan representasi cara orang Sunda berelasi dengan alam. Lalab, misalnya, merekam pengetahuan lokal tentang jenis-jenis tumbuhan liar maupun budidaya yang dapat dikonsumsi. Selama ini lalab sering dianggap sekadar sayuran mentah pelengkap makan nasi. Banyak di antaranya tumbuh liar di kebun, sawah, atau pinggir hutan. Buku ini mencatat ratusan jenis tanaman yang pernah dan masih dimakan sebagai lalab oleh masyarakat Sunda. Buku ini mencatat secara rinci jenis-jenis lalab beserta nama lokalnya, bagian yang dimakan, kapan dipetik, cara penyajian, hingga konteks sosial penggunaannya. Ini adalah bentuk kecerdasan lokal yang jarang disadari. Pencatatan yang rinci seperti ini menjadikan buku-buku ini bukan hanya bacaan, tetapi juga arsip penting keanekaragaman hayati berbasis budaya.

Rujak dan sambal dibahas sebagai praktik kuliner yang mencerminkan kreativitas, adaptasi, dan cita rasa kolektif masyarakat Sunda. Riadi Darwis menunjukkan bahwa variasi rujak dan sambal tidak lahir secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh kondisi geografis, musim, ketersediaan bahan, serta relasi sosial. Buku ini menunjukkan bahwa tidak ada satu rujak atau satu sambal yang “paling benar”.. Sambal bukan hanya soal pedas, melainkan soal keseimbangan rasa, kebersamaan, dan kebiasaan makan bersama. Dalam buku ini, sambal tidak direduksi menjadi “pelengkap pedas”, melainkan dilihat sebagai medium ekspresi rasa, simbol kebersamaan, bahkan penanda identitas wilayah. Melalui buku ini, pembaca bisa melihat bahwa dapur tradisional Sunda sesungguhnya sangat kreatif dan adaptif.

Bagian tentang tékték mungkin menjadi yang paling mengejutkan. Bagian ini merupakan salah satu kekuatan buku ini. Istilah tékték jarang dibicarakan dalam literatur kuliner populer. Istilah ini tidak sepopuler lalab atau rujak, tetapi justru menyimpan cerita panjang tentang kebiasaan makan sederhana masyarakat Sunda. Tékték dihadirkan sebagai kategori pangan khas Sunda yang sarat makna historis dan linguistik. Penulis menelusuri istilah, praktik, serta perubahan makna tékték dari masa ke masa, sehingga pembaca diajak memahami bagaimana bahasa dan makanan saling membentuk dalam sebuah perjalanan kebudayaan. Buku ini menunjukkan bagaimana sebuah istilah kuliner bisa merekam cara hidup, kondisi sosial, dan perubahan zaman.

Dari sisi metodologi, buku ini menunjukkan kerja riset jangka panjang yang serius. Riadi Darwis menggabungkan studi literatur naskah lama, wawancara, observasi lapangan, serta pengetahuan lisan masyarakat. Hal ini membuat buku terasa padat dan kaya, meskipun konsekuensinya adalah ketebalan dan kepadatan informasi yang menuntut kesabaran pembaca untuk menjelajahi seluruh isi buku ini. Buku ini jelas bukan bacaan ringan, tetapi justru itulah nilai utamanya sebagai rujukan akademik dan dokumentasi budaya.

Kelebihan lain buku ini terletak pada posisinya yang tegas dalam konteks pelestarian kebudayaan, khususnya pangan lokal Sunda. Penulis mengingatkan bahwa modernisasi pangan dan homogenisasi selera berisiko menggerus pengetahuan lokal. Lalab yang dahulu mudah ditemukan, kini banyak yang terlupakan; sambal instan menggantikan racikan tradisional; dan istilah-istilah kuliner Sunda perlahan hilang dari ingatan kolektif. Pengetahuan lokal yang kaya itu kini terancam hilang akibat pola konsumsi modern, makanan instan, dan semakin terbatasnya akses pada bahan pangan lokal. Buku ini menjadi semacam “penjaga ingatan rasa”, sebuah inisiatif yang sangat penting di tengah krisis keanekaragaman pangan. Buku ini secara halus mengingatkan bahwa kehilangan makanan tradisional bukan sekadar kehilangan rasa, tetapi juga kehilangan cerita, bahasa, dan hubungan dengan lingkungan. Lalab yang dulu mudah ditemukan kini semakin jarang; sambal tradisional tergantikan saus pabrikan; dan istilah-istilah lama pelan-pelan dilupakan.

Meski ditulis berdasarkan riset yang sangat serius, buku ini tetap relevan untuk pembaca umum yang tertarik pada budaya dan makanan. Kepadatan data dan gaya penulisan akademis mungkin menjadi tantangan bagi pembaca awam. Meskipun demikian, bagi peneliti, pegiat pangan lokal, pendidik, hingga pengambil kebijakan, buku ini merupakan referensi yang sangat berharga. Kita diajak menyadari bahwa apa yang kita makan hari ini adalah hasil dari proses panjang interaksi manusia dengan alam. Buku ini membuka ruang refleksi bahwa pangan tradisional bukan masa lalu yang usang, melainkan sumber pengetahuan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Pada akhirnya, Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték mengajak kita untuk memandang ulang makanan sehari-hari. Buku ini membuat kita sadar bahwa sepiring lalab dan sambal bukan hal sepele. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, sejarah, dan kearifan yang layak dirawat. Membaca buku ini seperti diajak berjalan pelan di kebun, dapur, dan ingatan orang Sunda—sebuah perjalanan sederhana, tapi penuh makna. Kedua edisi buku ini adalah sebuah karya yang menempatkan gastronomi Sunda sebagai warisan intelektual dan ekologis. Buku ini mengajak pembaca untuk melihat makanan bukan hanya dengan lidah, tetapi juga dengan ingatan, pengetahuan, dan tanggung jawab untuk merawatnya.

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Media] Resensi Buku Simpang Belajar

[Media] Resensi Buku Simpang Belajar

[Media] Nusantara Food Biodiversity:  Pangkalan Data Kekayaan Ragam Pangan Lokal Indonesia

[Media] Nusantara Food Biodiversity: Pangkalan Data Kekayaan Ragam Pangan Lokal Indonesia

[Media] Menerawang Masa Depan Pertanian dari Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi

[Media] Menerawang Masa Depan Pertanian dari Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi

[Media] Menghasilkan dan Mengolah Pangan Sendiri

[Media] Menghasilkan dan Mengolah Pangan Sendiri

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 3
Total Visitors: 94833

Visitors are unique visitors