[MEDIA] Buku Letting Go : Transformasi Diri Melalui Mekanisme Pasrah

[MEDIA] Buku Letting Go : Transformasi Diri Melalui Mekanisme Pasrah

media-1Judul buku: Letting Go, Kekuatan Tersembunyi Sikap Pasrah

Penulis: David R. Hawkins

Penerbit: Javanica

Ukuran: 13,5 X 20 cm

Jumlah halaman: 424

ISBN: 978-602-6799-54-8

 

Setiap orang memiliki kegelisahan. Kegelisahan muncul karena adanya ragam emosi negatif yang dirasakan, seperti marah, sedih, malu, iri hati, serakah, benci, dan sebagainya. Ketika merasakan kegelisahan tersebut, orang-orang biasanya mencari penyelesaian dengan beragam cara. Ada yang menghibur diri melalui makanan, minuman, mendengarkan musik, pergi ke tempat-tempat yang dapat membantu menenangkan diri, dan lain-lain. Namun, rupanya penghiburan diri yang dilakukan bersifat sementara. Ketika datang lagi faktor pemicu kegelisahan, emosi-emosi negatif kembali melanda. Mengapa hal ini terjadi berulang seperti lingkaran setan? Bagaimana melepaskan diri dari kegelisahan tersebut?

David Hawkins, seorang ilmuwan, membuat sebuah penelitian tentang spektrum emosi yang ada di dalam diri manusia. Emosi-emosi tersebut dipetakan sesuai tingkatan energinya, dengan menggunakan metode kinesiologi. Hasil pemetaan tingkat energi dari emosi tersebut ia namakan Level of Consciousness (LoC).

Berbagai buku hasil penelitiannya tentang LoC telah terbit, termasuk salah satunya buku yang berjudul Letting Go, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan subjudul Kekuatan Tersembunyi Sikap Pasrah. Buku ini menggambarkan tentang pemetaan emosi pada manusia dan membedah setiap emosi tersebut sehingga dengan berpegang pada uraian di dalam buku Letting Go, para pembaca dapat belajar untuk mengenali setiap emosi yang muncul di dalam diri, lalu mulai melepaskan emosi-emosi negatif yang melekat dan menggelisahkan tersebut, hingga akhirnya naik ke tingkat ke emosi-emosi yang lebih positif.

media-2
Kegelisahan. (Sumber: viva.co.id)

 

Buku Letting Go bukanlah obat untuk menghilangkan kegelisahan. Namun, ia memberikan peta tentang emosi-emosi negatif yang menggelisahkan diri kita, dan menawarkan suatu cara untuk memasrahkan dan melepaskan diri dari emosi tersebut. Terdapat 21 bab di dalam buku ini, diawali dengan Pendahuluan di Bab 1, kemudian penjelasan tentang Mekanisme Pelepasan di Bab 2, disusul dengan penjelasan tentang Anatomi Emosi di Bab 3. Bab 4 sampai 13 berisi penjabaran tentang emosi-emosi berdasarkan tingkatan energi. Bab 14 dan seterusnya, lebih membahas hal-hal umum terkait hubungan antara emosi-emosi dengan berbagai aspek dalam kehidupan manusia, seperti kesehatan, karier, gaya hidup, kesejahteraan, dan lain-lain.

 

Mekanisme Pasrah dan Melepaskan

David Hawkins mendefinisikan Pelepasan (Letting go) sebagai suatu kemampuan untuk merasa bebas dan bahagia, tanpa tersudutkan oleh emosi atau perasaan-perasaan yang ada pada diri. Proses letting go atau melepaskan adalah suatu tindakan melepaskan apa pun yang secara sadar dilakukan, tanpa bergantung pada cap apa pun yang dibentuk oleh dunia, juga tak bergantung pada reaksi-reaksi diri terhadap cap yang distempelkan oleh dunia itu pada kita. Kondisi melepaskan adalah kondisi pasrah dan bebas sepenuhnya dari perasaan-perasaan negatif, sehingga kreativitas dan spontanitas bisa berkembang sepenuhnya tanpa perlawanan atau konflik batin.

Mekanisme pasrah atau melepaskan berbeda dengan beberapa cara yang diterapkan orang-orang selama ini untuk melepaskan diri dari emosi negatif, antara lain :

  • Penekanan (repression) atau Penahanan

Penekanan adalah sebuah mekanisme menekan suatu emosi sedalam-dalamnya, demi mengikuti suatu cap yang diciptakan dari pihak luar. Contoh: lelaki tidak boleh menangis, merupakan sebuah cap yang dibangun dan dibentuk oleh masyarakat karena selama ini menangis identik dengan kelemahan.

  • Ekspresi

Mengekspresikan emosi dilakukan dengan ucapan maupun bahasa tubuh yang dilakukan berulang-ulang, misalnya dengan menangis, membentak, memukul, dan sebagainya. Terkadang, banyak orang menghibur seseorang yang sedang bersedih dengan cara membiarkannya menangis atau berteriak. Namun, menurut David Hawkins, pengekspresian emosi ini justru menyuntikkan energi yang besar kepada pengekspresian itu sendiri. Sehingga seringkali setelah mengekspresikan emosi, seseorang menjadi kelelahan. Ketika seseorang terlalu fokus pada ekspresi perasaan tertentu, hal itu justru dapat menekan perasaan-perasaan lainnya. Dalam hal ini, David Hawkins menawarkan mekanisme pelepasan sehingga dengan demikian hanya emosi positif saja yang diekspresikan, yang justru tidak menghabiskan energi, tidak menggerogoti diri.

  • Pelarian diri

Pelarian diri dari emosi negatif umum dijumpai, antara lain dengan makan tiada henti (makan berlebihan), minum alkohol (alkoholisme), atau bekerja (workaholic) dan berolahraga terlalu keras tanpa mempedulikan keterbatasan diri.

Sebut saja ketiga cara di atas sebagai mekanisme palsu untuk melepaskan diri dari emosi negatif. Dengan lebih menyadari mekanisme palsu dan mengarahkan diri untuk memasrahkan dan melepaskan emosi-emosi negatif itu dari diri kita, maka diri akan menjadi kedamaian dan ketenangan yang sesungguhnya.

 

Kuncinya Ada di Dalam Diri Sendiri

 David Hawkins menulis, seseorang menjadi galau atau stres karena emosi-emosi yang disimpan dan ditekan dalam-dalam. Emosi yang ditekan mempengaruhi munculnya pikiran-pikiran, dan sebaliknya. Seringkali seseorang melakukan mekanisme proyeksi terhadap perasaan yang muncul. Mekanisme proyeksi membawa pikiran menimpakan kesalahan pada peristiwa atau orang lain di luar diri sebagai biang keladi munculnya sebuah perasaan. Ujung-ujungnya Anda menganggap diri sebagai korban. “Mereka membuatku marah.” “Dia membuatku sedih.” “Peristiwa itu menakutkanku.” “Kejadian itu mencemaskanku.” Padahal sesungguhnya peristiwa maupun perilaku seseorang tersebut hanya merupakan faktor pencetus munculnya emosi dalam diri.

David Hawkins mengatakan, “Apa yang ada di dalam diri mewarnai dunia kita.” Pikiran yang membawa seseorang kepada emosi tertentu, apabila tidak dilepaskan, akan mengundang dirinya untuk selalu berkali-kali mengalami emosi yang sama. “Kesiagaan untuk bereaksi dengan rasa takut bergantung pada seberapa banyak rasa takut di dalam diri, yang kemudian dipicu oleh stimulus dari luar. Semakin besar ketakutan kita simpan, semakin persepsi kita tentang dunia diubah menjadi pengharapan yang menakutkan.”

Emosi merupakan vibrasi. Vibrasi akan mentransmisikan energi tertentu, yang akan mempengaruhi orang-orang maupun peristiwa-peristiwa di sekitar. Orang-orang maupun peristiwa akan merespons transmisi energi tersebut sesuai ‘frekuensi’ yang dipancarkan. “Orang-orang yang apatis membawa energi kemiskinan ke dalam hidup mereka; dan mereka yang optimistis, yang memiliki kesadaran akan kemakmuran, membawa keberlimpahan ke dalam hidup mereka.”

media-4
Segala sesuatu di dunia ini adalah vibrasi. Pikiran dan emosi pun memiliki vibrasi. (Sumber: facebook.com)

Oleh karena itu, kunci yang utama dalam melepaskan diri dari emosi-emosi negatif terletak pada diri sendiri. Semakin diri kita masuk ke dalam diri, mengenali emosi-emosi yang ada dan melepaskannya tanpa berniat mengubah apapun, maka kita dapat mentransformasi diri menuju tingkatan emosi yang lebih tinggi. Seperti yang ditulis oleh David Hawkins di dalam bukunya, ketika emosi-emosi negatif dapat kita pasrahkan, kita akan semakin menemukan keagungan di dalam diri kita. Keagungan adalah keberanian untuk mengatasi segala hambatan, kesediaan untuk menapaki tingkatan cinta yang lebih tinggi, penerimaan pada kemanusiaan yang lebih tinggi.

 

***

 

 

Navita K. Astuti

Navita K. Astuti

Navita Kristi Astuti, sejak kuliah telah memiliki minat pada isu pemberdayaan manusia dan berbagi informasi melalui tulisan. Ia menempuh pendidikan S1di Biologi ITB (1995-2001) dan S2 di Network on Humanitarian Assistance (NOHA) di Rijksuniversiteit Groningen (2004-2005). Tahun 2001-2004, ia mengabdikan diri sebagai relawan di kamp pengungsi Pulau Timor bersama Jesuit Refugee Service. Setelah itu ia berkarya bersama Kuncup Padang Ilalang (2008-2009 di Aceh, 2011-2019 di Bandung). Sejak pertengahan April 2020, ia bergabung dengan Unpar Press.

Related Posts

[Media] Resensi Buku Simpang Belajar

[Media] Resensi Buku Simpang Belajar

[Media] Nusantara Food Biodiversity:  Pangkalan Data Kekayaan Ragam Pangan Lokal Indonesia

[Media] Nusantara Food Biodiversity: Pangkalan Data Kekayaan Ragam Pangan Lokal Indonesia

[Media] Merawat Ingatan Rasa Sunda melalui buku Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték

[Media] Merawat Ingatan Rasa Sunda melalui buku Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték

[Media] Menerawang Masa Depan Pertanian dari Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi

[Media] Menerawang Masa Depan Pertanian dari Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 4
Total Visitors: 94834

Visitors are unique visitors