[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

Kita menyadari kemampuan self-healing secara intuitif, bahwa tubuh dan jiwa berada dalam harmoni dan saling mempengaruhi. Kesadaran ini sudah disadari Bapak Kedokteran, yaitu Hipokrates pada 2.400 tahun silam.

Hipokrates berpandangan, sakit-penyakit terkait siapa diri si pasien, “It is far more important to know what person the disease has than what disease the person has.” Tak kalah penting perhatian pada sakit-penyakit adalah perhatian pada pasien sebagai pribadi dalam keutuhan tubuh & jiwa. Ia menekankan pentingnya menangani pasien sebagai pribadi, bukan sekedar sakitnya.

“Treating the Patient, Not Just the Disease”.

Betapa penting pengenalan diri pasien ini sangat relevan di masa pandemi sekarang. Covid-19 menyadarkan penyebab sakit yang sama yi virus Sars-Cov2, bisa berdampak beda bagi satu dan lain pasien, apalagi dengan komorbid yang melemahkan.

Laporan medis bulan Februari 2021 menyatakan prevalensi gangguan tidur tercatat pada 40% pasien Covid-191). Sementara sejumlah kajian menunjukkan kekurangan Vitamin D berperan pada tingkat keparahan penderita Covid-19 2).

Para imunolog pada awal pandemi sudah mengingatkan, bukan virus sebenarnya yang membunuh kita, tetapi lemahnya sistem imun tubuh pasien 3), sistem kekebalan tubuh tidak bisa disederhanakan hanya dengan antibodi 4). Perbedaan tingkat imun ini yang menyebabkan lebih dari 96% kasus Covid-19 bisa sembuh. Sementara pasien dengan sejumlah komorbid tidak bisa tertolong.

Ternyata, selain tingkat kematian pasien Covid-19 di Amerika yang tinggi, pada tahun 2018 hanya 12% penduduk Amerika yang memiliki metabolisme sehat 5).

Dari sejumlah info di atas, kita bisa menentukan akan berada di kelompok 96% yang pulih atau di kelompok 4% yang tidak tertolong? Masa kritis Covid-19 bukan hanya 6-8  hari pertama, tapi beberapa tahun terakhir dalam mengelola kesehatan. Self-healing yang cenderung kita pahami secara intuitif, bisa kita tingkatkan dengan menambah dan meningkatkan pengetahuan kesehatan serta tindakan preventif lain yi, meningkatan sistem kekebalan.

Covid-19 tidak cukup diatasi dengan 3M, 5M atau vaksin. Vaksinasi tidak membuat penderita jantung, diabetes, gangguan pernafasan, hipertensi atau beberapa komorbid utama normal kembali. Pandemi mesti disikapi dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Tidak hanya obat, tetapi mentalitas dan sikap batin yang sehat.

JIKA OBAT SAJA TIDAK CUKUP

Pada situasi dimana sakit-penyakit tidak cukup diatasi dengan obat-obatan, bahkan nyaris suatu misteri, upaya menggapai kesembuhan bisa menjadi perjalanan panjang dan berharga yang akan membawa pengenalan lebih jauh: siapa, apa, mengapa diri kita sebenarnya, baik kekuatan, kelemahan dan potensi terpendam untuk dikembangkan. Bisa jadi, akhirnya kita justru bersyukur dengan sakit penyakit yang kita derita. Sakit menjadi feedback yang obyektif akan cara hidup yang selama ini keliru.

Hipokrates berpendapat, setelah tahu penyebab sakit maka penting bagi pasien untuk mengambil keputusan dan komitmen untuk berhenti dari hal-hal yang menyebabkan sakit.

“Before you heal someone, ask him if he’s willing to give up the things that make him sick.”

PENGALAMAN PRIBADI

Periode tahun 2005 s.d 2012 saya mengalami sakit berkepanjangan dan membingungkan. Diawali saat dilarikan di UGD dan berakhir di ICCU, hal yang terulang dua kali dalam 10 bulan kemudian.

Tahun 2011 kondisi kesehatan saya makin memburuk. Setelah stroke ringan kedua, klep jantung melemah, hasil rontgen menunjukkan lordosis menghilang akibat tension headache berkepanjangan. Tiga kali usaha MRI di RS Sahid gagal karena detak jantung tidak kunjung masuk batas memadai. Pengujian kualitas tidur di RS Harapan Kita berulang kali tertunda, diabetes sudah di atas 350 (belakangan menyentuh 600). GERD masih jadi gangguan serius.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Setelah melakukan evaluasi diri yang menyeluruh, saya sampai pada kesadaran baru. Sakit saya bukti tak terbantahkan dari buah pikiran & pengelolaan mental yang keliru. Saya pun mulai mencari akar masalah. Percuma memperbaiki kerusakan fisik kalau sumber masalah tidak diatasi.

Perjumpaan dengan artikel Emotions are real 8) mengantarkan kepada petualangan yang sangat menggugah. Penelitian tersebut adalah rintisan dari buku yang pada tahun 2017 baru diterbitkan, yaitu How Emotions are made. Buku ini memberi perspektif baru, emosi bukan sekedar perasaan, tapi kesadaran yang mempengaruhi metabolisme serta bagaimana tubuh mengelola keseimbangan homeostatisnya. Lewat evaluasi diri, saya melihat keseimbangan emosi begitu terkait dengan kesehatan fisik. Saya mulai belajar melakukan regulasi emosi secara intensif. Melalui sejumlah regulasi emosi dan pengelolaan makanan, GERD secara efektif teratasi th 2012, berhenti suntik insulin dan obat diabetes 2017, dimana sempat stabil 600 tanpa disadari menuju 100-110 tanpa obat dan insulin. Kemenangan-kemenangan kecil itu berdampak sangat besar ke pengembangan mental.

Bulan November 2020, Lisa Feldman Barrett menyampaikan temuan baru, tugas otak bukan hanya untuk berpikir, melihat, merasakan dan melakukan hal-hal yang dianggap penting untuk menjadi manusia. Tugas terpenting otak adalah mengantisipasi kebutuhan tubuh atau body budget. Ketika lingkungan bertambah panas, tubuh mengeluarkan keringat, saat berlari, heart rate menyesuaikan demikian ketika tubuh kekurangan cairan sampai muncul rasa haus. Tubuh memberi sinyal (interoception) agar kita mengambil keputusan untuk minum. Kelihatan sepele, namun demikian perspektif baru memberi pemahaman yang lebih utuh, tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan utuh. Otak bekerja memenuhi kebutuhan sebelum persoalan muncul 9).

Temuan memberi arah baru bagaimana kita semestinya mengelola pikiran, perasaan, tidur agar tubuh kita berada dalam keseimbangan optimal.

kesehatan-mental_handaka
http://researchgate.net/figure/predictive-coding-this-schematic-introuces-predictive-coding-in-terms-of-exteroceptive_fig2_266320081

SEHAT BUKAN KEADAAN TANPA SAKIT PENYAKIT

Berbagai pikiran negatif kekecewaan, patah-semangat, putus-asa lebih merupakan constructed emotions yang sebenarnya bisa dilepaskan atau kita re-wiring.

Kalimat Hipokrates “Treating the patient, not just the disease” kembali menjadi perenungan berharga: bagaimana kalau sumber penyakit adalah pola hidup saya sendiri yang keliru, bagaimana saya memutus kebiasaan keliru lalu mengembangkan kebiasaan baru yang lebih adaptif, sesuai tuntutan tanggung jawab yang semakin meningkat?

Obat di apotek bisa mengatasi sebagian gejala, namun resep dokter tidak bisa mengubah kebiasaan, mentalitas, perilaku, tabiat keliru, yang membuat keseimbangan biologis, mental dan hidup akhirnya terganggu. Saya mulai bersyukur bahwa sakit adalah umpan-baik terbaik terhadap bagaimana kita mengelola hidup selama ini yang keliru. Saya tidak lagi bertanya, “bagaimana bisa sembuh?” tapi “bagaimana dulunya bisa sakit dan bagaimana caranya saya bisa menjalankan hidup lebih efektif, produktif serta lebih bermakna?”

Sehat bukan berarti kondisi tanpa sakit penyakit, namun situasi dimana gangguan fisik, psikis tidak lagi mempengaruhi kesehatan mental untuk dapat tetap beraktivitas dan produktif.

KESEHATAN MENTAL

Kualitas hidup tidak bisa dilepaskan dari kualitas atau kesehatan mental. Pada saat itu, tak ada yang lebih mendesak untuk mengurai benang kusut mental, kecuali melepas apa yang telah terbentuk sebagai unwanted emotion. Barret menjelaskan, emosi manusia dibentuk bukan sebagai bawaan lahir, namun tersusun dari pengalaman, keyakinan atau pandangan hidup yang membentuk realitas mental & kesadaran kita.

Saya mulai menyadari respon-respon spontan yang muncul tanpa dipikir panjang – seperti kemarahan, kesedihan, ketakutan, kecemasan, kekhawatiran – sebagai pustaka emosi negatif yang terbentuk tanpa sadar sebagai sampah emosi yang bisa dilepaskan. Saya belajar melakukan regulasi emosi dengan menempatkan kontrol diri sebagai hal utama.

Dari proses tersebut, saya menemukan ada empat poin utama yang bisa kita kelola secara mandiri, antara lain :

  1. Mengembangkan rasa syukur yang ikhlas, bahwa hidup adalah kesempatan berharga dan mulia. Bersyukur adalah sikap progresif untuk mengatasi kecenderungan mengalah dan menyerah dari emosi negatif. “Ketika kita termangsa oleh emosi, kita bukan lagi tuan atas diri kita” – Baruch Spinoza. Spinoza memberi sumbangan penting gagasan bersyukur untuk kelompok yang tidak sepenuhnya religius.
  2. Melepaskan berbagai emosi negatif (secara sadar dan terus menerus). Letting go (melepaskan) adalah gagasan penting Buddhisme yang tetap relevan hingga saat ini.
  3. Menerima dan memeluk kenyataan yang tidak dapat diubah dengan sepenuh hat “What does not kill me makes me stronger” – Nietzsche. Melihat kembali segala sesatu yang buruk atau negatif dalam narasi baru.
  4. Terus mengembangkan optimisme, pengharapan, positivisme.

Masa lalu menjadi fase yang sangat berharga dan tak tergantikan, ketika dalam perjalanan selanjutnya bisa menemani mereka yang memiliki pergumulan serupa, bahkan lebih berat dan sudah menahun.

Dengan melepas emosi, kita melepas berbagai subroutine, subprogram yang tidak efektif bahkan menjadi bugs guna menyusun kembali narasi hidup yang baru. Saat ini bersama beberapa teman, kami bekerja sebagai tim untuk melakukan pertolongan nirlaba kepada mereka yang membutuhkan baik ketemu langsung maupun telepon.

Saat berdialog, saya mencermati tempo, nada, kosakata yang dipakai serta kegelisahan yang muncul.  Saat bicara, kita bukan hanya menyampaikan pesan tetapi juga menyampaikan bahkan menggelontorkan emosi. Kami percaya, percakapan pribadi mestinya bukan sekedar pertukaran informasi melainkan juga pertukaran emosi yang positif bahkan bisa sangat produktif.

Mendengar dengan saksama menjadi cara ampuh untuk menyelami lapisan emosi yang terpendam. Cerita atau narasi tidak lagi mesti didekati sebagai kebenaran logika, tetapi sebagai kebenaran emosional “The currency of story is not truth, but meaning”  10). Bagaimana peristiwa, kesan, keyakinan bermakna dalam diri seseorang itu yang akan membentuk realitas seseorang. Kami mengembangkan “doa yang melepas”, semacam self-talk yang menjadikan diri kita sebagai sahabat terbaik, sekaligus menyadari diri kita potensial sebagai musuh terburuk kita sendiri.

KETERBATASAN TIDAK MENJADI HAMBATAN UNTUK BERKEMBANG

Kesembuhan menjadi pengalaman yang sangat mahal, bukan hanya memperbaharui kesehatan jasmani-rohani, melainkan juga memperbaharui cara mengelola hidup. Ungkapan lama mens sana in corpore sano, atau a healthy mind in a healthy body adalah kebenaran yang jitu. Untuk bisa sehat dan bugar kita perlu mengubah persepsi hidup, perilaku, kebiasaan, kesukaan serta melakukan berbagai pantangan dengan kesadaran dan disiplin.

Gagasan-gagasan inspiratif dari sejumlah guru seperti Eckhart Tolle, M. Scott Peck serta sejumlah buku self-help bisa kita terima sebagai masukan positif. Namun tak ada gunanya pengetahuan tanpa penerapan.

Knowing is not enough; we must apply. Willing is not enough; we must do.” – Johann Wolfgang von Goethe

Kesehatan fisik menjadi tidak ada artinya tanpa kesehatan mental & spiritual. Kesehatan fisik bukan lagi hasil akhir, tapi ikhtiar. Kita bisa memiliki mentalitas sehat walaupun dengan tubuh yang lemah dan rapuh.

SEHAT DAN SEMBUH

Sehat dan sembuh adalah dua gagasan berbeda. Sembuh dikaitkan dengan keadaan bebas dari sakit penyakit, sedangkan sehat lebih terkait kualitas atau kebugaran hidup. Kita tidak dapat mempertahankan tubuh yang sehat dengan mentalitas sakit. Sebaliknya banyak bukti orang yang lahir dengan berbagai keterbatasan, mampu menjalani kualitas hidup yang sempurna dengan mengembangkan sikap mental positif.

Dalam memutus rantai sakit-penyakit, saya menyadari bahwa selama ini tidak serius mengelola kesehatan hidup sampai masalah muncul. Saya hanya ingin terbebas dari akibat, tapi tidak serius “membayar” sebab. Self-healing pada akhirnya adalah kemampuan tubuh melakukan regulasi untuk menjalani kehidupan yang sehat dan seimbang.

Kita memang perlu mengupayakan kesembuhan, namun alih-alih perlu menyelenggarakan hidup sehat dengan kesungguhan, kemauan, tekad dan disiplin.

 

Rujukan

https://www.psychologicalscience.org/news/your-brain-is-not-for-thinking.html

  1. Emotions are real https://www.affective-science.org/pubs/2012/emotions-are-real.pdf
  2. Seven and a Half Lessons About the Brain. Houghton Mifflin Harcourt, 2020 (in press). ISBN 0358157145.
  3. Patrick Reinsborough and Doyle Canning “Narrative Power Analysis,” “the currency of story is not truth, but meaning.”

Keterangan gambar: Menurut teori Constructed emotions, otak manusia bekerja dengan cara memprediksi. Otak tidak menunggu sampai kita mendapatkan informasi lengkap baru bertindak, jika model ini yang dipakai, manusia sudah lama punah. Kemampuan pengkodea prediktif ini terbagi dalam tiga area: Exteroception menggunakan indra primer seperti suara, cahaya dan sentuhan diskriminatif untuk membangun model atau aturan dunia luar. Proprioception memproses informasi propioseptif dan kinestetik dari tubuh untuk memungkinkan pergerakan dan memberikan rasa agensi. Interoception memungkinkan pemodelan ‘diri’ secara internal untuk disusun berdasarkan perasaan emosional yang dinyatakan melalui sensasi visceral seperti suhu, regangan, dan nyeri dari usus, sentuhan ringan (sensual) non diskriminatif, gatal, menggelitik, mual, lapar, haus, kantuk, dan hasrat seksual.

Handaka BM

Handaka BM

Pendidikan S1 T. Mesin ITB, 1986. Bekerja pada bidang inspeksi teknik, serta energi terbarukan. Sempat terlibat di kepengurusan PKBM pusat 2006-2011. Turut terlibat sebagai relawan di Belajar Bersama Mandiri sejak 2005, sebuah kegiatan belajar bersama nir-laba yang percaya, bahwa pintar berawal dari mental. Relawan pada RPI, Resourceful Parenting Indonesia pada sejumlah kegiatan pendampingan.

Related Posts

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Merajut Damai

[Masalah Kita] Merajut Damai

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 1
Total Visitors: 2140

Visitors are unique visitors