[Opini] Membangun Ekonomi Regeneratif Melalui Bank Waktu (Time-Bank)

[Opini] Membangun Ekonomi Regeneratif Melalui Bank Waktu (Time-Bank)

Refleksi Kelas Kail Online ke-16: Regenerative Economy: A reparation to the current system (Gwendolyn Hallsmith)

Sebagai pengantar, saya ingin menceritakan tentang sebuah buku yang, meskipun berlabelkan buku anak-anak, telah lama menginspirasi banyak orang dewasa, termasuk saya. Buku itu adalah Momo, karya Michael Ende, seorang novelis asal Jerman yang dikenal dengan karya-karya fantasinya yang memikat.

opini_picture8Judul lengkapnya adalah Momo oder Die seltsame Geschichte von den Zeit-Dieben und von dem Kind, das den Menschen die gestohlene Zeit zurückbrachte, yang jika diterjemahkan berarti Momo, atau Kisah Aneh tentang Pencuri Waktu dan Anak yang Mengembalikan Waktu yang Dicuri kepada Manusia. Judul yang panjang ini sebenarnya sudah cukup menggambarkan inti cerita, tentang seorang gadis kecil bernama Momo yang tinggal di sebuah ampiteater rusak dan misterius. Usianya tidak pernah dijelaskan, orang tuanya juga tidak disebutkan, mungkin karena dia seorang yatim piatu. Dalam dunia dongeng yang tampak suram, Momo menjalani hidupnya dengan cara yang sederhana: bermain dengan teman-temannya, Beppo dan Gigi, dan mendengarkan cerita-cerita dari orang-orang sekitar. Semua orang di lingkungan itu menyukainya, bukan hanya karena kebaikannya, tapi juga karena sifatnya yang sangat sabar sebagai pendengar.

Namun, semakin hari, semakin sedikit orang yang datang kepadanya. Hingga akhirnya, Momo menyadari bahwa banyak orang yang tiba-tiba menghilang dari hidupnya, seolah waktu mereka habis begitu saja. Semua ini ada hubungannya dengan The Grey Gentleman — makhluk misterius yang mengaku sebagai agen dari Bank Simpanan Waktu. The Grey Gentleman ini bukan manusia biasa; dia adalah pencuri waktu yang datang kepada setiap orang di kota, menawarkan mereka “penyelesaian” dengan cara memaksakan mereka untuk fokus pada kegiatan yang lebih “produktif”. Dan dalam proses itu, mereka kehilangan waktu untuk bersosialisasi, untuk berbagi, bahkan untuk bermimpi.

Semua orang menjadi sunyi, individualis, dan semakin egois. Di dunia yang diciptakan oleh The Grey Gentleman, waktu bukan lagi sesuatu yang berharga untuk dibagi, melainkan sebuah sumber daya yang harus dihemat, diperas, dan dijaga dengan ketat.

Apakah kita, pada akhirnya, juga bukan seperti The Grey Gentleman? Terlalu sibuk menghitung waktu, terlalu khawatir tentang berapa banyak yang bisa kita capai dalam sehari, terlalu terobsesi dengan produktivitas, hingga melupakan orang-orang di sekitar kita? Mungkin kita sudah begitu terjebak dalam rutinitas mengejar waktu, hingga kita lupa untuk berhenti sejenak, untuk benar-benar hidup.

Pada titik ini, saya teringat sebuah perenungan tentang bagaimana dunia modern mengukur nilai melalui uang, sementara sebenarnya nilai itu jauh lebih kompleks daripada sekadar angka yang ada di rekening bank kita. Mata uang, dalam banyak hal, sudah menjadi indikator utama dari keberhasilan, kemakmuran, dan bahkan kualitas hidup kita.

Waktu, yang seharusnya menjadi bentuk paling dasar dari nilai itu, sering kali digantikan dengan kapital. Dalam banyak konteks, “Time is money”, sebuah pernyataan yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat kapitalis. Namun, ada yang hilang dalam pertukaran ini: kualitas hidup itu sendiri. Kita terkadang terlalu fokus pada bagaimana menambah kekayaan finansial, hingga mengabaikan waktu yang kita habiskan untuk hal-hal yang sebenarnya lebih berarti — seperti hubungan, pengalaman, atau bahkan refleksi pribadi. Waktu tidak hanya sebatas jam yang kita gunakan untuk bekerja, atau menit yang kita habiskan untuk memenuhi tuntutan. Waktu adalah ruang bagi kita untuk merasakan hidup.

opini_picture9
Poster Kegiatan Diskusi Online KAIL

Lalu saya teringat sebuah konsep yang saya pelajari di kelas KAIL, yang menghubungkan waktu dengan nilai sosial. Ada yang namanya Time Bank, sebuah sistem yang digunakan di beberapa negara, termasuk Swiss, di mana waktu yang kita habiskan untuk membantu orang lain bisa ditukar dengan waktu yang akan membantu kita di masa depan. Misalnya, jika kita menghabiskan 30 hari untuk membantu orang tua, kita bisa mendapatkan 30 hari bantuan dari orang lain ketika kita membutuhkan. Menurut saya, ini adalah ide yang sangat revolusioner, yang mencoba mengubah cara kita melihat waktu, dari sekadar ukuran produktivitas menjadi bentuk kebaikan bersama. Waktu bukan lagi sekadar uang, tetapi adalah suatu cara untuk saling mendukung, untuk saling memberi. Sebuah konsep yang mengingatkan kita bahwa ada nilai dalam hidup yang tidak bisa dihitung dengan angka-angka di layar bank.

Waktu adalah hidup itu sendiri, dan hidup itu sejatinya ada di dalam hati manusia. Itulah sebabnya kita sering kali merasa kehilangan saat waktu berjalan begitu cepat, tanpa kita sadari bagaimana kita menghabiskannya. Saya pertama kali membaca buku ini di masa SMP, namun ketika saya membacanya kembali sekarang, dengan segala tanggung jawab yang ada dalam hidup saya sebagai orang dewasa, rasanya berbeda. Mungkin saya bukan orang yang sangat ambisius atau seorang pekerja keras yang terlalu terobsesi dengan efisiensi waktu, tetapi saya merasa bahwa saya harus lebih bijak dalam menggunakan waktu. Waktu tidak hanya tentang apa yang kita capai, tetapi juga tentang siapa kita menjadi saat kita berbagi waktu dengan orang-orang yang kita cintai.

Di usia 20-an, banyak orang berbicara tentang “roaring twenties”, tentang bagaimana kita harus mengalami semuanya, belajar sebanyak mungkin, meraih sebanyak mungkin. Saya juga pernah terjebak dalam pola pikir itu. Namun, pandemi mengajarkan saya sesuatu yang lebih penting: bahwa waktu itu tidak bisa diulang. Waktu, ketika sudah lewat, tidak akan pernah kembali. Kita bisa memilih untuk menghabiskannya dengan cara yang membawa kita pada kepuasan sejati, atau kita bisa terus berlomba dengan jam, merasa terjebak dalam rutinitas tanpa akhir.

Diah Sukmawati

Diah Sukmawati

Diah Sukmawati adalah seseorang yang penuh minat dalam mengeksplorasi dunia pendidikan dengan cara yang penuh warna. Di Majalengka, Diah aktif di Majalengka Book Party dan mengelola Pabukon Namu, sebuah perpustakaan pribadi yang penuh dengan buku-buku yang siap mengundang rasa ingin tahu dan petualangan baru. Diah percaya bahwa anak-anak belajar terbaik ketika mereka diberi kebebasan untuk berpikir kreatif, dan itulah yang dia coba bangun melalui pendekatan pedagogi yang ceria dan penuh eksplorasi. Selain itu, Diah juga sangat menyukai berkebun, menciptakan ruang hijau di sekitarnya yang tidak hanya asri, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya ide-ide segar. Kesibukan utama Diah saat ini adalah bekerja dari rumah untuk Kodland, sebuah sekolah pemrograman untuk anak-anak sebagai Kepala Operasional Akademik.

Related Posts

[Opini] Ke Alam, Kembali Hidup Komunal: Refleksi Kritis Tentang Makan Berkesadaran

[Opini] Ke Alam, Kembali Hidup Komunal: Refleksi Kritis Tentang Makan Berkesadaran

[Opini] Kedaulatan Pangan: Kita Sedang Berjuang atau Hanya Sedang Mengigau?

[Opini] Nasib “Sorgum” dalam Terang Pascakolonial

[Opini] Nasib “Sorgum” dalam Terang Pascakolonial

[Opini] Adopsi Pertanian Berbasis Agroekologi dan Regeneratif pada Sistem Pangan Indonesia untuk Melampaui Komitmen Iklim Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia

[Opini] Adopsi Pertanian Berbasis Agroekologi dan Regeneratif pada Sistem Pangan Indonesia untuk Melampaui Komitmen Iklim Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 7
Total Visitors: 94837

Visitors are unique visitors