[Pikir] Kepemimpinan Kaum Muda Dalam Era Globalisasi

[Pikir] Kepemimpinan Kaum Muda Dalam Era Globalisasi

Pentingkah Kepemimpinan Kaum Muda di Era Globalisasi?

Kepemimpinan masyarakat dalam definisi Cheng & Delaney (2015) adalah praktik menciptakan nilai dan dampak berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Secara individual, kepemimpinan masyarakat dilakukan dalam skala lingkar pengaruh individu; sementara secara makro, kepemimpinan masyarakat mencakup perluasan lingkar pengaruh secara lintas bidang hingga menciptakan perbaikan/manfaat bagi masyarakat luas. Pemimpin masyarakat bisa muncul dari masyarakat itu sendiri (local champion/local leader), bisa juga berupa agen eksternal yang mendampingi suatu komunitas/satuan masyarakat, seperti pemerintah atau NGO.

Umumnya kepemimpinan masyarakat berfokus pada tantangan spesifik yang dialami suatu komunitas pada lokasi tertentu, dengan kata lain bersifat sangat lokal. Saat ini kepemimpinan masyarakat menghadapi tantangan spesifik karena adanya globalisasi; integrasi ekonomi dan sosial yang bersifat mendunia karena perkembangan teknologi, menyebabkan dunia menjadi semakin terhubung serta saling mempengaruhi. Konsekuensinya, kepemimpinan masyarakat dalam era globalisasi tidak akan lepas dari pengaruh eksternal yang disebabkan oleh globalisasi.

Dampak globalisasi sendiri tidak dirasakan sama oleh seluruh kalangan masyarakat. Sebagian kelompok mungkin diuntungkan oleh globalisasi sementara sebagian lainnya dirugikan, dan ada juga kelompok rentan yang kelulushidupannya menjadi terancam akibat globalisasi – masyarakat adat adalah salah satunya. Bekerja dengan kelompok rentan adalah satu karakteristik kepemimpinan masyarakat (Cheng & Delaney, 2015), maka kepemimpinan masyarakat tetap dibutuhkan dalam era globalisasi selama golongan rentan tersebut masih ada.

Generasi muda (anak, remaja, dan kaum muda) adalah kelompok demografi yang seringkali terlupakan ketika bicara pembangunan. Kelompok ini terlahir dalam era globalisasi dengan segala kemudahan dan dampaknya. Ketika dewasa kelak, generasi ini akan berhadapan langsung dengan berbagai isu global dan diharapkan untuk mampu menciptakan solusi; banyak di antara isu tersebut bersifat sistemik sehingga sulit untuk dipecahkan (gambar 1). Di sisi lain, karena karakteristik tumbuh kembangnya, kaum muda memiliki isu spesifik yang berbeda dengan kelompok demografi lain. Kaum muda juga mengalami dan memandang isu-isu global dengan cara yang berbeda dari kelompok demografi lain (Billy et al, 2005), sehingga mereka membutuhkan kepemimpinan yang berbeda juga.

Steinberg (2011) menyatakan bahwa kaum muda bukan orang dewasa mini; mereka adalah manusia utuh yang memiliki budayanya sendiri. Karena itu kaum muda juga memiliki hak dalam mengambil keputusan dan mengelola kehidupannya secara mandiri. Sejalan dengan pemikiran Steinberg, Mitra (2006) menyatakan adanya tiga tingkatan partisipasi pada kaum muda, yaitu:

  1. Tingkat minimal: suaranya didengar dan dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan
  2. Tingkat menengah; kaum muda bermitra dengan orang dewasa untuk mencapai aspirasi
  3. Tingkat tertinggi; kaum muda diberdayakan untuk mengambil keputusan dan mengelola tindak lanjut dari keputusan tersebut – dalam hal ini dibutuhkan kemampuan kepemimpinan yang memadai dari kaum muda itu sendiri.
pikir1-6
Gambar 1. Berbagai isu global saat ini
(sumber: https://www.prospective-foresight.org/15-challenges-of-mp/)

Mempersiapkan kaum muda menjadi pemimpin global

Kepemimpinan kaum muda di era globalisasi adalah hal yang relevan, penting dan dibutuhkan oleh kaum muda itu sendiri. Namun bagaimana kepemimpinan tersebut bisa muncul? Apa saja faktor yang mendorong dan faktor apa yang menghambat berkembangnya kepemimpinan kaum muda? Allen-Handy, Thomas-EL, & Sung (2020) menyatakan bahwa faktor pendorong munculnya kepemimpinan kaum muda adalah paparan pada isu-isu yang mengusik keprihatinan mereka. Salah satu praktik baik dari Urban Youth Scholars, sebuah program penguatan kepemimpinan pada kaum muda, adalah menggunakan pendekatan inkuiri: kaum muda didorong untuk mengeksplorasi secara kritis situasi ketidakadilan sosial, lingkungan dan isu-isu lain yang terdapat di sekitar (Allen-Handy, Thomas-EL, Sung, 2020). Paparan yang disengaja ini efektif menumbuhkan kesadaran kritis kaum muda terhadap isu-isu yang ada di sekitarnya dan memberdayakan kaum muda untuk menciptakan perubahan.

Salah satu kendala atau penghambat munculnya kepemimpinan kaum muda adalah stigma masyarakat terhadap mereka. Kaum muda termasuk apa yang disebut Ras, Hogg & de Moura (2018) sebagai kelompok demografi marginal dalam konteks kepemimpinan: stereotipe masyarakat mengenai pemimpin umumnya adalah laki-laki dan senior. Karena usianya yang muda, terdapat stigma bahwa kaum muda “kurang pengalaman sehingga tidak bisa memimpin.” Lebih jauh, Steinberg (2011) bahkan menyebutkan stigma yang lebih negatif bahwa kaum muda dipersepsi sebagai penyebab masalah atau pembuat onar yang harus ditertibkan atau didisiplinkan, dengan kata lain “… orang dewasa takut pada kaum muda.”

Jika stigma negatif yang menjadi penghambat, maka dibutuhkan suatu enabling environment atau lingkungan yang bisa membuka kesempatan tumbuhnya kepemimpinan kaum muda. Dalam lingkungan aman ini, masyarakat/komunitas/organisasi perlu berkomitmen untuk mempercayai dan melibatkan kaum muda secara aktif dalam perubahan (Libby, Rosen, & Sedonaen, 2005). Kaum muda perlu diberi kesempatan untuk mempraktikkan peran kepemimpinan (Connell, Gambone & Smith, 1998, dalam Mitra, 2006); tidak hanya sebagai persiapan menjadi pemimpin di masa depan, tetapi juga untuk mengambil peran aktif mewujudkan kehidupan yang mereka inginkan di saat ini.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan globalisasi, kepemimpinan kaum muda perlu diperkaya dengan peningkatan kapasitas untuk memimpin di era globalisasi. DeVries & Florent-Treacy (2002, dalam Nuno, 2012) menyebutkan bahwa pengembangan kepemimpinan global berarti meningkatkan kemampuan adaptif dan empati antar budaya, menerima ketidakpastian termasuk relativitas budaya, juga menyadari akar dan bias budaya pada diri – dengan kata lain tumbuhnya kecerdasan multikultural.

Pendidikan saat ini – sayangnya – belum mendorong tumbuhnya multikulturalisme pada kaum muda (Nuno, 2012), juga masih kurang mempersiapkan kaum muda untuk menjadi pemimpin transformatif (Steinberg, 2011). Sebagai panduan dalam mengembangkan kapasitas kepemimpinan global pada kaum muda, kita bisa mengacu pada paparan Reilly (2007) mengenai kebiasaan pola pikir-hati-tindakan seorang pemimpin global:

  1. Pemimpin global adalah pembelajar – pendidikan kaum muda perlu memberanikan mereka untuk terbiasa mengamati, mempertanyakan, dan saling mendorong teman sebayanya untuk menjadi pembelajar.
  2. Pemimpin global menghabiskan waktu di dunia nyata – sembari tetap mengikuti peristiwa- peristiwa global, kaum muda juga perlu keluar ke dunia nyata, mengunjungi berbagai tempat dan belajar memahami/menerima berbagai konteks lokal yang mereka temui.
  3. Pemimpin global menghargai inovasi – kaum muda cenderung lebih tanggap dan terbuka terhadap perubahan serta hal-hal baru; keterbukaan ini perlu dipelihara. Di sisi lain kaum muda perlu belajar untuk tetap mengakar dan tidak tercerabut dari budayanya; perubahan sosial harus tetap sesuai dengan konteks budaya.
  4. Pemimpin global lebih jujur dan transparan – kaum muda perlu belajar membangun konsep diri yang positif agar mereka cukup punya rasa aman untuk menampilkan diri secara jujur, baik pencapaian maupun tantangan/keterbatasan yang dimiliki. Kapasitas ini dibutuhkan untuk membangun kemitraan/kolaborasi yang berhasil karena isu-isu global yang akan mereka hadapi lebih perlu dipecahkan melalui kolaborasi alih-alih kompetisi.
  5. Pemimpin global fokus mencari yang terbaik – untuk mendapatkan hasil terbaik kaum muda perlu didukung untuk membangun kompetensi dan mempercayai proses yang lebih mendalam dari sekadar instant gratification. Dalam usaha mewujudkan hasil yang baik, kaum muda perlu belajar menghormati dan menerima keberagaman sebagai suatu kekayaan (perbedaan pendapat, keragaman budaya, keragaman sudut pandang, cara pikir, dan sebagainya).

Dalam konteks kepemimpinan kaum muda, globalisasi menjadi tantangan sekaligus peluang. Dengan memberikan kesempatan pada kaum muda untuk terpapar pada isu-isu dunia nyata, berkomitmen untuk mempercayai dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan, serta memfasilitasi mereka untuk mengembangkan kapasitas pemimpin global, kita dapat mendorong munculnya pemimpin-pemimpin muda di era globalisasi yang memiliki kapasitas untuk menciptakan kehidupan berkelanjutan baik bagi diri maupun lingkungannya.

 

***

Daftar Pustaka
  • Allen-Handy, A., Thomas-EL, SL., Sung, K.K. (2020) Urban Youth Scholars: Cultivating Critical Global Leadership Development through Youth-led Justice-Oriented Research. Urban Review vol.53.
  • Jahan, F.R. (2013) Youth Quota and Youth-i-zation or Youth Movement and Youth Leadership? – A Response to Age Demographics. PhD Thesis. University College London.
  • Libby, M., Rosen, M., Sedonaen, M. (2005) Building Youth-Adult Partnerships for Community
  • Change: Lessons from The Youth Leadership Institute. Journal of Community Psychology Vlo.33, p.111-120
  • Mitra, D. (2006) Increasing Student Voice and Moving Toward Youth Leadership. The Prevention Researcher Vol.13, p.7-10
  • Mortensen, J., Lichty, L., Foster-Fishman, P., Harfst, S., Hockin, S., Abdullah, K. (2014) Leadership Through A Youth Lens: Understanding Youth Conceptualization of Leadership. Journal of Community Psychology Vol. 42, p.447-462
  • Nuno, E.L. (2012) Student Leadership in a Globalized World. Journal of Student Affairs, vol.21. Colorado State University.
  • Prensky, M. (2001) Digital Natives, Digital Immigrants. On The Horizon vol.9. MCB University Press.
  • Rast, D.E., Hogg, M.A., de Moura, G.R. (2018) Leadership and Social Transformation: The Role of Marginalized Individuals and Groups. Journal of Social Issues, Vol. 74, No. 1, 2018, pp. 8–19
  • Reilly, E.C. (2007) Leadership in A Global Society: Habits of Mind, Heart, and Action. Journal of Educational Leadership and Administration Vol.19.
  • Steinberg, S.R. (2011) Redefining the Notion of Youth: Contextualizing the Possible for Transformative Youth Leadership. Counterpoints, Vol. 409, 267-275

 

Avatar

Kandi Sekarwulan

Related Posts

[Pikir] Dekonstruksi Lembaga Pusat Pemikiran: Mengembalikan Fungsi Interpretasi Civil Society yang Semakin Me-legislasi

[Pikir] Dekonstruksi Lembaga Pusat Pemikiran: Mengembalikan Fungsi Interpretasi Civil Society yang Semakin Me-legislasi

[Pikir] Kehidupan Pangan Pesisir: Mengintegrasikan Ketahanan Pangan dan Kedaulatan Pangan

[Pikir] Kehidupan Pangan Pesisir: Mengintegrasikan Ketahanan Pangan dan Kedaulatan Pangan

[Pikir] Mengenal Jejaring Pangan Alternatif (AFN): Apa Makna “Alternatif” di Tengah Sistem Pangan Hari Ini?

[Pikir] Mengenal Jejaring Pangan Alternatif (AFN): Apa Makna “Alternatif” di Tengah Sistem Pangan Hari Ini?

[Pikir] Merefleksikan Keterpisahan Hubungan Manusia Perkotaan dengan Pangan dalam Perspektif Kritis

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 7
Total Visitors: 94837

Visitors are unique visitors