[Tips] Perubahan Mental Model, Awal Transformasi Kehidupan

[Tips] Perubahan Mental Model, Awal Transformasi Kehidupan

Dalam pelatihan Cara Berpikir Sistem, ada satu materi yang disebut dengan Analisis Model Gunung Es (Iceberg Model). Analisis Model Gunung Es adalah sebuah cara untuk kita untuk masuk semakin mendalam ke dalam satu isu, masalah atau fenomena. Sebuah gunung es yang terletak di lautan biasanya terdapat bagian yang mengambang di permukaan laut dan bagian yang terletak di bawah laut. Biasanya bagian yang terletak di atas permukaan laut jauh lebih kecil dari pada bagian yang terletak di dalam laut. Ibarat gunung es, persoalan atau fenomena yang kita lihat atau rasakan dengan panca indera hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan persoalan tersebut. Untuk itulah, untuk menyelesaikan persoalan, kita perlu menyelam dan mendalami persoalan-persoalan tersebut sehingga kita bisa melihat dan memahami apa yang tidak kelihatan, tidak terasa atau tertangkap dengan panca indera sebelumnya.

 

tips1-2
Sumber: http://donellameadows.org/wp-content/userfiles/iceberg-model.pdf.

Mengambil metafora gunung es, di dalam analisis sistem, proses memahami persoalan atau fenomena mengikuti tahap-tahap berikut. Di lapisan yang paling atas, kita akan menemukan kejadian (event). Kejadian adalah hal-hal yang bisa kita tangkap dengan mudah dengan panca indera. Sebagai contoh, petani gagal panen adalah sebuah kejadian. Ketika gagal panen, petani mengalami kerugian. Jumlah kerugiannya dapat kita hitung. Kita juga bisa mengukur tingkat kegagalannya, seberapa parahkah? Kita juga dapat menghitung jumlah petani yang mengalami kegagalan panen, juga luasan sawah atau kebun yang rusak atau mengalami kegagalan. Semua itu adalah contoh kejadian.

Langkah kedua untuk mendalami fenomena adalah dengan memahami pola kejadian. Di dalam Cara Berpikir Sistem, ini disebut sebagai memahami trend. Salah satu pola kejadian atau trend yang banyak diperhatikan dalam analisis sistem adalah pola kejadian berdasarkan waktu. Pola ini biasanya digambarkan dengan behaviour overtime diagram (BoT). Di dalam kasus persoalan petani, contoh pola kejadian berdasarkan waktu adalah, kita memperhatikan apakah persoalan gagal panen petani itu terjadinya secara rutin? Kapan saja terjadinya? Bagaimana tingkat keparahannya dari dulu sampai sekarang? Berapa banyak kerugian petani dari waktu ke waktu?

Setelah kita memahami pola kejadian, kita perlu masuk lebih dalam lagi ke pemahaman tentang mengapa pola kejadian tersebut terjadi? Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkannya? Bagaimana faktor-faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain? Pola hubungan sebab akibat banyak faktor yang terkait dengan satu kejadian disebut dengan struktur sistem. Memahami struktur membantu kita memahami fenomena/persoalan dengan lebih mendalam. Saat kita memahami struktur persoalan petani gagal panen, kita bertanya mengapa petani gagal panen? Apa sajakah faktor-faktor penyebab kegagalannya? Bagaimana faktor-faktor tersebut berhubungan satu sama lain?

Sebagai contoh di dalam kasus petani yang gagal panen, struktur persoalannya mungkin digambarkan dalam causal loop diagram (CLD) berikut.

 

tips2-2
Causal Loop Diagram Kegagalan Panen Petani

Dalam diagram tersebut kegagalan panen disebabkan oleh serangan hama. Serangan hama parah terjadi ketika musuh alami hama tersebut sudah sangat berkurang sementara hama yang ada sudah kebal atau resisten terhadap pestisida yang digunakan. Keduanya disebabkan oleh penggunaan pestisida untuk pengendalian hama. Hama perlu dikendalikan dengan tujuan peningkatan produksi yang dipengaruhi oleh kebutuhan untuk peningkatan pendapatan. Kebutuhan peningkatan pendapatan disebabkan oleh pendapatan petani yang rendah yang tidak cukup untuk pemenuhan kebutuhan hidup petani. Sementara itu, peningkatan serangan hama yang mengakibatkan kegagalan panen petani menyebabkan panen petani yang bisa dijual berkurang banyak yang tentu saja akan mengurangi pendapatan petani. Dari cerita ini, kita dapat menyadari adanya sebuah mekanisme yang sedang bekerja dengan pola hubungan sebab akibat tertentu yang membentuk lingkaran setan (R1b). Pola hubungan sebab akibat ini disebut struktur sistem. Struktur lain yang bekerja di dalam kasus ini adalah R1a, yaitu hubungan antara pendapatan dan penggunaan pupuk kimia. Dalam kasus penggunaan pupuk kimia, penggunaan pupuk kimia akan meningkatkan jumlah panen yang meningkatkan pendapatan. Tetapi suatu saat, pada saat tanah tidak lagi subur meskipun ditambah pupuk kimia, maka loop ini sudah tidak berjalan lagi. Loop lain yang juga berjalan dalam kasus ini terkait dengan harga pestisida (R2b) dan pupuk kimia (R2a). Peningkatan harga pupuk kimia dan pestisida kimia akan meningkatkan biaya produksi yang mengurangi pendapatan petani.

Setelah memahami struktur, kita dapat membuat analisis sistem dan menentukan leverage points dari sistem. Masalahnya mengintervensi leverage point di level struktur memang menyelesaikan masalah, tetapi tidak mengubah struktur persoalan tersebut. Sebagai contoh, di kasus petani gagal panen, kita dapat melakukan intervensi terhadap sistem sebagai berikut: menurunkan harga pupuk kimia dan harga pestisida. Dengan melakukan kedua hal tersebut pendapatan petani mungkin memang meningkat, tetapi struktur persoalannya tetap sama.

Untuk membuat perubahan mendasar kita perlu menyelam lebih dalam lagi, yaitu memahami mental model yang membentuk struktur tersebut. Apa pola pikir di balik struktur persoalan atau fenomena yang kita hadapi? Jika kita memahami pola pikir tersebut dan mengubahnya, maka sebuah perubahan radikal dapat terjadi di dalam sistem.

Di dalam kasus petani gagal panen, kita perlu melihat asumsi yang mendasari pilihan petani menggunakan pestisida kimia yang dalam jangka panjang secara struktural dapat menyebabkan kegagalan panen. Kalau kita menggali lebih lanjut mental model yang bekerja di dalam struktur tersebut adalah asumsi (keyakinan) bahwa peningkatan produksi hanya dapat diperoleh dengan menggunakan input kimia, baik pestisida maupun pupuk kimia. Para petani tidak percaya bahwa tanpa pupuk kimia dan pestisida kimia mereka dapat menghasilkan produksi yang melimpah.

Apabila asumsi ini diubah, misalnya petani yakin bahwa tanpa penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia petani tetap bisa menghasilkan produksi yang melimpah; maka struktur persoalannya akan berubah. Ketika petani tidak lagi menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimia, maka semua indikator yang terkait pupuk kimia dan pestisida kimia menjadi hilang atau tidak berlaku. Perubahan mental model akan menyebabkan perubahan struktur. Pola hubungan yang terjadi akan berubah. Ketika pola hubungan berubah, maka terjadi perubahan struktur. Saat terjadi perubahan struktur ketika itulah proses transformasi sedang terjadi.

Di titik ini, kita sudah menyadari bahwa perubahan mental model adalah awal dari sebuah proses transformasi. Persoalan selanjutnya adalah apakah proses transformasi berjalan ke arah yang diinginkan? Ini merupakan tantangan tersendiri. Tantangan pertama adalah kita perlu merumuskan dengan jelas realitas baru yang dicita-citakan. Realitas baru ini kemudian diperiksa, mental model seperti apakah yang dapat mendorong munculnya realitas baru ini. Mental model yang cocok untuk proses transformasi ke arah realitas baru yang diinginkan perlu dicari/dipilih. Proses pencarian dan pemilihannya seringkali tidak sederhana. Mental model yang baru ini perlu diyakini oleh banyak orang yang terlibat dalam proses transformasi yang kemudian dikonkretkan dalam pilihan-pilihan indikator yang dianggap penting dan hubungan-hubungan baru antara indikator-indikator tersebut dibangun. Ketepatan antara mental model dipilih dengan realitas baru yang diinginkan akan membantu kita untuk merancang proses transformasi tersebut.

***

 

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Rumah KAIL] Seeds of Change – Berbagi Cerita Tentang Komunitas Kebun Kota di China dan Indonesia

[Rumah KAIL] Seeds of Change – Berbagi Cerita Tentang Komunitas Kebun Kota di China dan Indonesia

[Pikir] Kontrol Emosi, Jaga Diri : Belajar dari Kaum Stoa

[Pikir] Kontrol Emosi, Jaga Diri : Belajar dari Kaum Stoa

[JALAN-JALAN] Membangun Mimpi lewat Membaca

Editorial Pro:aktif Online Edisi Agustus 2016

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 3
Total Visitors: 94833

Visitors are unique visitors