[Editorial] Pro:Aktif Online No. 22/April 2019

Salam Transformasi!
Pro:aktif Online kembali hadir di tengah pembaca sekalian. Dalam edisi kali ini, KAIL membawakan tema “Ekonomi Baru: Peluang dan Tantangannya”. Ekonomi secara bahasa berakar dari Bahasa Yunani “oikonomia” yang berarti seni mengatur rumah tangga. Mengatur rumah tangga di sini, erat kaitannya dengan pengaturan sumberdaya, yang bertujuan agar manusia memperoleh kesejahteraan. Namun demikian, upaya manusia untuk memperoleh kesejahteraan tersebut bergeser hingga akhirnya sistem ekonomi dipandang sebatas pada perdagangan, hal-hal terkait dengan uang, maupun usaha eksploitasi sumber daya materi.
Ekonomi di masa kini mengalami bentuk baru yang ditopang oleh kemajuan di bidang teknologi informasi atau komunikasi atau yang lebih sering kita kenal dengan istilah dikenal sebagai ekonomi digital. Ekonomi digital ini menjadi menarik karena sifatnya yang mengganggu (bahasa kerennya disrupt) semua bentuk praktik ekonomi konvensional. Hampir semua aspek kehidupan kita sehari-hari pun terpapar oleh teknologi digital. Dalam abad yang disebut sebagai abad disrupsi (the age of disruption), diktum yang beredar adalah terdigitalisasi atau terlindas zaman.
Begitu masifnya dampak yang ditimbulkan oleh penemuan-penemuan teknologi ini, beberapa pihak bahkan sampai menyebutkan bahwa kita tengah berada di dalam sebuah awal dari masa yang baru. Sesuatu yang oleh beberapa pihak disebut sebagai revolusi industri 4.0. Dengan penemuan teknologi-teknologi baru di bidang informasi dan komunikasi seperti IoT, AI, sampai Blockchain, revolusi industri ini akan ditandai oleh terkoneksinya semua hal, dari mulai manusia, benda, hingga komputer. Hal inilah yang membuat Klaus Schwab, salah satu co-founder dari World Economic Forum dan juga pemopuler istilah ini, mendefinisikan revolusi industri 4.0 sebagai mengaburnya batas-batas antara dunia digital, dunia fisik, serta dunia biologis.
Merasuknya teknologi informasi dan komunikasi di semua lini kehidupan pun membawa dampak yang cukup signifikan, terutama bagi ekonomi. Dengan semua aspek kehidupan yang kini dapat terhubung dengan internet, jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah nilai dalam aktivitas ekonomi pun dapat dipangkas menjadi sangat kecil. Bahkan Jeremy Rifkin, seorang ekonom dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa kita kini berada di dalam zero marginal cost society, sebuah masyarakat dimana marginal cost, biaya yang ditambahkan kepada biaya total dalam memproduksi sebuah produk (jasa atau barang) karena diproduksi secara massal (lebih dari satu), mulai jatuh mendekati angka nol.
Namun hilangnya biaya jarak dan waktu tersebut juga mengakibatkan hal yang tidak dapat kita duga. Kita merasakan bahwa roda ekonomi berputar begitu cepat. Hal ini membuat apa yang kita kira sebagai praktik umum ekonomi di masa kini dapat berubah hanya dalam waktu satu pekan bahkan kurang. Hal ini membuat kita merasa kebingungan dan tidak dapat menerka, sesungguhnya kemana bergeraknya roda ekonomi digital ini? Apakah tengah membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, atau sebaliknya?
—-
Untuk memahami hal tersebut, maka pada Pro:aktif kali ini, Angga Dwiartama akan mengajak kita secara bersama-sama untuk memahami apa makna sesungguhnya dari kata revolusi industri 4.0 pada Rubrik PIKIR. Pada Rubrik ini, Angga akan mengupas secara tuntas apa sesungguhnya yang disebut dengan revolusi industri 4.0 itu, bagaimana dia berdampak kepada hidup kita sehari-hari, hingga bagaimana kita seharusnya menyikapi kata ini dengan bijak.
Setelah itu, pada Rubrik MASALAH KITA, Achmad Assifa akan mengajak kita memahami bagaimana ekonomi digital merubah struktur dasar aktivitas ekonomi kita menjadi sebuah model ekonomi yang disebut sebagai Gig Economy. Gig Economy adalah sebuah model ekonomi dimana hubungan antara pekerja dan majikan bersifat fleksibel dalam hal ruang dan waktu. Hal ini dimungkinkan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sendiri yang membuat kita dapat bekerja kapan saja dan dimana saja. Meskipun memberikan banyak kemudahan baik bagi para pekerja, yang dicirikan oleh mulai menjamurnya jenis pekerja lepasan (freelancer), menurut Sifa model ekonomi yang dipopuleri oleh Uber dan AirBnB ini  ternyata menghasilkan beragam permasalahannya sendiri.
Sementara untuk Rubrik OPINI, Pro:aktif kali ini akan diisi oleh M. Sena Luphdika yang akan membahas mengenai akar permasalahan dari ketimpangan dalam sistem ekonomi yang berjalan saat ini. Dari sana Sena akan membahas mengenai salah satu kemungkinan jalan keluar yang ternyata telah berada di Indonesia cukup lama, yaitu model ekonomi koperasi. Di sini juga Sena akan membahas mengapa koperasi itu menjadi salahsatu jalan keluar yang paling mungkin serta contoh-contoh nyata keberhasilan dari model koperasi di seluruh dunia.
Pada Rubrik TIPS kali ini kita akan mendapati bagaimana tips dan trik untuk membuat pikiran yang lebih sehat melalui teknik KonMari dari Aristogama. Teknik yang dipopulerkan oleh Marie Kondo ini terbukti menjadi sangat penting karena di zaman yang serba cepat dan baru ini, manusia semakin berperilaku konsumtif dan sangat bergantung produk-produk tertentu. Teknik KonMari mampu menjernihkan manusia dari segala perilaku konsumtif dan kemelekatan terhadap produk tertentu.  Gamma, menceritakan melalui pengalamannya dalam mempelajari teknik KonMari, berbagi kepada kita bahwa ternyata dengan secara sadar menyadari “kemelekatan” psikologis yang ada pada diri kita terhadap barang-barang kita, kita secara perlahan juga dapat mulai kembali menjernihkan pikiran kita dari segala kecenderungan kita untuk selalu membeli atau berbelanja. Kesadaran ini tentu merupakan langkah awal menuju pada kemandirian ekonomi.
Pada Rubrik PROFIL, Jeremia Manurung mewawancarai Sena Luphdika yang merupakan salah satu co-founder serta CEO dari perusahaan start-up digital bernama Meridian.id yang juga merupakan seorang pegiat koperasi. Dalam wawancaranya kali ini, Jeremia memperlihatkan kepada kita bagaimana perjalanan Sena yang tidak puas dengan ketidakadilan yang terjadi dalam dunia start-up digital dan sistem ekonomi secara umum membawanya kepada ide mengenai koperasi. Tidak saja terbatas pada sekedar ide, dalam wawancaranya kali ini juga Jeremia memperlihatkan bagaimana Sena mulai menerapkan ide mengenai koperasi tersebut menjadi sebuah aksi nyata yang bisa dimulai dari hal yang kecil yang berada di sekitar kehidupan kita sehari-hari.
Rubrik MEDIA akan dibawakan oleh Fransiska Damarratri yang akan membahas bagaimana sesungguhnya praktik di belakang sistem ekonomi yang menghasilkan krisis 2008 di Amerika Serikat dalam film The Big Short. Dalam reviewnya kali ini Siska akan mengulas bagaimana film ini menunjukan kepada kita cara kerja sesungguhnya dari mesin ekonomi yang berjalan di dunia pada umumnya dan Amerika Serikat khususnya. Selain itu Siska juga membahas bagaimana praktik-praktik di belakang sistem ini berdampak secara negatif terhadap ekonomi serta kehidupan kita sehari-hari.
Pada Rubrik JALAN-JALAN kali ini, kita akan dibawa oleh Sally Anom melalui pengalamannya untuk berkunjung ke Suku Baduy Dalam. Dalam perenungannya yang mendalam ini mengenai cara hidup masyarakat Baduy Dalam, Sally memberikan kita perspektif yang segar mengenai cara hidup masyarakat tersebut dalam melakukan praktik ekonomi. Di sana Sally menceritakan bagaimana kegiatan ekonomi dari suku Baduy dalam yang bertumpu kepada azas hidup secukupnya serta  menjaga kelestarian alam sehingga dalam kegiatan transaksi mereka jarang sekali untuk menggunakan uang. Salah satu perspektif yang segar yang dapat membantu kita untuk merenungi bagaimana praktik ekonomi alternatif yang mungkin bagi sistem yang berjalan sekarang ini.
Sebagai penutup, pada Rubrik RUMAH KAIL kali ini Any Sulistyowati akan membagikan bagaimana pengalaman KAIL dalam membangun kemandirian ekonomi melalui kegiatan berkebun di program Hari Belajar Anak atau disingkat HBA. Melalui kegiatan berkebun di HBA, KAIL berusaha untuk membangun kemandirian ekonomi yang dimulai dengan memupuk kesadaran bahwa berkebun dan mengolah pangan dari hasil kebun memampukan mereka untuk membuat makanan sendiri dan tidak bergantung dari makanan yang dibeli dari luar. Kemandirian dari sisi pangan ini diharapkan menjadi awal dari kemandirian ekonomi. Kegiatan ini diperkenalkan kepada anak-anak, dimana harapannya sehingga ketika mereka dewasa mereka akan mulai bisa memulai mempraktekkan kemandirian tersebut di rumah tangga masing-masing.
—-
Akhir kata, keseluruhan artikel dalam edisi ini diharapkan dapat menginspirasi kita semua terutama dalam hal (1) memahami bagaimana sesungguhnya roda ekonomi yang ditunjang oleh perkembangan teknologi digital informasi dan komunikasi ini bekerja, manfaat, peluang, serta tantangannya (2) mengimajinasikan kemungkinan-kemungkinan dari bentuk-bentuk praktik ekonomi yang lain; serta yang terakhir (3) mengambil tindakan-tindakan nyata yang dapat membuat praktik kehidupan yang ditunjang oleh bentuk-bentuk ekonomi baru tersebut ke arah kesejahteraan masyarakat secara lebih luas dan selaras alam.
Semoga dengan diterbitkan Pro:aktif edisi baru ini kita bersama dapat lebih memahami lagi perubahan besar apa yang sesungguhnya tengah terjadi di antara kita semua yang diakibatkan oleh teknologi digital dan dapat mengambil tindakan nyata sehingga kehidupan manusia ke depannya tidak berjalan menuju ke arah yang lebih buruk melainkan berjalan ke arah yang lebih selaras dengan manusia dan alam.
Tim Editor:
Kukuh Samudra
Okie Fauzi Rachman
Navita Kristi Astuti
editor

editor

Related Posts

[Editorial] Berdamai Dengan Sesama

[Editorial] Berdamai Dengan Sesama

[Editorial] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Editorial] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Editorial] Proaktif Online No. 24/Desember 2019

[Editorial] Proaktif Online No. 24/Desember 2019

[Editorial] Pro:Aktif Online No. 23/ Agustus 2019

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 3
Total Visitors: 851

Visitors are unique visitors