[Jalan-Jalan] Kekayaan Budaya Padi di Kasepuhan Ciptagelar

Berbicara soal keragaman pangan, seringkali sebagai warga Indonesia kita melihat nasi sebagai makanan pokok yang tidak tergantikan. Baik di rumah…
1 Min Read 0 67

Berbicara soal keragaman pangan, seringkali sebagai warga Indonesia kita melihat nasi sebagai makanan pokok yang tidak tergantikan. Baik di rumah ataupun di tempat makan, nasi menjadi makanan yang wajib ada di piring kita. Selama itu nasi, tidak peduli nasi apa, dimasak dengan bumbu apa, atau didampingi lauk apa, kita pasti menghabiskannya untuk mengenyangkan perut. 

Namun, sikap pragmatis seperti itu justru menjauhkan kita dari kenyataan bahwa Indonesia memiliki budaya padi yang sangat kaya. Saya mulai menyadari hal tersebut saat melakukan penelitian di Kasepuhan Ciptagelar, kelompok masyarakat adat yang berlokasi di perbatasan Sukabumi, Jawa Barat dengan Lebak, Banten. Pada tulisan ini, saya akan menceritakan bagaimana hubungan mereka dengan padi yang terus terawat hingga hari ini.

kasepuhan2

Lansekap Kasepuhan Ciptagelar

 

Kasepuhan Ciptagelar merupakan komunitas masyarakat hukum adat yang pusatnya berlokasi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Keseluruhan wilayahnya termasuk ke dalam 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Lebak. Berdasarkan cerita turun-temurun dari para leluhur, masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar berasal dari masyarakat Kerajaan Pajajaran-Bogor yang melakukan perjalanan ke daerah Lebak, Banten. Perpindahan ke daerah Lebak tersebut akhirnya menjadi permulaan terbentuknya beberapa Kasepuhan di Banten Kidul termasuk Ciptagelar. 

Kasepuhan Ciptagelar dipimpin oleh ketua adat yang disebut Abah. Abah dibantu oleh perangkat adat yang disebut Baris Kolot. Seluruh perangkat yang berada di dalam struktur tersebut tidak dipilih melainkan mengikuti garis turunan, kecuali perangkat yang disebut Kokolot Lembur. Kokolot Lembur merupakan sesepuh kampung yang termasuk ke dalam wilayah kasepuhan dan dipilih oleh Incu Pitu atau warga kasepuhan.

Mereka meyakini tanah tempat padi tumbuh memerlukan waktu untuk memulihkan dirinya. Berbeda dengan kelompok masyarakat lain yang menanam padi hingga 3 kali dalam 1 tahun, masyarakat Ciptagelar membatasi penanaman padi hanya 1 kali dalam 1 tahun. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah mereka yang mempraktikkan pertanian ladang berpindah, dimana mereka memanen padi di suatu tempat lalu berpindah ke tempat lain untuk kembali menanam padi, sementara lahan yang ditinggalkan dibiarkan beregenerasi sebelum nantinya siap ditanami kembali. 

Dalam 1 periode penanaman tersebut, banyak prosesi adat yang mereka lakukan dari sebelum menanam hingga setelah pemanenan. Abah sebagai pemimpin adat akan membuka masa penanaman dengan menanam padi di sawah rurukan (sawah milik kasepuhan), sebelum warga lainnya dapat menanam padi di sawah masing-masing. Selanjutnya mereka akan membuat beberapa selametan (syukuran) yaitu sepang jadian, pare ngidam, dan mapag pare beukah, untuk merayakan beberapa fase pertumbuhan padi. Enam bulan setelah penanaman, barulah padi siap dipanen atau yang mereka sebut sebagai mipit

Padi yang telah dipanen kemudian diikat sebelum nantinya dimasukkan ke lumbung yang disebut leuit. Leuit merupakan tempat menyimpan padi yang dimiliki hampir seluruh warga kasepuhan. Mereka menyimpan hasil panen padi tiap tahunnya di leuit untuk dikonsumsi selama 1 tahun ke depan. Biasanya, hasil panen mereka jauh lebih banyak dari jumlah yang mereka konsumsi selama 1 tahun, sehingga terdapat cadangan yang dapat mereka simpan. Hal ini membuat Kasepuhan Ciptagelar memiliki cadangan beras untuk seluruh masyarakatnya untuk berpuluh-puluh tahun. Di beberapa leuit, kita bisa menemukan beberapa padi yang sudah berumur puluhan tahun namun masih dalam kondisi baik dan layak konsumsi. Bahkan, mereka memiliki leuit besar, bernama leuit si jimat, yang sudah dibuat sejak tahun 1838 dan masih menyimpan padi berumur ratusan tahun. 

Selain padi yang berumur tua, kita juga bisa menemukan jenis-jenis padi yang berbeda. Masyarakat Ciptagelar mengaku saat ini memiliki 120 jenis varietas padi termasuk beberapa jenis varietas hasil persilangan. Jenis-jenis tersebut mencakup beras putih, merah, hitam, hingga beras ketan.

kasepuhan1

Leuit tempat menyimpan padi yang telah dipanen

 

Hasil panen padi tersebut tidak mereka jual. Mereka memiliki aturan untuk membagi sebagian hasil panen untuk keluarga dan kasepuhan. Sebanyak 10% padi akan mereka berikan ke abah dan baris kolot sebagai pengurus kasepuhan. Padi yang dikumpulkan ini akan disimpan di leuit si jimat dan nantinya digunakan untuk acara-acara kasepuhan. Lalu, 40% padi mereka sisihkan untuk dibagikan ke keluarga yang membutuhkan. Sementara itu, sisanya mereka simpan di leuit masing-masing dan dikonsumsi untuk 1 tahun berikutnya. Dengan melarang masyarakatnya menjual beras, kasepuhan memastikan setiap orang memiliki beras yang cukup dalam 1 tahun melalui skema berbagi tersebut. Setelah proses panen dan penyimpanan ke leuit selesai, mereka melakukan upacara penutup yang disebut seren taun sebagai rasa syukur telah diberi hasil panen baik di tahun tersebut.

kasepuhan-3

Masyarakat Ciptagelar mengangkut padi yang telah dipanen untuk disimpan di Leuit

 

Dari Kasepuhan Ciptagelar kita belajar bahwa padi bukan sekedar makanan yang kita konsumsi untuk membuat kenyang, tapi sesuatu yang juga hidup, tumbuh, dan membutuhkan waktu untuk beristirahat. Mereka tidak memaksa padi untuk terus menerus memproduksi pangan untuk manusia, tapi memperlakukan padi layaknya manusia yang pertumbuhannya dirayakan dan disyukuri. Dengan menjaga relasi tersebut, Kasepuhan Ciptagelar berhasil memastikan warganya memiliki cadangan beras hingga berpuluh-puluh tahun ke depan.

Miqdad Fadhil Muhammad

Miqdad Fadhil Muhammad, akrab dipanggil Miqdad, peneliti sosial agraria yang juga mendalami metode pemetaan partisipatif. Memiliki beberapa pengalaman mengorganisir masyarakat untuk melakukan pemetaan wilayah dan sumber daya alam untuk digunakan dalam perencanaan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.