[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

Teruntuk kalian yang hidup hingga saat membaca artikel ini dengan membawa luka pengasuhan, saya mengucapkan “terima kasih” sudah berjuang selama ini. Mungkin hal-hal yang telah kalian alami tidak mudah, tapi percayalah kalian akan tumbuh menjadi lebih kuat.

 

Menulis artikel ini bukanlah sesuatu yang mudah. Ada emosi negatif dan kesedihan yang muncul setiap membaca kata demi kata dari buku referensi. Hidup dari keluarga tidak sempurna membuat saya merasakan luka pengasuhan baik dari orangtua maupun kerabat di sekitar. Namun, semakin banyak saya bertemu orang-orang, saya menemukan banyak orang lain yang mengalami luka pengasuhan. Bahkan saya mendapati juga banyak anak-anak yang saya temui yang mengalami luka pengasuhan hingga membuat mereka stress dan depresi. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Apa itu Luka Pengasuhan?

luka-pengasuhan1
Sumber: https://suaramuslim.net/

Luka identik dengan rasa sakit. Jika luka di kulit, mudah untuk dilihat dan diobati. Jika luka di organ dalam, maka perlu usaha lebih untuk mengidentifikasi, namun demikian, dengan ilmu kedokteran masa kini, manusia mudah untuk mengidentifikasinya. Lalu bagaimana dengan luka pengasuhan? Tentunya, perlu ilmu dan pendekatan lebih untuk mengetahuinya dan biasanya baru terlihat jika ada peristiwa yang menstimulus.

Luka pengasuhan adalah beban psikologi yang dialami oleh seseorang akibat pengasuhan yang salah dari orangtuanya. Biasanya terjadi ketika seseorang berada pada masa sebelum lahir hingga remaja awal. Adapun luka-luka tersebut adalah sebagai berikut.

1. Luka pada usia-usia awal kehidupan,

Dalam usia awal kehidupan ada lima hal yang sangat penting dilalui oleh semua anak di usia-usia awal kehidupannya. Pertama adalah kesadaran akan nama-nama emosi, maka kesalahan pengasuhan yang paling awal terjadi adalah anak tidak diberikan kesempatan untuk mengenali perasaan apa yang sedang dialami. Kedua, mengungkap emosi, dimana luka pengasuhan selanjutnya didapat anak adalah ketika dilarang untuk mengungkapkan apa yang menjadi perasaannya karena itu dinilai melanggar sopan santun. Terutama ketika anak sedang kesal dengan orangtua. Ketiga, mengontrol emosi. Anak tidak diajarkan untuk mengungkap emosi yang tidak melukai perasaan sendiri ataupun orang lain. Keempat, empati. Anak tidak dibekali untuk bisa berempati dengan orang di sekitarnya. Kelima, tingkat paling atas dari mereka yang mampu mengendalikan emosi adalah mereka mampu menyelesaikan masalah emosi dalam berhubungan dengan orang.

Jika ada orang yang secara usia sudah dewasa, tapi secara emosi dia belum bisa melewati kelima hal tersebut maka bisa jadi orang itu punya luka pengasuhan yang didapat dari orang-orang di sekitarnya sewaktu kecil.

2. Dalamnya luka pada rasa

Misalnya, ada seorang perempuan yang saat kecil sering dipukuli oleh Ayahnya. Sang anak juga memendam emosi negatifnya. Ketika akhirnya dia menikah, maka besar kemungkinan jika ada pertengkaran dengan pasangan, ia akan melakukan kekerasan fisik pada suaminya. Seseorang yang marah lalu memukul orang lain yang menyebabkan ia menjadi marah, itu tidak akan membuat perasaannya jadi lega, tapi justru akan membuatnya semakin marah. Lalu, ia terjebak dalam perasaan menyesal. Perasaan itu akan masuk ke dalam jiwa berupa emosi negatif.

3. Mengenai bejana jiwa

Seperti halnya sebuah bejana dimana ada air yang bisa masuk dan keluar, maka bejana jiwa adalah sebuah aktivitas keluar masuknya emosi. Dalam bejana ini ada tiga katup masuk yaitu apa yang masuk dalam pendengaran, yang tersaksi oleh penglihatan, dan apa yang diijinkan untuk dirasa oleh perasaan. Sementara katup keluar adalah apa yang keluar dari diri dan menjadi katup masuknya orang lain.

Di masa pengasuhan, bejana jiwa seorang anak akan banyak sekali diisi oleh katup keluar orangtua. Jika tidak berhati-hati, maka bejana jiwa anak akan didominasi oleh emosi negatif. Misal pasca konflik antara ayah dan ibu didengar dan dilihat langsung oleh mata anak, sikap ayah jadi berubah. Perasaan ayah terhadap anak dan ibu berubah. Biasanya ayah merasa gagal sebagai pemimpin rumah tangga. Perasaan gagal ini lah yang masuk melalui katup emosi anak dan menjadi emosi negatif pada diri anak.

 

Kenapa Luka Pengasuhan harus Disembuhkan?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, luka pengasuhan menyebabkan beberapa respon negatif yang keluar dari seseorang. Hal ini tentu akan merugikan tidak hanya kepada orang lain, utamanya akan merugikan diri kita sendiri. Adapun respon-respon negatif tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, respon error. Pernahkah kamu merasakan perasaan mual ketika diminta tampil di hadapan banyak orang? Bukan mual biasa, mual hebat yang membuat kamu muntah, padahal jika kita pikirkan tampil di hadapan banyak orang tidak mungkin membuat kita mual secara berlebihan. Namun tubuh kita merespon kejadian tersebut secara error atau seperti ada korslet antara otak dan tubuh kita. Hal inilah yang disebut respon error dimana tubuh kita merespon kejadian dengan cara tidak terduga, yang cenderung negatif dan berlebihan. Biasanya respon error terjadi karena peristiwa atau suasana yang identik dengan kejadian saat kita mengalami luka pengasuhan. Contoh lain, ada suami yang tercekat tenggorokannya ketika beradu pendapat dengan sang istri. Dia menyadari dirinya sebagai kepala keluarga, namun tetap saja setiap beradu pendapat tiba-tiba pikirannya kosong dan seperti sesak napas. Banyak buku dan pelatihan leadership yang dia pelajari namun tidak membuahkan hasil. Maka bisa jadi Sang Suami punya respon error karena pengetahuannya tidak berbuah sikap yang sesuai. Stimulusnya terletak pada peristiwa adu pendapat.

Kedua, Luka pengasuhan ini intensitas error-nya berpotensi menguat setelah menikah. Mengapa? Sebab dulu luka tersebut datang dari keluarga, maka setelah berkeluarga, kenangan menyakitkan itu jadi jauh lebih mudah untuk bangkit karena situasinya yang mirip menjadi lebih mudah untuk bangkit. Kekeliruan pola asuh kebanyakan memang bukan disengaja, tapi diwariskan. Kesadaran suatu generasi akan kekeliruan tersebut sekaligus pengetahuan atas apa yang semestinya dilakukan akan mampu memutuskan pola pengasuhan turun temurun yang salah di keluarga agar tidak menjadi mata rantai yang tidak ada putusnya. Pertanyaannya di generasi manakah itu? Mari upayakan dimulai dari generasi kita (Dialog dari buku “Membasuh Luka Pengasuhan”).

Maka menikahlah secara berkesadaran dan bertanggung jawab, tidak hanya sebagai seorang pasangan, tapi juga sebagai orangtua.

Ketiga, luka pengasuhan berpotensi merusak hubungan. Jika kita tidak menyembuhkan luka pengasuhan maka dapat berpotensi merusak setidaknya tiga hubungan dalam hidup kita di antaranya merusak hubungan dengan orangtua dimana kita merasa menjadi korban, merusak hubungan dengan anak-anak dimana kita menjadi pelaku utama yang melukai anak kita, dan terakhir kita merusak hubungan dengan diri sendiri dimana kita terus memendam rasa sakit karena emosi. Padahal 90% masalah kesehatan berasal dari emosi.

Bagaimana Menyembuhkan Luka Pengasuhan?

Dalam menyembuhkan luka pengasuhan ada beberapa terapi yang bisa dilakukan, salah satunya adalah terapi DEPTH. Kendati terapi ini bisa dilakukan perorangan, namun sebaiknya lakukan terapi ini setelah berkonsultasi dengan psikolog. DEPTH singkatan dari Deep Pshycology Technique With Tapping. Adapun tahap-tahapnya (Diambil dari buku Membasuh luka Pengasuhan) adalah sebagai berikut.

  1. Metode DEPTH mengharuskan klien memejamkan mata (teori Emotional Imagery) sambil menyatakan kepasrahan kepada Tuhan (Teori Surrender). Mata yang terpejam adalah konsep dalam DEPTH psychology untuk membantu melakukan penggalian sesuatu secara tidak sadar. Dengan mata terpejam klien terputus dengan dunia nyata dan masuk dalam kehidupan masa lalu. Kemudian sambil terpejam, klien disarankan untuk memulai terapi dengan mengucapkan “Ya Allah (atau nama Tuhan sesuai agamanya) Aku pasrah …” Cara ini membantu klien terhubung dengan masa lalunya.
  2. Metode menggunakan Life review therapy dan timeline therapy. Life review therapy adalah teknik seseorang untuk menceritakan kembali pengalaman hidup yang dialaminya yang memberikan kontribusi pada permasalahan yang sedang ditangani saat ini. Life review therapy ini akan berlanjut pada timeline therapy, yaitu proses ditemukannya titik-titik peristiwa terjadinya luka di masa lalu.
  3. Metode DEPTH menggunakan verbalisasi, yaitu pengungkapan perasaan melalui kata-kata. Ini adalah proses pelepasan emosi negatif terhadap peristiwa dalam masa lalunya. Ada titik-titik emosi di dalam tubuh manusia, rupanya ada juga memori somatif yang tersimpan dan menyebar di badan manusia. Ketika ada beban emosi yang belum tersalurkan, maka beban itu akan mengendap di titik-titik tertentu di badan manusia. Nah, tapping dilakukan di titik-titik tersebut, sehingga memori somatik terpanggil dan selanjutnya emosi negatif akan dilepaskan. 
luka-pengasuhan2
Sumber: kompasiana.com

Adakah Orang yang Tidak Memiliki Luka Pengasuhan?

Orang tua yang tidak memberikan luka kepada anaknya adalah mereka yang selalu terhubung dengan prasangka baik kepada Tuhan atas segala hal yang terjadi dalam kehidupannya.

luka-pengasuhan-3
sumber:https://parenting.firstcry.com/

Keterhubungan orangtua dengan prasangka baik kepada Tuhan itu kemudian terkirim kepada anaknya (ingat tentang Bejana Jiwa). Inilah yang menjadi bekal dalam jiwa anak ketika melihat peristiwa yang membuat mereka sakit dan terluka. Mereka bisa cepat meredakan emosi negatifnya dengan berprasangka baik. Maka dari itu, luka pengasuhan dapat memberi makna dalam hidup kita jika kita mensyukurinya.

Pernyataan ini saya simpan di akhir karena saya sedikitnya paham, bahwa luka ini bukanlah hal yang mudah untuk diatasi apalagi disyukuri. Namun, sekali lagi, mensyukuri ini bukanlah untuk orangtua kita, bukan pula untuk orang lain. Dengan mensyukuri luka pengasuhan, kita dapat meredakan segala emosi negatif dalam diri, dan memenuhinya dengan emosi positif akan memberikan rasa lega kepada diri kita. Hal ini perlu proses, bisa panjang maupun pendek dan mungkin akan menyakitkan (Karena kita akan mengingat peristiwa yang membuat luka), tapi hasilnya membuat kita mengalami ketenangan.

Pada diriku sendiri, hal yang aku syukuri dalam luka pengasuhan adalah luka ini menjadikan saya lebih dekat secara emosi bersama anak murid, terutama mereka yang memiliki luka pengasuhan. Mereka merasa aman karena ada orang dewasa yang memahami perasaan mereka. Tentunya sebelumnya (dan masih hingga saat ini), saya banyak berlatih mengikhlaskan, serta belajar dan mempraktikkan self healing agar luka itu tidak balik menjadi respon negatif kepada anak.

Doa saya, semoga kalian yang terluka akan selalu diberi jalan untuk memaknai luka tersebut. Jalan yang positif agar tercapai tujuan hidup yang dapat memberi warna yang indah pada dunia.

Liesna N. Widyaningrum

Liesna N. Widyaningrum

Guru dan IT support di Peacesantren Welas Asih, Garut. Selain guru, Liesna dikenal sebagai Game Master yang suka bermain permainan papan dan kartu. Dia juga merupakan system thinker di Kitaja! Studio, studio yang bergerak dalam teknologi dan media pendidikan, Anda bisa menghubunginya di email nw.liesna@gmail.com.

Related Posts

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Merajut Damai

[Masalah Kita] Merajut Damai

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 1
Total Visitors: 2140

Visitors are unique visitors