[Masalah Kita] Kaum Muda Saat Ini

Siapa Mereka dan Apa Tantangan yang Mereka Hadapi?

Berbagai institusi mendefinisikan kaum muda dengan cara yang berbeda-beda, tetapi secara umum mereka berusia minimal 15 tahun hingga 24-30 an tahun (Tabel 1). Artinya, pada saat tulisan ini dibuat di tahun 2024, kaum muda adalah mereka yang terlahir di antara tahun 1990 an hingga 2008, atau generasi millenial dan Gen-Z. Kedua generasi ini memiliki keunikan karakteristik yang disebabkan oleh perkembangan teknologi digital pada masa kelahiran dan tumbuh-kembang mereka, sehingga Prensky (2001) menyebut mereka sebagai digital native (penduduk asli dunia digital) – berkebalikan dengan generasi sebelumnya yang disebut sebagai digital immigrant (pendatang di dunia digital).

Akibat tingginya paparan pada teknologi digital, generasi digital native berpikir dan memproses informasi dengan cara yang berbeda secara mendasar jika dibandingkan dengan digital immigrant (Prensky, 2001). Generasi ini terbiasa menerima informasi sangat cepat; mereka menyukai proses-proses yang berjalan paralel/multitasking – seperti kita bisa membuka email, media sosial, dan game online bersamaan dalam satu layar gawai. Mereka cenderung lebih visual (melihat gambar sebelum membaca), mudah berbagi akses dan berjejaring. Generasi ini terbiasa mendapatkan instant gratification atau ganjaran yang bersifat segera, sehingga cenderung kesulitan menghadapi pekerjaan atau tantangan yang membutuhkan kesabaran dan bersifat jangka panjang. Mereka menyukai permainan dan segala sesuatu yang bersifat informal/menyenangkan alih-alih kerja serius. 

Perlu dipahami bahwa karakteristik ini tidak membuat generasi digital native ‘lebih buruk’ atau ‘kurang berkualitas’ dibandingkan generasi sebelumnya; mereka hanya memiliki ‘budaya’ dan ‘bahasa’ berbeda, yang merupakan bentuk adaptasi alamiah terhadap era digital.

masalah-kita-4
Tabel 1. Definisi Kaum Muda pada Berbagai Entitas
(Sumber: www.un.org/esa, www.who.int, UU no.40/2009)

Dalam konteks Indonesia, walaupun penetrasi gawai dan internet sebenarnya cukup tinggi, namun masih terjadi kesenjangan akses dunia digital bagi anak serta kaum muda. Survei KemenPPPA RI bekerja sama dengan UNICEF (2014) menemukan, 87% anak dan kaum muda di wilayah perkotaan sudah terpapar pada internet/dunia digital, sementara di wilayah pedesaan hanya 13% anak dan kaum muda yang dapat mengakses internet /dunia digital. Implikasinya, dampak globalisasi yang dibawa oleh dunia digital tidak dirasakan sama oleh kaum muda di wilayah perkotaan dan pedesaan. Karena itu tidak dapat dipukul rata bahwa semua kaum muda Indonesia saat ini adalah digital native; sebagian di antara mereka masih memiliki gaya hidup seperti generasi-generasi sebelumnya sehingga karakteristiknya pun masih menyerupai digital immigrant. Namun demikian, kelompok kaum muda tersebut tidak terbebas dari paparan dampak globalisasi – beberapa dampak tak langsung globalisasi, misalnya kerusakan ekosistem dan perubahan iklim, eksploitasi tenaga kerja, serta gentrifikasi tetap dirasakan oleh mereka. 

Globalisasi membawa berbagai dampak pada masyarakat di seluruh dunia, namun kaum muda merasakan dampak spesifik yang hanya terjadi pada kelompok demografi mereka. Beberapa tantangan globalisasi spesifik yang tipikal kaum muda adalah:

  1. Kesehatan mental dan citra diri – dalam teori psikologi perkembangan, kelompok usia kaum muda berada pada fase pencarian identitas. Dengan tingginya aktivitas media sosial dan hubungan pertemanan yang seringkali berkembang dalam ruang virtual/digital, kaum muda mengalami distorsi realita dan kesulitan membedakan kenyataan dengan pencitraan. Fenomena ini tidak intens dialami generasi digital immigrant yang kebanyakan pola relasinya ada di dunia nyata, sehingga mereka dapat melakukan reality check dan memisahkan antara manusia dengan representasi di media sosial. Akibatnya, banyak kaum muda menjadi rendah diri dan tidak puas karena menganggap semua temannya lebih hebat/lebih bahagia dari dirinya (berdasarkan citra yang ada di media sosial).
  2. Kemampuan bersosialisasi dan menjalin hubungan bermakna – masih terkait dengan pola relasi digital native yang banyak terjalin dalam ruang virtual, generasi ini secara khusus mengalami kesulitan mengembangkan hubungan sosial yang mendalam. Generasi ini bisa jadi punya ribuan teman di Discord atau berteman dengan sesama pemain game online dari seluruh dunia – tetapi banyak di antara mereka yang merasa kesepian dan tidak punya teman. Dalam pertemanan, orang kadangkala harus berhadapan dengan konflik atau ketidaknyamanan. Hal tersebut sebenarnya pembelajaran berharga untuk mengatasi konflik atau berkomunikasi dengan cara damai, dan jika konflik berhasil diselesaikan, kedua belah pihak akan menjadi semakin dekat. Namun karakteristik generasi digital native yang membutuhkan instant gratification dan cenderung mencari kesenangan membuat mereka menghindari konflik maupun rasa tidak nyaman tersebut – hal ini menghambat mereka mengembangkan hubungan yang mendalam dan bermakna dengan teman sebayanya.
  3. Kecemasan terhadap masa depan – pada masyarakat tradisional, peran anggota masyarakat sudah jelas karena ditentukan oleh tradisi. Dengan semakin terbukanya dunia, kaum muda di era globalisasi dihadapkan pada kemungkinan masa depan yang hampir tidak terbatas, tetapi juga ketidakpastian yang sangat tinggi. Banyak permasalahan dunia saat ini tidak pernah terjadi sebelumnya, seperti krisis iklim, harga properti yang tidak terjangkau, pasar global dan ketidakpastian lapangan kerja, dan lain sebagainya. Semua isu tersebut dieskalasi oleh kemudahan akses informasi sehingga kaum muda terpapar pada isu-isu tersebut tanpa mengetahui cara untuk menavigasi atau mengatasinya. Hal ini menimbulkan perasaan cemas, terbeban dan tidak berdaya pada kaum muda.
  4. Hilangnya budaya dan profesi esensial – salah satu dampak globalisasi adalah melunturnya tradisi; peran-peran tradisional tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan dan kaum muda cenderung lebih punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Hal ini bukan tanpa konsekuensi, karena banyak budaya dan profesi yang berkurang bahkan hilang karena tidak lagi diminati kaum muda. Sayangnya sebagian budaya dan profesi yang ditinggalkan tersebut sebenarnya esensial bagi keberlanjutan masyarakat, misalnya profesi petani dan nelayan yang berkaitan erat dengan produksi pangan.
  5. Pergeseran cara interaksi, belajar, bekerja – perkembangan teknologi saat ini sangat cepat sehingga banyak teknologi menjadi usang hanya dalam waktu beberapa tahun. Keberadaan teknologi juga mengubah cara dunia bekerja; keberadaan gawai cerdas dan internet memungkinkan orang belajar, bekerja, serta berinteraksi tanpa tersekat batas geografis. Di satu sisi hal ini memunculkan kebebasan dan profesi yang bersifat tidak mengikat; kerja bukan lagi pergi ke kantor 5 hari kerja jam 9-5, melainkan dari mana saja kapan saja – yang kemudian memunculkan pekerjaan seperti full-time freelancer, remote worker, dan sebagainya. Di sisi lain, kaum muda kini harus bersaing dengan tenaga kerja dari seluruh dunia karena sifat dunia kerja yang sangat terbuka tersebut.
  6. Pergulatan/konflik antar generasi – Jahan (2013) menyebutkan bahwa populasi dunia secara global semakin menua. Pada negara-negara dengan porsi generasi tua yang besar, hal ini berdampak pada semakin banyak insentif/benefit yang diberikan negara pada lansia dan semakin sedikit bagi kaum muda. Di sisi lain kaum muda memperoleh beban berupa pajak yang semakin besar ataupun tanggungan untuk memelihara kelompok masyarakat yang berusia tua. 

Beberapa negara lain, termasuk Indonesia, mungkin tidak mengalami hal tersebut karena porsi demografinya lebih banyak terdiri dari anak dan kaum muda. Namun pada kebanyakan negara, pemegang kekuasaan politik pada umumnya masih berasal dari generasi tua sehingga kepentingan kaum muda sering tidak terwakili.

 

***

Avatar

Kandi Sekarwulan

Related Posts

[Masalah Kita] Gerakan Pangan di Tengah Kapitalisme

[Masalah Kita] Melawan Plant Awareness Disparity: Misi Orang Muda Gunung Sawal Menjaga Cagar Alam lewat Pangan Lokal

[Masalah Kita] Melawan Plant Awareness Disparity: Misi Orang Muda Gunung Sawal Menjaga Cagar Alam lewat Pangan Lokal

[Masalah Kita] Kesulitan Menerapkan Pangan Lokal dalam Praktik Sehari-hari: Pengalaman CSA KAIL-YPBB

[Masalah Kita] Kesulitan Menerapkan Pangan Lokal dalam Praktik Sehari-hari: Pengalaman CSA KAIL-YPBB

[Masalah Kita] Kisah Kasih Kota dan Desa  (K3D)

[Masalah Kita] Kisah Kasih Kota dan Desa (K3D)

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 7
Total Visitors: 94837

Visitors are unique visitors