[Media] Menelusuri Jejaring Keterhubungan: Sebuah Refleksi dari Workshop ‘Work that Reconnects’

[Media] Menelusuri Jejaring Keterhubungan: Sebuah Refleksi dari Workshop ‘Work that Reconnects’

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih saya atas undangan untuk berpartisipasi dalam kegiatan WTR pada 3-4 Maret 2024 di Rumah KAIL.

media
Lukisan “Spiral Speak” oleh Sam Brown (Sumber: https://www.ceruleansam.com/)

Hari Sabtu, 3 Maret 2024, saya diundang untuk mengikuti sebuah workshop pengembangan diri bertajuk “Work That Reconnects (WTR)”. Secara literal, terjemahan dari WTR adalah kerja yang menghubungkan kembali. Saya penasaran, apa yang coba dihubungkan kembali oleh WTR? Pertanyaan ini akan saya coba jawab pada akhir tulisan refleksi ini.

Workshop ini dibawakan oleh Muntaza dan Any sebagai fasilitator. Pada sesi pembukaan, mereka membacakan sebuah teks yang menyambut seluruh keberadaan yang hadir pada sesi workshop tersebut. Sesi ini berlangsung khidmat. 

Kemudian, peserta diperkenalkan dengan sebuah framework yang berjudul “The Spiral Journey” di mana proses bertumbuh dilihat sebagai sebuah perjalanan yang berbentuk spiral, bukan linier. Terdapat tujuh tahap dalam perjalanan spiral, tahapan inilah yang memandu berjalannya workshop ini. Tahapan tersebut termasuk:

  • Gratitude (Rasa syukur)
  • Honoring our pain (Menghormati kepedihan)
  • Seeing with new eyes (Melihat dengan lensa baru)
  • Going forth (Bergerak maju)
  • Self, sense of belonging, diversity (Diri, rasa memiliki, dan keberagaman)
  • Decolonization (Dekolonisasi)
  • Deep time (Waktu yang dalam)

Titik awal dari perjalanan spiral bisa dari tahapan mana saja tergantung dari kesepakatan antara fasilitator dan peserta workshop sesuai dengan kebutuhan. Dalam konteks workshop ini, urutan kegiatan pada hari pertama dimulai dari melihat keberagaman dan rasa memiliki, dekolonisasi, dan menghargai kepedihan. Karena hari telah menjelang maghrib, sesi dilanjutkan pada hari berikutnya dimulai dari deep time, rasa syukur, melihat dengan lensa baru, dan bergerak maju.

 

Refleksi dan Pembelajaran

Saya banyak belajar dari keseluruhan proses dalam workshop WTR ini. Satu sudut pandang yang menurut saya berharga adalah WTR melihat dunia secara holistik. Tidak hanya pada aspek fisik saja, tetapi juga mempertimbangkan keberadaan aspek nonfisik yang berkelindan dengan kehidupan. Kita diajak untuk mengenal dan menerapkan konsep-konsep dalam deep ecology, systems thinking, dan nondualism spirituality guna mendalami realitas yang kompleks ini. Dengan demikian, WTR tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga membantu peserta memperluas pemahaman tentang realitas dunia global. Berikut adalah beberapa refleksi dan pembelajaran yang saya dapatkan selama mengikuti WTR:

Kembali ke Akar

Pada sesi pertama, peserta dituntun untuk merenungkan kembali tentang nilai-nilai yang dibentuk oleh keluarganya masing-masing. Pada proses ini, saya mencoba untuk menyelami ingatan saya untuk merenungi akar budaya dari keluarga. Saya menyadari bahwa sebagai seseorang yang dibesarkan di perkotaan dan mengadopsi gaya hidup modern sejak kecil, saya telah kehilangan banyak hubungan dengan akar budaya keluarga saya.

Ayah saya berasal dari budaya Sunda, sementara ibu saya dari Jawa. Namun, saya menghadapi kesulitan dalam mengidentifikasi diri saya sebagai “orang Sunda” atau “orang Jawa” karena saya tidak dibesarkan secara langsung dengan nilai-nilai budaya mereka. Sesi ini membuka kembali pandangan saya bahwa meskipun saya merasa terpisah dari akar budaya saya, tetapi darah dari kedua sisi leluhur saya masih mengalir dalam diri saya dan saya perlu mengenal kembali kedua akar tersebut.

Luka-Luka Dunia Modern

Peradaban modern menawarkan berbagai kenyamanan yang dilatarbelakangi oleh kemajuan teknologi yang pesat. Namun, apakah modernitas itu sepenuhnya baik bagi masyarakat? Sesi dekolonisasi menyingkap tabir dari dunia modern dan memperlihatkan dosa-dosa kolonialisme yang mengerdilkan sisi kemanusiaan seseorang. Di sini saya belajar tentang proses kolonisasi yang diistilahkan sebagai ‘kabut peradaban’. Kenapa? Karena kolonisasi dan kapitalisme memberikan sebuah lapisan kabut yang membatasi kita untuk melihat realita ini secara jernih apa adanya.

Kami diperkenalkan dengan tiga karakter masyarakat, yaitu masyarakat pertumbuhan industrial dengan segala karakter individualitas dan ketidakpeduliannya, masyarakat “Great Unraveling” yang mencoba untuk membongkar tabir modernitas namun masih berada di dalamnya, dan masyarakat “Great Turning” yang telah berusaha secara sadar untuk keluar dari sistem kapitalisme secara keseluruhan. Lihat: https://workthatreconnects.org/three-stories-of-our-times/

Pembahasan ini berat, namun sangat bermakna. Saya jadi menyadari bahwa terdapat aspek peradaban modern yang dikonstruksi secara sistematis untuk menumpulkan ‘rasa’ dalam diri dan menimbulkan keterpisahan sehingga kita terperangkap dalam sistem yang ada di hadapan kita. Luka-luka yang mengejawantah dalam emosi seperti rasa malu, rasa tidak percaya diri, rasa tidak aman, juga dipengaruhi secara kausal dari konstruksi sosial dari kabut peradaban ini. 

Titik Temu Waktu dalam Masa Kini

Waktu, sebuah konsep yang sering diperdebatkan oleh fisikawan dan juga filsuf dari berbagai zaman. Dalam sesi deep time, kami diajak untuk bermain peran. Peserta dibagi menjadi dua kelompok yang satu memerankan masyarakat di masa kini, sedangkan satu kelompok lagi memerankan generasi anak cucunya di masa depan. Kami diminta untuk berdiskusi merefleksikan dengan kondisi bumi dengan segala krisis multidimensinya dan juga merefleksikan harapan dari anak cucu kita terhadap keberlanjutan planet ini.

Saya teringat penggalan bait dari puisi berjudul “Superposisi Masa” yang saya sempat tuliskan seminggu sebelum acara ini, isinya kurang lebih seperti ini:

Aku adalah sintesa dari para pendahuluku,
terwaris dalam jiwa, terpatri dalam raga.

Aku adalah analisa dari para penerusku,
tersambung dalam harapan dari masa ke masa.

Dalam superposisi masa, aku adalah titik temu,
antara yang telah ada dan yang akan tercipta.

Superposisi Masa, Gilang Agustiar (2024)

Dalam sesi tersebut, saya berperan sebagai leluhur dari masa kini yang berbicara dengan anak cucunya yang lahir pada tujuh generasi mendatang. Muncul di benak saya sebuah perasaan yang asing ketika saya lah yang berperan sebagai leluhur. Seperti ada tanggung jawab besar yang dipikul untuk menyediakan kehidupan yang lestari dan bermakna kepada mereka. Untuk menjaga bumi dan semesta ini dari kerusakan yang semakin parah. Mereka, para penerus saya, akan menganalisa apa yang telah saya lakukan pada zaman ini. Era di mana titik balik menuju kehidupan yang lebih lestari mungkin untuk diciptakan.

 

Penutup

Kembali ke pertanyaan awal, jawaban yang saya temukan adalah WTR mengajak kita untuk merenungkan keterhubungan kita dengan diri sendiri, leluhur, masyarakat, budaya, dan alam sebagai jejaring pendukung kehidupan. Di sisi lain, WTR juga membangun kembali koneksi kepada sisi diri yang lebih mendalam yang mungkin belum pernah kita sadari sebelumnya. Termasuk membongkar luka-luka yang terbentuk selama perjalanan hidup. Kemudian kita juga dibekali dengan kemampuan untuk menghargai kepedihan tersebut dan upaya penyembuhannya untuk bisa melangkah maju ke depan dengan kesadaran yang lebih luas.

Ketiga refleksi di atas merupakan sebagian kecil dari banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan dalam sesi workshop WTR. Perjalanan ini penuh dengan emosi dan kepedihan, namun juga memberikan harapan dan angan untuk menyelaraskan diri dalam mewujudkan semesta yang lestari. Tentunya, saya belajar untuk melihat realita dengan lensa yang baru pula, lensa yang lebih jernih dan utuh. Dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada setiap tim yang terlibat.

 

Gilang Agustiar

Gilang Agustiar

Nama lengkapku adalah Gilang Agustiar. Aku adalah seorang akademisi dan mahasiswa pascasarjana di jurusan Biomanajemen ITB. Saat ini, aku memiliki ketertarikan yang luas dalam bidang pembangunan berkelanjutan terutama terkait isu pangan berkelanjutan, pertanian agroekologi, dan juga kewirausahaan lestari. Aku percaya bahwa kehidupan yang lestari perlu diciptakan melalui hubungan yang selaras dan saling menghargai antara manusia, makhluk hidup, lingkungan hidup, dan semesta alam.

Related Posts

[Media] Resensi Buku Simpang Belajar

[Media] Resensi Buku Simpang Belajar

[Media] Nusantara Food Biodiversity:  Pangkalan Data Kekayaan Ragam Pangan Lokal Indonesia

[Media] Nusantara Food Biodiversity: Pangkalan Data Kekayaan Ragam Pangan Lokal Indonesia

[Media] Merawat Ingatan Rasa Sunda melalui buku Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték

[Media] Merawat Ingatan Rasa Sunda melalui buku Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték

[Media] Menerawang Masa Depan Pertanian dari Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi

[Media] Menerawang Masa Depan Pertanian dari Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 4
Total Visitors: 94834

Visitors are unique visitors